Polisi Buru Pembunuh Pelajar SMP

PRAYA-Kematian Uswatun Hasanah, pelajar 14 tahun, asal Dusun Patra Desa Mangkung Kecamatan Praya Barat, masih misterius.

Polisi sendiri masih menunggu hasil otopsi jenazah korban dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda NTB di Mataram. Hasil penelusuran koran ini, Uswatun Hasanah diduga kuat korban pembunuhan. Bahkan, pembunuhannya dilakukan secara sadis.

Korban diduga diperkosa terlebih dulu, baru kemudian dihabisi. Dugaan ini diperkuat dengan sejumlah luka yang terdapat di sekujur tubuh korban. Seperti luka memar di bagian pipi kiri korban, luka lubang kecil pada dahi, luka lecet pada bahu kiri dan kanan, serta kondisi tubuh korban ditemukan tanpa busana. ‘’Dugaan sementara kami korban diperkosa dulu baru kemudian dibunuh,’’ ungkap salah seorang warga Mangkung, Wahi kepada koran ini, kemarin (13/9).

Namun, informasi ini dimentahkan tetangga korban, Majrun yang juga anggota DPRD Lombok Tengah. Majrun menuturkan, korban diduga kuat meninggal dunia akibat tenggelam di waduk tempat ditemukan mayat korban. Keterangan Majrun ini dikuatkan dengan sejumlah saksi-saksi.

Waktu itu, tutur Majrun, sekitar pukul 16.00 Wita, Jumat (9/9). Korban bersama empat orang teman sebayanya (semuanya perempuan) mandi di waduk itu. Keempat orang temannya ini merupakan anak yang lebih kecil dari pada korban. Yakni, kelas 1, 3, 4, dan 5 SD.

Sejak empat hari sebelumnya, korban selalu ingin mengajak teman-temannya mandi di waduk itu. Namun, hari itu baru kesampaian. Setibanya di waduk itu, korban langsung nyemplung dan kemudian berhenti mandi. Saat itulah, korban meminta handuk kepada teman-temannya lalu diberikan.

Namun, korban tiba-tiba terpeleset dan jatung nyemplung ke waduk itu. Karena tidak bisa berenang, korban langsung tenggelam di waduk itu. Sementara teman-temanya yang lebih kecil tidak bisa berbuat banyak.

Setelah memastikan tidak bisa menolong teman-temannya, keempat anak ini kemudian pulang dengan rasa ketakutan. Tapi, mereka tidak berani bercerita tentang tenggelamnya teman mereka. Sebelum itu, sore harinya keempat anak ini secara tak sengaja bernyanyi-nyanyi (lawas) dengan nada sedih. ‘’Anak-anak itu waktu itu bernyanyi, tadi teman kita lima. Sekarang tinggal empat, satunya lagi tinggal di bendungan/waduk,’’ tutur Majrun mengikuti cerita anak tersebut yang tak lain adalah cucu dan anaknya.

Tetapi, warga belum juga sadar dengan nyanyian keempat anak tersebut. Nah, pagi harinya dua orang warga setempat bernama Amaq Sul dan Amaq Jun menemukan mayat tersebut, ketika hendak pergi mencari rumput. Merekalah yang kemudian berteriak meminta tolong hingga kemudian jenazah korban diketahui. Di mana malam harinya, warga sekampung sibuk mencari korban.

Majrun sendiri baru sadar dengan nyanyian empat teman korban, setelah diberi tahu warga setempat yang mendengar nyanyian itu. Barulah keempat anak itu bercerita setelah ditanya warga setempat. Bahwa benar, mereka berlima pergi mandi ke waduk itu.

Sebelumnya, teman-temannya sempat bertanya kepada korban. ‘’Kenapa kamu ingin sekali mandi di waduk,’’ dijawab korban ‘’Ingin saja sudah, karena saya sering dimarah nenek saya,’’ kenang Majrun mendengar cerita keempat teman korban.

Maklum, kata Majrun, korban diasuh neneknya Inaq Mutaqin selama ini. Ayah berada di Sekotong Lombok Barat, sementara ibunya berada di Malaysia. ‘’Saya tahu cerita ini karena dua orang teman mereka itu adalah cucu saya dan satu lagi anak saya,’’ ungkap Majrun.

Ada dugaan korban diperkosa? Majrun mengaku memang tidak bisa menapikan jika ada isu seperti itu. Juga bisa terjadi kepada siapa saja. Tapi, setahunya tidak pernah terjadi hal seperti itu selama ini di wilayahnya itu.

Terlebih, korban diketahui sebagai anak polos dan masih lugu selama ini. Korban juga merupakan anak penurut kepada nenek yang mengasuhnya selama ini. Jika kemudian terdapat luka pada tubuh korban, kemungkinan wajar karena di waduk itu ada beronjong batu dan besi. Bisa saja tubuh korban luka akibat beronjok atau tanaman yang ada di waduk itu. Kemudian ditemukannya tubuh korban dalam keadaan telanjang, karena korban waktu sedang mandi ‘’Jadi keyakinan saya kematiannya tidak ada unsur lain, apalagi pemerkosaan. Tapi kalau pun demikian, nanti saja kita tunggu hasil visum/otopsinya,’’ tutupnya.

Sementara Kasatreskrim Polres Lombok Tengah, AKP Arjuna Wijaya yang dikonfirmasi mengaku, pihaknya belum berani memastikan penyebab kematian Uswatun Hasanah. Polisi saat ini sudah membawa mayat koban ke RS Bhayangkara untuk diotopsi. Polisi juga masih menunggu hasil otopsi untuk menentukan, apakah korban dibunuh atau bukan.

Yang jelas, polisi masih melakukan pengembangan kasus itu dengan memeriksa sejumlah saksi-saksi. Termasuk keluarga korban untuk mengetahui kemungkinan penyebab kematian korban. ‘’Kami masih menunggu hasil otopsinya. Kami belum bisa memastikan siapa pelakunya, hanya saja dari beberapa keterangan dari keluarga korban, kita akan kembangkan guna mengusut siapa pelaku utama pembunuhan ini,” ungkapnya.

Ditambahkan Kapolsek Praya Barat, AKP Gede Aryadana mengatakan, tim dokter RS Bhayangkara sudah melakukan otopsi. Hanya saja, hasilnya baru bisa diserahkan setelah seminggu dilakukan pemeriksaan laboraturim dan pengkajian. ‘’Sekarang jenazah korban sudah dibawa pulang dan sudah dimakamkan setelah diotopsi,’’ katanya.

Aryadana mengaku, pihaknya menerjunkan anggota dalam pemakaman tersebut guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. ‘’Selama pemakaman, tidak ada gelagat yang mencurigakan mengingat keluarga korban sudah menerima kepergian almarhumah,’’ tambahnya.

Sementara Kepala Desa Mangkung, Lalu Samsul Rijal mengaku, pihaknya sudah menyerahkan masalah tersebut ke aparat penegak hukum. (cr-ap/dal)