Puluhan Ribu Warga Terdampak Banjir

Puluhan Ribu Warga Terdampak Banjir
TERJEBAK: Beginilah kondisi warga yang terjebak banjir, mereka tidak bisa berbuat banyak hanya menunggu bantuan evakuasi. (Rusyadin/Radar Tambora)

MATARAM – Beberapa wilayah di Provinsi NTB kembali diterjang banjir.

Banjir terjadi pada hari Senin lalu (27/3) di Lombok Barat dan banjir hari Minggu (26/3) di Kota Bima dan Kabupaten Bima.  Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, Muhammad Rum menyampaikan, untuk banjir di Lombok Barat terdapat lima dusun di dua desa yang terkena dampak banjir. Dusun tersebut Dusun Kebon Talo sebanyak 254 Kepala Keluarga (KK) dengan 745 jiwa, Dusun Songkang sebanyak 267 KK dengan 810 jiwa, Dusun Labuan Tereng sebanyak 111 KK dengan 279 jiwa, Dusun Tibu sebanyak 153 KK dengan 492 jiwa, dan Dusun Teluk Waru sebanyak 98 KK dengan 311 jiwa.

Banjir disebabkan oleh hujan lebat yang  melanda wilayah tersebut pada Senin (27/3) sekitar pukul 03.30 Wita. Akibatnya Desa Labuan Tereng dan Desa Sekotong Timur Kecamatan Lembar terkena banjir. “Penyebabnya karena hujan yang cukup besar dan jebolnya saluran air di desa Labuan Tereng,” terang Rum Selasa kemarin (28/3).

[postingan number=5 tag=”banjir”]

Ketinggian banjir di wilayah tersebut sempat mencapai 1 meter di sejumlah titik. Namun, tidak berlangsung lama dan berangsur-angsur surut. Sampai saat ini, tidak ada korban jiwa yang ditemukan namun banyak rumah penduduk rusak.

Hujan juga menyebabkan tanah longsor di Dusun Grepek sehingga menutupi bahu jalan.  Akibatnya, terdapat empat titik longsor di Dusun Grepek sehingga menutupi akses jalan menuju Kecamatan Sekotong dan Lembar. “Bantuan sudah dikirim kok, tidak ada korban jiwa,” katanya.

Sementara untuk banjir di Kota Bima, jumlah jiwa yang terdampak sebanyak 22.723 orang dengan 5.896 Kepala Keluarga (KK). Penduduk sempat diungsikan sebanyak 2.139 orang. Areal pertanian juga rusak mencapai 10 hektar.

Fasiliats umum yang terkena juga seperti SMPN 1 Kota Bima, SDN 45 Kota Bima, SDN 12 Kota Bima dan lain-lain. Bantuan yang telah diberikan seperti mie Instan 200 dus, air mineral 114 dus, family kit 70 paket, sandang 40 paket, kid ware 35 paket dan Selimut 75 paket. 

Penduduk yang sempat mengungsi juga tidak terlalu lama karena air telah surut. Meskipun begitu, dapur umum tetap dibuat. “Aktivitas ekonomi masyatakat normal, perbelanjaan atau toko juga biasa dan sekolah tidak ada yang diliburkan. Puskesmas juga tetap melayani masyarakat,” tutupnya.

Hujan deras yang melanda sejumlah wilayah di Kota dan Kabupaten Bima Minggu (26/3) sore mengakibatkan beberapa wilayah terendam banjir. Banjir terparah terjadi di wilayah Kecamatan Monta Kabupaten Bima, tepatnya di Desa Sakuru dan Tangga.

Banjir kiriman dari Kecamatan Parado ini langsung menerjang sejumlah rumah warga. Seperti di Desa Sakuru, puluhan warga  terjebak dalam rumah. Karena saat hujan mereka sedang asyik tidur.

Warga tidak bisa berbuat banyak karena banjir datang dengan tiba-tiba. Sedikitnya dua unit rumah warga di RT 08 Desa Sakuru ambruk diterjang banjir.  Banjir juga menerjang ratusan hektare lahan pertanian warga di perbatasan Desa Sakuru-Tangga. Padi dan bawang yang siap panen, sudah terseret arus yang deras.  Sementara ratusan kepala keluarga yang rumahnya terendam, mengungsi ke pegunungan sekitar lapangan Desa Sakuru.

Sementara di Kota Bima,  banjir merendam 24 kelurahan di lima kecamatan. Sebanyak 45.447 jiwa atau sekitar 11.793 kepala keluarga terdampak banjir.  Sekitar 4.277 jiwa memilih mengungsi ke 32 titik. Seperti di kantor wali kota, Masjid Sultan Muhammad Salahudin dan beberapa titik lain.  “Hingga kemarin masih ada beberapa warga yang belum kembali ke rumah,” ujar Kepala BPBD kota Ir H Sarafuddin.

Meski begitu, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Menurut dia, ini karena kesigapan warga dan tim siaga bencana kelurahan (TSBK).

Kendati tidak ada koban jiwa, kerugian material akibat banjir tersebut cukup banyak. Seperti di sektor pertanian, sekitar 77 hektare lahan dengan komoditi padi berumur sekitar 65 hari rusak. Kemudian sekitar 15 hektare puso.

Kemudian ada sekitar enam sekolah yang terdampak banjir. Akibatnya, fasilitas pendidikan yang belum sepenuhnya pulih, kembali lumpuh. Kondisi yang sama juga lanjutnya, terjadi di puskesmas Mpunda dan Paruga. Terjangan air kembali merusak sisa obat dan alkes rusak. Sehingga pelayanan medis di dua puskesmas tersebut lumpuh total. “Hasil pendataan juga ada sekitar delapan ruas jalan dipenuhi lumpur,” katanya saat ditemui di kantor wali kota.

Akibat musibah ini wali kota menetapkan masa tanggap darurat selama lima hari mulai 26 hingga 30 Maret mendatang. Dijelaskan pula, banjir yang menerjang kota akibat curah hujan yang cukup tinggi. Posisi awanya hampir sama saat banjir akhir tahun lalu. Hanya saja banjir kali ini cepat surut, karena sebagian drainase sudah digali.

Pemerintah provinsi (Pemprov) NTB telah menyalurkan bantuan kepada puluhan ribu korban yang ada di Kabupaten Lombok Barat dan Bima.

Kepala Dinas Sosial provinsi NTB, H Ahsanul Khalik menyampaikan, banjir yang terjadi pada hari Senin lalu (27/3) di Lombok Barat dan banjir hari Minggu (26/3) di Bima memberikan banyak dampak negatif. “Alhamdulillah kita sudah salurkan bantuan untuk meringankan beban para korban,” ujarnya.

Untuk korban banjir di Lombok Barat, Dinas Sosial telah memberikan bantuan lauk pauk 250 paket, mie instan 2000 bungkus, matras 100 lembar dan beras 2,5 ton. Bantuan tersebut, nilainya diluar beras lebih dari Rp 24 juta.

Dinas Sosial juga telah menyuplai sejumlah bantuan kepada warga Kota Bima dan Kabupaten Bima yang diterjang banjir. Pihaknya terus memantau kondisi di kota dan kabupaten Bima. Bahkan, personil Tagana sudah berada di lapangan sejak banjir kembali melanda kedua daerah itu. “Di Lobar juga sudah ada dapur umum, Tagana sudah turun sejak banjir datang. Begitu juga dengan banjir di Bima, kita tetap pantau kok,” katanya.(zwr/nk/edo)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid