Menkopolhukam Ajak Jamaah NWDI Semakin Berkontribusi untuk Peradaban Bangsa

Hultah NWDI ke-86 Dihadiri Sejumlah Menteri Kabinet

HULTAH NWDI : Menkopolhukam Prof Mahfud MD, Ketum PB NWDI Dr KH M Zainul Majdi, Menag Yaqut, Menteri BUMN Erik Tohir dalam HULTAH NTWDI ke 86 secara virtual, Minggu (29/8). (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK )

SELONG – Tasyakuran Nasional Hari Ulang Tahun (Hultah) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyha (NWDI) ke-86 yang berlangsung di Musholla Al Abror Pancor Lombok Timur NTB, Ahad (29/8) secara hybrid. Hadir dalam kesempatan itu, Menkopolhukam Mahfud MD, Menteri Agama Yaqut Kholil Kaumas, Menteri BUMN Erik Tohir, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Kepala BNPT RI Komjen Pol Boy Rafli Amar, dan banyak Syeikh dari Makkah, Yaman, serta Libanon secara virtual.

Kegiatan ini diikuti sebanyak seribu orang melalui zoom meeting yang bisa gabung,  dan 400 orang secara langsung dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Sementara ribuan jamah tidak bisa masuk lewat zoom mengikuti acara siaran langsung melalui akun facebook dan youtube.

Menkopolhukam RI Prof Mahfud MD mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersyukur, NWDI yang berusia 86 tahun telah banyak berkiprah dan berperan strategis dalam sejarah perkembangan bangsa di Indonesia dan dunia lslam. “Kita berdoa agar NWDI ini semakin besar dan berkontribusi terhadap kemajuan peradaban bangsa. Kita bersyukur pada saat ini kita dapat mendoakan pendiri NWDI ini, Almagfurullah TGKH M Zainuddin Abdul Majid,” ungkap Mahfud MD.

Menurut Mahfud, keberkahan itu baru bisa diperoleh salah satu caranya adalah dengan mengingat dan meneladani kepribadian dan perjuangan tuan guru selama hayat. Dan mewarisi semua ajaran kebaikan dan nilai-nilai yang ditanamkan pada jamaah.

Peran besar almagfurullah tercatat sebagai bagian perjuangan kebangsaan Indonesia dari pra dan pasca kemerdekaan, khususnya dalam membangun dan mengembangkan pendidikan, sosial, dan dakwah islamiyah. “Peran besar itu, salah satunya dilakukan dengan mendirikan pesantren dan madrasah-madrasah NWDI yang dimulai pada tahun 1937, sehingga pada hari ini kita peringati dalam usia 86 tahun,” paparnya.

Bahkan menurut catatan, TGKH Zainuddin Abdul Madjid yang mendirikan madrasah pertama untuk perempuan di Indonesia, yaitu Nahdlatul Bhanat Diniyah Islamiyah (NBDI). Hal ini menujukan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan juga membangun emenasipasi perempuan.

Melihat perjuangan Maulana Syeikh yang sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dan membangun agama dan bangsa melalui pondok-pondok pesantren, maka pemerintah RI menyematkan predikat Pahlawan Nasional kepada TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Majdid, sesuai dengan Keppres No.115 tahun 2017.

BACA JUGA :  Gaji Petugas Kebersihan Kantor Bupati Diduga Disunat

Menurut Mahfud, banyak hal yang dapat kita teladani dari kepribadian dan kehidupan TGKH M Zainuddin Abdul Majid ini. “Setidaknya ada empat catatan pendek saya tentang teladan yang dapat kita ambil dari khidupan dan kepribadian beliau,” ucapnya. Di antaranya, pertama menanamkan sikap optimisme. “Beliau mengajarkan sikap optimisme, karena optimis dan semangat juang sangat diperlukan untuk mengembangkan diri untuk merubah keadaan. Tidak bisa orang yang tidak punya sikap optimisme dan semangat  itu akan berhasil di dalam perjuangannya,” ulasnya.

Seperti yang dicontohkan oleh Maulana Syeikh dalam semangat belajar. Pada usia 15 tahun berangkat ke Makkah untuk menuntut ilmu. Tanpa semangat kuat, maka dipastikan sulit berhasil. Kedua, menempatkan pendidikan sebagai syarat kemajuan ummat dan bangsa. Untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan diperlukan insan-insan terdidik, maka demikian pula untuk mengisi kemerdekaan.

Ketiga, menautkan antara spirit beragama dan spirit nasionalisme, tidak memperhadapkan antara identitas keagamaan dengan ke-Indonesia-an. Keislaman dan ke-Indonesia-an adalah satu kesatuan yang terintegrasi. “Sebaliknya yang dicontohkan oleh beliau, adalah menjadikan Islam sebagai basis lahirnya nasionalisme dan menjadikan bangsa Indonesia sebagai rumah yang islami secara damai,” tuturnya.

Lalu Tauladan yang ke empat adalah maulana syeikh selalu menggunakan pendekatan kultural yang damai dalam mengembangkan Islam, tanpa merusak tatanan masyarakat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. “Pendekatan kultural tidak akan pernah melahirkan konflik penolakan, sebaliknya pendekatan ini telah mampu membuat nilai dan ajaran Islam yang merekat sampai ke akar budaya masyarakat kita ini, menyebar luas dan mendalam. Hal inilah yang kita rasakan di Lombok,” tutup Mahfud MD.

Ia berharap di usia ke 86 ini, NWDI tetap eksis dan terus memelihara tradisi-tradisi keagamaan. NWDI semakin besar dan maju sehingga terus dapat berkiprah melakukan pembinaan terhadap madrasah dan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia

Sementara itu, Menteri BUMN Erik Tohir menyampaikan, kedepan NWDI semakin maju dan turut serta membangun keseimbangan, membangun ekonomi ummat. Karena dunia terus mengalami perubahan, kemajuan teknologi juga semakin pesat. Maka perubahan ini penuh tantangan seperti masa pandemi ini adalah masa yang betul-betul membutuhkan semangat. Ia mengajak semua untuk bersatu, menjaga keseimbangan dan pemerataan ekonomi agar jangan sampai yang miskin semakin miskin sementara yang kaya semakin kaya. “Keseimbangan untuk disiplin protokol kesehatan, untuk memastikan roda ekonomi tetap berputar. Momentum silaturahim dalam rangka syukuran ini bisa menjadi momentum kita semua untuk menyatukan langkah. Sekali lagi selamat untuk 86 tahun NWDI mengabdi untuk negeri,” tutupnya.

BACA JUGA :  Bupati : Pilkades Harus Aman dan Kondusif

Sementara itu, Penanggung Jawab Peringatan Hultah NWDI ke-86 Ustadz HM Djamaluddin mengatakan, momentum Hultah NWDI ini sebagai ajang silaturrohmi antara jamaah NWDI dan sejumlah tamu undangan lain, termasuk dengan pejabat negara. Djamaluddin juga menegaskan, momen Hultah NWDI ini bukan sekadar merayakan dan memeriahkan peringatannya, namun lebih dari itu. Yakni memahami dan memaknai arti penting dari nilai-nilai perjuangan Maulana. “Esensi dari peringatan Hultah NWDI ini adalah membumikan nilai-nilai perjuangan Maulana Syeikh TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid sebagai pejuang agama, bangsa, dan negara,” papar Djamaluddin.

Sebagai generasi penerus, kata Djamaluddin, harus mampu mempertahankan semua ajaran-ajaran yang telah menjadi warisan dan amanah pendiri NWDI. Apalagi saat ini kehidupan beragama, bangsa dan bernegara banyak masuk ajaran atau paham yang jauh dari ahlussunnah wal jamaah. “Era industri 4.0 sekarang ini telah membawa perubahan besar dalam kehidupan kita semua. Ini tentu menjadi peluang, sekaligus tantangan untuk membumikan nilai-nilai perjuangan beliau,” ujar cucu pendiri NWDI, yang juga ahli IT itu.

Namun ia mengaku optimis mampu menjaga dan menjalankan amanah kakeknya yang saat ini telah tercatat menjadi Pahlawan Nasional, karena sejak kecil sudah mengenal nilai-nilai perjuangan. “Memang, kita akui. Mengemban amanah ini sangat berat. Tetapi dengan tetap berpegang teguh pada ajaran ahlussunah wal jamaah, maka kita yakin dapat menjadi benteng menegakkan li i’la’ikalimatillah wa’izzil Islam wal Muslimin,” tutup Programmar jebolan Australia itu. (luk)