Pasien Terkonfirmasi Varian Baru Covid-19 Cuma Hoaks

dr H Lalu Hamzi Fikri (FAISAL HARIS/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Mencuatnya isu adanya pasien terkonfirmasi varian baru virus corona Delta (B.1617.2) di salah satu rumah sakit di Kota Mataram, ternyata cuma hoaks. Pasien ini sempat viral

melalui status whatsApp salah satu tenaga kesehatan yang sempat jadi bahan perbincangan publik sejak Rabu (29/6). Apalagi varian ini dikabarkan pertama kali ditemukan di India, sehingga membuat publik bertanya-tanya, apakah virus varian baru ini sudah masuk ke NTB.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr H Lalu Hamzi Fikri, menegaskan, bahwa informasi yang beredar soal adanya kasus varian baru Covid-19 Delta tersebut tidak benar. “Jadi gini, jangan buru-buru mengatakan suspek. Jangan percaya sama hoaks yang belum ada bukti ilmiahnya. Ini yang pertama saya tekankan,” tegas Fikri kepada Radar Lombok, Rabu (30/6).

Dalam postingan salah satu tenaga kesehatan itu, disampaikan bahwa Lombok pecah telur varian Delta kasus terkonfirmasi di Rumah Sakit Harapan Keluarga (RSHK). Lebih lanjut, Fikri menegaskan, bahwa dari status yang disampaikan tersebut telah menyebar kemana-kemana adalah salah satu pasien inisial AP berasal dari luar daerah. Tepatnya di kecamatan Purwonegara dearah Banjarnegara di Jawa. “Jadi pasien yang disebut terkonfirmasi varian baru Covid-19 sebenarnya dari laporan yang saya terima kemarin memang dengan kondisi mengeluh sesak, kemudian batuk dua hari yang lalu, kemudian sesaknya bertambah barat, terutama saat beraktivitas. Tapi intensitas batuknya tidak terlalu sering meski ada sesak di dada. Artinya ada gejala-gejala seperti yang kita suspekkan,” tuturnya.

Pesien tersebut rujukan dari Klinik Batu Boing Aman Miniral, kemudian melakukan pemeriksaan yang ditangani oleh RSHK dengan alat bantu napas. “Setelah ditangani hasilnya fukluatif karena kondisi, tapi yang menyebar beritanya itu kan hasil. Yang jelas terakhir saya up date pasien ini kondisinya sudah mulai membaik. Meskipun kemarin ada gejala sesak tetapi ini masih dalam pemantuan rumah sakit HK,” sambung mantan Direktur RSUD Provinsi NTB ini.

BACA JUGA :  325 Hektar Lahan Tembakau Petani Loteng Terdampak Banjir

Dilihat klinisnya atau kecurigaan pasien ini varian delta, tetapi kemudian dilakukan pemeriksaan tes cepat molekuler (TCM) di RSHK dengan hasil positif. “Memang hasil TCM-nya positif, kemudian kalau golden standarnya PCR, maka saya minta segara dilakukan pemeriksaan PCR kemarin dan hasilnya keluar PCR-nya negatif. Jadi dia negatif Covid-19 kalau sesuai PCR,” ulasnya.

Tidak sampai di situ, pihaknya kemudian mengirim sampel ke Litbangkes pusat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Karena selama ini dilakukan ketika ada pasien yang diduga varian baru, maka pihaknya akan mengirimkan sampel. Tetapi bagi pasien yang sebelumnya sudah positif Covid-19 berdasarkan hasil PCR dan CT Value di bawah 30 syaratnya. “Karena kemarin kita ingin cepat mengetahui, tetap sampel dikirim karena harus berbarengan kemarin PCR dan TCM-nya. Dua sampel itu sudah kita kirim ke Litbangkes untuk sekuensing,’’ terang Fikri.

Semetaran informasi terakhir yang diterima berdasar up date dari RSHK, untuk pasien yang bersangkutan masih dalam penanganan dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Dan sudah dilakukan penanganan, saya baru whatsApp teman-teman di rumah sakit HK, kita masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap pasien ini,” katanya.

“Jadi sebagai antisipasi kita terhadap varian baru. Namanya informasi seperti ini aspek klinis sebenarnya. Kemudian kita harus buktikan dengan pemerikasaan dengan golden standar dan sekuensing. Tapi saat ini sedang berproses,” sambungnya.

BACA JUGA :  419 Pelamar CPNS Pemprov NTB, 69 Dinyatakan TMS

Bahkan untuk pasien tersebut, sesuai hasil pemeriksaan di RSUD Provinsi sesuai dengan hasil PCR negatif juga sudah dilakukan verifikasi oleh dokter spesialis yang mengatakan jika pasien tersebut negatif Covid-19. “Itu sudah menyatakan hasil interpretasinya hasilnya PCR negatif. Jadi jangan buru-buru menyebarkan informasi yang belum bisa dibuktikan secara ilmiah,” sentilnya.

Bahkan ketika ditanya soal kecil kemungkinan pasien tersebut jika nanti keluar hasil sekuensing dari Litbangkes positif varian baru seperti informasi yang beredar. “Artinya di sini kita bisa melihat bukti ilmiah. Jangan kita langsung percaya hoaks kemana-kemana beredar,” ucapnya.

Hasil dari pemeriksaan sampel pasien yang sudah dikirim, biasanya akan keluar setelah dua minggu terhitung dari sejak dikirim. “Biasaya kita karena antre rata-rata dua minggu hasil bisa keluar. Seperti awal Covid itu. Tapi teman-teman rumah sakit cari cara agar antreannya lebih singkat,” ucapnya.

Fikri juga mengingkatkan, dengan adanya varian baru Covid-19 yang sudah menyebar di beberapa daerah di Indonesia, meski belum ada di NTB maka penting untuk meningkatkan kewaspadaan. “Tapi kita juga tingkatkan kewaspadaan varian baru ini untuk perkuat pintu masuk sebenarnya, kita jangan timbulkan kecemasan tapi perkuat kewaspadaan kita sebenarnya di pintu-pintu masuk,” katanya.

Berdasarkan rilis Gugus Tugas Provinsi NTB, tanggal 29 Juni 2021 kemarin terjadi penambahan kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 50 orang. Tidak ada kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid19 di Provinsi NTB sebanyak 14.553 orang. Rinciannya, 13.359 orang sudah sembuh, 618 meninggal dunia, serta 576 orang masih positif. (sal)