Penyebab Kematian Santriwati Masih Misteri, Polisi akan Usut Tuntas

PETI JENAZAH: Peti jenazah santriwati Nurul Izzati dimasukkan ke dalam mobil ambulans, yang akan membawanya pulang ke kampung halaman untuk dimakamkan.(RASYID/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Dugaan penganiayaan terhadap Nurul Izzati (13), santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Aziziyah, Gunungsari, Lobar, dari sesama santriwati setempat, masih menjadi misteri. Satreskrim Polresta Mataram masih mengumpulkan sejumlah alat bukti, termasuk akan memanggil pihak Ponpes.

Santriwati kelas 7 ini menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu pagi (29/6), sekitar pukul 10.30 WITA, setelah mengalami koma beberapa hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Raden Soedjono Selong, Lotim.
Pihak keluarga kemudian membawa jenazah korban ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda NTB untuk dilakukan autopsi.

“Kami masih menunggu hasil tertulis dari rumah sakit yang mengeluarkan hasil visum dan autopsi,” kata Kasatreskrim Polresta Mataram, Kompol I Made Yogi Purusa Utama, Sabtu petang (29/6).
Pihak Satreskrim Polresta Mataram masih menyelidiki dugaan penganiayaan ini, setelah menerima aduan dari ayah korban, Mahmud H Umar, pada Sabtu (22/6) lalu.

Sebanyak empat saksi telah diminta keterangan, yaitu ayah korban, ibu dari teman korban, sopir travel yang menjemput korban ke Ponpes, kemudian dibawa ke rumah ibu teman sebangku korban dan kakak dari rekan korban. “Aduan itu sudah kami terbitkan laporan polisi,” kata Yogi.

Ditegaskan, kasus dugaan penganiayaan yang menimpa santriwati asal Desa Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini akan diproses hingga tuntas. “Kasus ini tetap akan kita proses. Kita berharap semua ini gamblang nantinya,” tegasnya.

Sementara itu, dokter forensik RS Bhayangkara masih mengkaji dan menganalisa terlebih dahulu apa yang didapatkan dari mengautopsi korban. “Hasil (kajian dan analisa) itu nanti akan kami serahkan ke penyidik,” ungkap Kaur Dokpol Rumah Sakit Bhayangkara, Iptu I Nyoman Madiasa.
Terpisah, ayah kandung Nurul Izzati, Mahmud H Umar mengungkap kondisi anaknya saat masih dirawat di ruang ICU RSUD dr Raden Soedjono. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, di kepala anaknya ditemukan adanya sebuah benjolan.

Namun apa penyebabnya belum diketahui pasti. “Ada sesuatu di kepala anak ini. Iya (ada) benjolan. Sudah di scan tapi hasilnya belum ada. Kita belum tahu, hasil scan-nya belum keluar,” ungkap Mahmud Selasa, (25/6) lalu.
Menyinggung soal pernyataan pihak Ponpes yang menyebut ada benjolan atau jerawat di hidung anaknya, Mahmud merasa heran.

Karena selama ini Nurul Izzati tidak pernah mengeluh sakit di bagian hidungnya. “Saya kurang tahu itu (adanya benjolan pada hidung). Cuma kita sempat komunikasi sebelum sakit, ananda kami hanya batuk pilek. Kata pihak Ponpes ada bisul? Tapi nyatanya ada benjolan di kepala kan,” ujarnya.

Baca Juga :  Kasus Korupsi yang Jerat Wabup KLU Potensi SP3

Mahmud juga mengaku pihak Ponpes Al-Aziziyah pernah datang ke RSUD dr Raden Soedjono Selong untuk mengajak persoalan tersebut diselesaikan secara kekeluargaan. Namun permintaan pihak Ponpes itu ditolak. “Iya begitu (minta damai). Saya nggak mau,” aku Mahmud.

Ibu korban, Raudah (50) mengatakan sebelum anak tunggalnya itu koma, dia sempat menyampaikan ke pihak keluarga kalau dirinya telah dipukul. “Awalnya kami berpikir mungkin masalah lambung, tapi lambungnya oke. Kalau dipukul kami baru tahu, lebih jelasnya hari Minggu (23/6) kemarin, ketika bapaknya kasih tau kalau dia dipukul tiga orang,” ceritanya saat ditemui di RS Bhayangkara, Sabtu siang (29/6).

Namun sayang, lanjut Raudah, anaknya itu tidak sempat membuka identitas tiga orang yang memukulnya. “Dia sempat bicara soal itu sebelum koma. Tapi tidak sempat memberitahu siapa, dan dimana itu tidak dikasih tau,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Raudah tiba di RSUD dr Raden Soedjono Selong Jumat (28/6), setelah menempuh perjalanan dari Kabupaten Ende, NTT Kamis pagi (27/6). Ia sempat bertemu dan mengajak anak tunggalnya itu mengobrol.

Tapi sayang, kondisi korban yang sudah dipasangkan alat ventilator tidak merespon. “Sejak pertama itu (bertemu) dia (Nurul Izzati) tidak ada respon dan sudah kritis. Dia dibantu dengan alat, mulai dari ventilator dan lainnya,” sebutnya.

Disampaikan Raudah, anaknya sering menelpon keluarga ketika masuk semester dua, dan korban selalu minta pulang. “Setiap kali menelpon sekali seminggu selalu minta pulang, alasannya air kamar mandinya kotor,” ungkapnya.

Korban tidak pernah mengatakan alasannya minta pulang lantaran karena sakit ataupun mendapatkan kekerasan dari orang lain. Pihak keluarga mengetahui korban sakit, ketika mendapat kabar dari anak sepupunya yang juga mengenyam pendidikan di Ponpes Al-Aziziyah.

“Akhirnya besoknya saya WhatsApp penjaga asrama, yang mengatakan (Nurul Izzati) baik-baik saja,” katanya.
Termasuk soal benjolan atau sejenis jerawat yang sedang dialami korban, penjaga asrama tidak memberitahunya. Ia hanya diberitahukan jika anaknya sedang sakit, dan sudah dibawa berobat ke klinik. “Cuma itu saja, tidak dijelaskan sakitnya kenapa,” ujarnya.

Terkait adanya dugaan penganiayaan, dibantah Ponpes Al-Aziziyah. Herman Surenggana selaku kuasa hukum Ponpes Al-Aziziyah, Kamis (27/6) mengatakan telah mengecek CCTV, dan memeriksa sejumlah orang.

Hasilnya, dugaan penganiayaan yang dituduhkan itu tidak pernah terjadi.
“Dari hasil cek kami di pondok, semua ustazah, santriwati teman Nurul Izzati sekamar, bibi dapur tempat dia sering cerita, CCTV yang ada di sini juga sudah kami periksa semua. Tidak pernah ada kejadian (dugaan penganiayaan). Kami juga bingung dengan kejadian seperti itu,” ucap Herman.

Baca Juga :  Lalu Mesir: Tak Ada Figur Sekomplet Sukiman Azmy

Menurutnya, apabila ada keributan atau perkelahian sesama santri maupun dengan tenaga pengajar dan pengasuh asrama, pihak Ponpes pasti mengetahui. “Bukti adanya dugaan penganiayaan itu tidak ada.

Kalau pun ada, pihak pondok pasti mengetahuinya,” ujar Herman.
Pihak Ponpes juga sudah menelusuri aktivitas santriwati Nurul Izzati sebelum akhirnya menjalani perawatan medis di RSUD dr. Raden Soedjono. “Kami telusuri aktivitasnya dari tanggal 12 sampai 14 Juni 2024,” ucapnya.

Pada 12 Juni 2024 itu santriwati Nurul Izzati mengeluhkan benjolan nanah seperti jerawat pada bagian hidung. Kemudian rekannya sempat menyarankan untuk berobat ke klinik. “Tetapi saran itu tidak dihiraukan, malah santriwati kami ini dilihat temannya menusuk benjolan itu dengan jarum pentul,” ujar dia.

Kemudian esok harinya, pada Kamis sore (13/6), santriwati tersebut mengeluh sakit demam, dan benjolan nanah pada hidungnya itu sudah nampak pecah dan berlubang. “Dokter kami waktu itu langsung cek, santriwati ini dibawa ke klinik kami, dikasih obat sesuai keluhan sakit. Keluhannya itu demam dan bengkak di bawah mata,” kata Herman.

Karena kondisinya tak kunjung membaik, pihak Ponpes kemudian menghubungi orang tua Nurul Izzati. “Jadi setelah keluarganya diberitahu kondisi kesehatan santriwati ini, pamannya atau wali dari santriwati kami ini menjemputnya Jumat sore (14/6),” ujarnya.

Kondisi Nurul Izzati yang kemudian koma ini membuat pihak Ponpes merasa terkejut. “Ketika dijemput (korban masih berjalan), tapi kondisinya begini (koma) sekarang, kami juga kaget. Tiba-tiba santriwati kami ini sakit dalam keadaan parah. Kami cek juga sedang di rawat di rumah sakit. Keadaan santriwati tiga hari itu sangat berbeda dengan kondisi pada saat dirawat,” tandasnya.

Pembina Asrama Putra Ponpes Al-Aziziyah, Amirudin mempersilakan petugas untuk mengusut dugaan penganiayaan tersebut hingga tuntas. “Kami sangat terbuka sejak awal untuk itu,” kata Amirudin saat ditemui di RS Bhayangkara, Sabtu petang (29/6).

Menurutnya, semua orang berkewajiban mencari titik terang dan kebenaran atas dugaan penganiayaan tersebut, tanpa terkecuali. “Manakala kebenaran sudah datang, sesungguhnya kebenaran itu datang dari Tuhanmu, dan kita tidak boleh ragu. Ikuti kebenaran itu,” tandasnya.
Selesai dilakukan autopsi, jenazah korban akan dibawa ke kampung halamannya untuk dimakamkan.

Terlihat sejumlah pihak Ponpes melaksanakan salat jenazah di RS Bhayangkara, sebelum diberangkatkan. Pemulangan jenazah korban juga diiringi isak tangis dari pihak keluarga yang datang ke Rumah Sakit Bhayangkara. (ami/sid)

Komentar Anda