Ribuan Penenun Meriahkan ‘Begawe Nyesek’

TINJAU: Dektur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian dan Perdagangan RI, Gati Wibawaningsih saat melihat masyarakat yang sedang menenun (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA-Perayaan Festival Begawe Nyesek Desa Sukarara Kecamatan Jonggat Lombok Tengah, berlangsung meriah, kemarin (26/7).

Festival yang diadakan sekali setahun itu dihadiri ribuan penyesek dari Desa Sukarara. Festival itu juga dibuka langsung Direktur Janderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian dan Perdagangan RI, Gati Wibawaningsih dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutanya Gati Wibawaningsih menyampaikan, perajin tenun merupakan ciri khas yang dimiliki Desa Sukarara. Ciri khas ini akan menjadikan desa tersebut maju kedepanya. Bahkan, akan  menjadi penyangga terhadap pariwisata di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Resort. “Kami  meminta kepada seluruh perajin tenun songket yang ada di daerah ini agar terus meningkatkan kualitas hasil produksi agar lebih diminati lagi oleh masyarakat, khususnya wisatawan mancanegara. Karena cepat atau lambat, Desa Sukarara ini akan banyak dikunjungi wisatawan dalam negeri maupun luar negeri,” ungkapnya memberikan sambutan.

Disampaikan, nantinya wisatawan menjadikan desa tersebut sebagai salah satu sentral untuk mencari kain songket hasil kerajinan tangan masyarakat. Namun, yang terpenting saat ini menurutnya adalah bagaimana masyarakat bisa menarik perhatian para wisatawan dengan cara berperilaku yang baik dan ramah kepada setiap wisatawan yang datang.  “Saya yakin dengan adanya kerajinan ini, maka akan bisa mendongkrak perekonomian masyarakat dan kami sangat mendukung semua itu. Kami berharap kepada semua perajin agar tetap meningkatkan kualitas produksi serta tetap menjaga sikap dan tutur kata yang baik kepada para pengunjung. Sehingga jika itu terus dilakukan, maka dipastikan kedepanya kunjungan akan semakin ramai,” ujarnya.

Ditambahkan Sekda Lombok Tengah HM Nursiah menyampaikan, festival ‘begawe jelo nyesek’ yang diadakan saat ini merupakan kegiatan kedua setelah tahun 2016 lalu diadakan dengan sukses. “Dengan festival ini masyarakat Sukarare menunjukan kekayaan warisan tradisi nyesek atau menenun warga yang telah dilestarikan secara turun temurun,” ujarnya.

Festival tersebut menurutnya bukan hanya dipersembahkan untuk warga Sukarara saja, melainkan seluruh lapisan masyarakat baik daerah hingga dunia. Hal itu karena hasil tenun warga Sukarara telah dinikmati oleh masyarakat luas. “Untuk itu perlu saya ingatkan juga untuk kita semua  juga kepada pihak Disbudpar Lombok Tengah agar selalu memberikan pembinaan kepada masyarakat di sekitar wisata,” tambahnya.

Hal itu perlu dilakukan agar tidak ada oknum tertentu yang mengambil kesempatan dalam momen tertentu. Karena hal itu sangat merusak citra yang akhirnya menjadikan wisatawan enggan untuk datang. ”Kalau hal itu terjadi, maka kita yang akan merugi sehingga jangan sampai hanya ingin meraup keuntungan dalam waktu yang singkat,” ujarnya.

Kades Sukarara Timan menambahkan, acara tersebut menampilkan 1500 penenun. Semua perajin terebut merupakan asli dari warganya. Pekerjaan tenun merupakan rutinitas yang dilakukan turun temurun yang dilakukan oleh masyarakatnya. “Kami memiliki 3200 penyesek dan yang tampil saat ini sebanyak 1500. Semua ini kami lakukan turun temurun dan kami mendidik para anak-anak kami agar menjadi penenun yang melahirkan produk tenun yang maksimal,” katanya. (cr-met)