Pendakian Rinjani Ditutup Total

1226 Pendaki Dievakuasi

Gunung Rinjani
Gunung Rinjani

SELONG – Aktivias pendakian ke Gunung Rinjani ditutup total. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) tak berani mengambil risiko dengan membuka pendakian ke gunung dengan ketinggian 3726 dari permukaan air laut (mdpl) itu pascagempa tektonik berkekuatan 6,4 skala richter, Minggu (29/7) lalu.

Apalagi, jalan pendakian ke gunung itu masih tertutupi material bebukitan dan pengunungan yang losong. Di samping itu, gempa itu juga sudah merenggut 16 nyawa, salah satunya pendaki ketika berda di kawasan danau Segara Anak. Penutupan ini akan diberlakukan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Artinya, Balai TNGR akan betul-betul menunggu suasana aman dan tenang berdasarkan pantauan instansi terkait. ‘’Pendakian ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan,’’ kata Kasi Wilayah II TNGR Rio Wibawanto, kemarin (1/8).

BACA JUGA: Ratusan Pendaki Rinjani Berhasil Dievakuasi

Dengan ditutupnya pendakian, maka semua pintu masuk menuju TNGR juga ikut ditutup. Bahkan, mereka juga telah menyiagakan petugas untuk melakukan penjagaan di masing-masing pintu masuk pendakian. Baik pintu pendakian Sembalun maupun Senaru. ‘’Semua jalur pendakian telah ditutup,’’ katanya.

Selain itu, TNGR juga segera akan mengkaji keamanan jalur pendakian. Baik itu jalur pendakian alternatif untuk evakuasi, termasuk mengkaji sejauh mana dampak kedepan untuk pendakian akibat bencana gempa yang terjadi. ‘’Pengakijian itu akan dilakukan secara terpadu oleh tim pakar dan praktisi. Hasilnya nanti kita akan publikasikan,’’ ujar dia.

Untuk mengantisipasi kemungkinkan hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya juga segera akan melakukan perbaikan terkait manajemen atau sistim pendakian. Itu akan dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya pembatasan jumlah pendaki per hari, pemberlakukan sistem boking online baik pengunjung, pelaku usaha maupun jasa wisata lainnya. ‘’Termasuk  mengoperasionalkan kembali CCTV untuk memaksimalkan monitoring terhadap para pendaki. Pemberlakuan trecking pendaki melalui sistim radio dan sejumlah upaya lainnya,’’ ujar dia.

Disampaikan, untuk sistem boking online, nantinya akan diterapkan melalui aplikasi e-Rinjani. Sistem ini  akan bisa diakses dari manapun. Melalui sistem ini, para pendaki tidak perlu secara langsung membeli tiket pendakian, melainkan bisa diakses melalui apalikasi tersebut. Dengan sistem ini juga, nantinya setiap pendaki akan dipasangan alat deteksi khusus untuk mempermudah petugas memantau selama mereka berada di tempat pendakian. ‘’Penerapan sistem ini memang butuh waktu. Soalnya harus didukung internet. Nanti alat itu akan dipasang di setiap pos pendakian. Tapi kita upayakan bisa secepatnya, meski masih uji coba. Rencananya akan mulai diterapkan Agustus ini,’’ ujar dia.

BACA JUGA: Kopasus Diterjunkan Evakuasi Pendaki Gunung Rinjani

Dijelaskan, jumlah pendaki ke Rinjani setiap harinya terus meningkat, terutama di hari-hari besar. Sebagian besar dari pendaki itu melalui jalur pendakian Sembalun. Karenanya, dengan adanya kebijakan pembatas jumlah pendakian ini. Maka jumlah maksimal  yang diperbolehkan mendaki per hari 700 orang, baik hari biasa maupun hari-hari besar. ‘’Tidak lebih dari itu. Kalau lebih dari itu, maka akan menyebabkan kenyamanan, keamanan para pengunjung dan lainnya. Karena itu akan bisa menjadi masalah,’’ tandasnya.

Di sisi lain, sambung Rio, tim evakuasi sudah menyelesaikan tugasnya. Tim yang terdiri dari TNI, Kepolisian, BPBD, Basarnas, Mapala dan unsur terkait sudah menyelesaikan tugasnya setelah tiga hari sejak hari kejadian. Selama kurun waktu tiga hari (Minggu-Selasa), tim evakuasi sudah menyelamatkan 1226 orang pendaki. Mereka tersebar di sejumlah titik lokasi pendakian. Termasuk evakuasi terhadap 6 orang pendaki yang telah terjebak selama tiga hari di Segara Anak dan satu pendaki asal Makasar yang meninggal dunia. ‘’Terhitung sejak tanggal 31 Juli 2018. Seluruh pendaki telah keluar dari kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Jumlah pendaki yang telah berhasil dievakuasi sampai tanggal 1  Agustus 2018 sebanyak 1226 orang,’’ tambah Rio.

Dari total 1226 pendaki yang telah dievakuasi ini, terdiri dari 696 orang warga negara asing (WNA) dan  530 orang pendaki domestik. Untuk pendaki WNA sendiri terbanyak merupakan warga negara Thailand sejumlah 358 orang, Prancis 68 orang, Belanda 43 orang, Jerman 25 orang, dan Swiss 21 orang. ‘’Dari semua pendaki yang dievakuasi itu, satu pendaki WNI meninggal dunia, yaitu Muhammad Ainul Taksim asal Makasar. Korban meninggal dunia  akibat terkena reruntuhan material batu di lokasi pendakian Rinjani.  Hari itu juga jenazah korban langsung diterbangkan ke Makassar dan telah diserahkan ke pihak keluargannya,’’ paparnya.

Sementara Direktur Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistim (KSDAE) Kementerian LHK, Wiratno menegaskan, meski evakuasi telah berakhir. Tapi mereka  tetap melakukan patroli  atau penyisiran di sekitar kawasan TNGR untuk mengetahui, apakah kemungkinan masih ada pendaki atau tidak. Tapi setelah evakuasi terakhir dilakukan terhadap enam orang pendaki terjebak satu pendaki yang meninggal, belum  lagi ditemukan adanya pendaki yang masih berada di kawasan Rinjani. ‘’Evakuasi pendaki ini merupakan pengalaman bagi kami. Terlebih lagi gempa dengan kekuatan 6,4 skala richter baru pertama kali terjadi berdekatan dengan Rinjani. Dan keberhasilan evakuasi ini tak lepas dari kerja sama dan koordinasi yang baik dengan semua pihak,’’ katanya.

BACA JUGA: Kunjungan Tinggi, Wisatawan Lombok Utara Tak Terpengaruh Gempa

Di tempat terpisah, Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB Lalu Abdul Hadi Faishal bersama AHM, INCCA, ASITA, bergerak cepat menangani wisatawan yang menjadi korban gempa di Rinjani. Selain mengkoordinir penyediaan kamar hotel gratis bagi korban selamat bersama AHM, ia terbang  langsung ke Selangor Malaysia untuk mengantarkan jenazah Siti Nur Ismawida. “Ini bentuk tanggung jawab kami kepada keluarga almarhumah sekaligus mengucapkan duka cita atas musibah yang terjadi,” ujar Hadi.

Jenazah sendiri diterbangkan dengan pesawat Garuda Indonesia GA0435 dari Bandara Internasional Lombok (BIL) Selasa (31/7) sekitar pukul 9.40 Wita  menuju Jakarta. Dari Bandara Soekarno Hatta, jasad perempuan 30 tahun tersebut diterbangkan menuju Kuala Lumpur Malaysia. Selain Hadi Faisal, suami almarhumah Mohd Hafiz Mohd Kassim dan dua kerabat lainnya turut mendampingi. Jasad tiba di Kuala Lumpur sore hari dan disalatkan di Masjid Al-Rahimah, Kampung Pandan. Jasad kemudian dimakamkan malam itu juga di Perkuburan Islam Raudhatul Sakinah, Taman Selasih, Batu Caves Selangor. “Alhamdulillah keluarga telah mengikhlaskan kepergian almarhumah. Keluarga juga mengucapkan terima kasih atas upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata NTB yang begitu sigap menangani pemulangan jenazah ini,” sambungnya.

Hadi mengisahkan, suasana haru mewarnai kedatangan jenazah almarhumah. Wakil Perdana Menteri Malaysia Wan Azizah Wan Ismail menyambut kedatangan jenazah dan mengucapkan belasungkawa pada keluarga. Kepulangan Siti Nur Ismawida sendiri menjadi sorotan utama media massa Malaysia.

BACA JUGA: Jokowi Minta Rumah Korban Gempa Segera Dibangun

Seperti diketahui Siti Nur Ismawida merupakan satu dari belasan korban gempa 6,4 skala richter yang mengguncang pulau Lombok, Minggu (29/7) lalu. Siti mendaki Rinjani bersama belasan rekan lainnya. Saat gempa terjadi, ia dan warga Malaysia lainnya tengah bersiap untuk pulang. Nahas gempa yang terjadi sekitar pukul 06.45 Wita merobohkan bangunan tempatnya menginap di Sembalun. Reruntuhan bangunan menimpanya hingga akhirnya meninggal dunia.

Peristiwa gempa ini menjadi tranding topik dan terus menerus menghiasi media sosial dan media massa utama Malaysia. Karena pemberitaan yang terus menerus membuat nama Lombok menjadi semakin tenar di Malaysia. “Bukan takut tetapi beberapa orang penting Malaysia justru menyusun jadwal bersama rombongan untuk melancong ke Lombok. Perhatian pemerintah dan masyarakat yang begitu baik bagi korban gempa seakan menjadi magnet bagi masyarakat Malaysia untuk segera datang ke Lombok,” pungkasnya. (lie/gt)