Pendakian Rinjani akan Diperketat

Pendakian Rinjani akan Diperketat
TANPA PENGAWASAN: Para pendaki bebas melakukan apa saja di kawasan gunung Rinjani, karena memang tanpa ada pengawasan. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Bencana gempa bumi yang melanda pulau Lombok saat ini diyakini banyak pihak tidak lepas dari ulah manusia itu sendiri. Terutama maraknya maksiat di Gunung Rinjani yang dilakukan para pendaki.

Masyarakat NTB masih mensakralkan gunung Rinjani. Di sanalah tempat para wali tinggal. Namun belakangan, tempat keramat tersebut sering tidak dihormati. Para pendaki semaunya melakukan seks bebas dan minuman keras (miras).

BACA JUGA: Keputusan Presiden Mengecewakan

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Sudiyono tidak menampik jika kemaksiatan sering dilakukan para pendaki. Karena tidak mudah melakukan pengawasan di hutan dan kawasan gunung Rinjani. “Kedepan kita akan batasi, berusaha supaya pengawasan ketat,” ucapnya kepada Radar Lombok, Minggu (12/8).

Diungkapkan, Sudiyono yang belum lama menjabat sebagai Kepala TNGR, telah menerima informasi banyaknya kondom berserakan di kawasan Rinjani. Meskipun hingga saat ini, belum jelas kondom-kondom tersebut digunakan untuk apa. Hal yang harus dipahami, lanjutnya, sangat sulit mengontrol pendaki ketika telah berada di atas. TNGR hanya bisa mengendalikan, ketika masih di pintu masuk saja.

“Soal kondom, memang informasi yang saya terima juga begitu. Mungkin benar, karena namanya di lapangan sulit kita kontrol,” terangnya. 

Karena itu, kedepan banyak hal yang akan dibenahi. Terutama untuk meminimalisir terjadinya maksiat. Mengingat masyarakat juga masih mensakralkan gunung Rinjani. Persoalannya, para pendaki berasal dari banyak negara. Berbeda halnya apabila pendaki dari kalangan lokal saja. “Nanti pos-pos kita benahi secara bertahap. Nantinya kita upayakan terpisah tempat tenda perempuan dan laki-laki,” katanya.

Selama ini, para pendaki bebas melakukan apa saja di Rinjani, termasuk melakukan maksiat di dalam tenda. Tidak ada petugas yang mengawasi, sehingga apapun bisa terjadi. Pendaki biasanya memasang tenda di pos 3, pos 4, Pelawangan dan Segara Anak. Semua bebas melakukan apa saja, karena memang tidak ada petugas. “Kalau tendanya sudah kita pisah, tapi masih terjadi. Itu urusannya lain. Yang jelas kita ingin terus berbenah,” ujar Sudiyono.

Suasana gunung yang dingin membuat pendaki sering terlena. Termasuk meminum minuman keras. Hal itu sudah biasa terjadi untuk menghangatkan badan. Untuk bisa membenahi semua itu, tentu saja TNGR membutuhkan dukungan dari semua pihak. Termasuk para guide atau porter yang selama ini melayani pendaki. “Kita harus sosialisasikan ke porter. Jangan sampai mereka bawa miras lagi. Selama ini kan alasannya untuk pelayanan. Ini yang harus kita satu persepsi dulu,” terangnya.

BACA JUGA: Pendakian Rinjani Ditutup Total

Salah satu langkah konkret yang bisa diambil, membatasi jumlah pendaki. Dengan begitu, pengawasan akan lebih mudah dilakukan. “Makanya kita akan terapkan tiket online. Jadi ada kuota jumlah pendaki. Kalau kuota habis, ya harus menunggu hari berikutnya. Karena gak boleh masuk tanpa tiket,” ujarnya.

Apabila sebelumnya, dalam sehari pendaki bisa ribuan orang, maka kedepan sudah tidak bisa lagi. “Ada 4 jalur pendakian resmi, jumlahnya akan dibatasi. Setelah lebaran kemarin, sehari bisa sampai 7 ribu orang, itu gak akan terjadi lagi,” katanya.

Jalur pendakian resmi dari Sembalun ditetapkan paling banyak 300 orang per hari. Kemudian jalur Senaru untuk 100 orang, jalur Timbanuh 150 orang dan Aik Berik kuotanya 150 orang juga paling banyak dalam sehari. Bukan itu saja, untuk memastikan tidak ada barang bawaan terlarang seperti miras, pendaki wajib melaporkan daftar barang bawaannya. “Saat mau pulang, harus melapor. Sebelum chek out itu sampah diserahkan, gak boleh semaunya langsung pulang,” tegas Sudiyono.

Aturan-aturan tersebut, sebelumnya direncakan berlaku per 1 Agustus 2018. Namun karena ada bencana gempa bumi, untuk sementara diundur. Mengingat pendakian juga saat ini masih ditutup. Saat ini, TNGR terus melakukan sosialisasi berbagai aturan terbaru tersebut. Terutama menyampaikan pedoman dan sosialisasi etika wisata halal. “Kita sedang siapkan kajian kelayakan wisata Rinjani. Penyusunan wisata alternatif selain puncak dan segara anak Rinjani. Intinya nanti akan tetap dibuka,” tandas Sudiyono.

BACA JUGA: Jumlah Pendaki Rinjani Dibatasi

Ketua DPRD Provinsi NTB, Hj Isvie Ruvaeda mengaku geram apabila benar banyak terjadi maksiat di kawasan gunung Rinjani. Padahal, Rinjani merupakan gunung yang sangat dihormati masyarakat. Sebagai legislator, Isvie akan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk meminimalisir maksiat di tempat sakral tersebut. “Kalau bisa kita buatkan perda, kita akan buat. Atau nanti aturan apalah. Ini penting kita lakukan. Karena sangat berbahaya kalau kondom banyak ditemukan di Rinjani. Harus dihentikan, tidak boleh dibiarkan,” tegasnya. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut