Keluh Kesah Yulia Prayanti, Atlet Berprestasi yang Tidak Diakomodir di Pelatda

Yulia Prayanti Atlet Berprestasi yang Tidak Diakomodir di Pelatda
ATLET BERPRESTASI: Yulia Prayanti atlet Kempo NTB saat berlatih. Saat PON 2016 di Jawa Barat, dia meraih medali perunggu. (Abdi Zaelani/Radar Lombok)

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB tengah menggelar pemusatan pelatihan daerah (Pelatda) yang dinamakan Pelatda Mayung 2017. Banyak atlet berprestasi dipanggil masuk pelatda, namun ada juga yang berprestasi tidak dipanggil.  Seperti yang dialami Yulia Prayanti.


ABDI ZAELANI– MATARAM


Yulia Prayanti tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dara yang dikenal   supel dan mudah bergaul ini, tidak habis pikir atas keputusan KONI yang tidak memanggilnya masuk Pelatda Mayung 2017. Padahal, dari sisi prestasi dia  tidak kalah dengan atlet lainnya.

Dara kelahiran Praya 6 Juli 1991 ini atlet Kempo andalan NTB pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat 2016 lalu. Memang, dia gagal meraih medali emas. Namun dia tidak pulang dengan tangan hampa. Dia mampu menyumbangkan medali perunggu untuk NTB, sebuah prestasi yang tidak mudah dicapai di tengah ketatnya persaingan di cabor Kempo saat itu. Semestinya, dengan prestasi yang diraih itu, KONI memanggilnya lagi masuk pelatda.  ‘’ Mungkin NTB tidak membutuhkan saya lagi, makanya tidak diakomodir,’’ ujarnya sambil senyum getir saat berbincang dengan Radar Lomok  kemarin.

[postingan number=5 tag=”olahraga”]

Yang membuatnya tidak habis pikir, ada atlet Kempo yang tidak memiliki prestasi membanggakan malah masuk pelatda.  Sementara atlet lain yang memiliki prestasi malah tidak diakomodir. ’’ Saya bingung dengan pengprov.  Yang belum punya prestasi direkrut masuk pelatda,’’ ujarnya. Eyik-sapaan akrabnya bermaksud mempertanyakan langsung ke KONI soal dirinya yang tidak diikutkan pelatda.

Eyik putri ketiga dari empat bersaudara pasangan Junaidi M Ali dan Siti Bulqis ini. Di keluarganya, menjadi atlet bukan hal asing.

Saudaranya yang lain  Putri  juga merupakan atlet Kempo.  Putri lebih beruntung, dia masuk di pelatda.

Cewek yang awalnya bercita-cita sebagai jurnalis dan presenter. Namun ketertarikannya pada olahraga bela diri, menyebabkan dia fokus berlatih Kempo sejak duduk di bangku sekolah. Kerja keras dan ketekunannya berlatih, membuahkan prestasi. 

Ikut di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) tahun 2006, Eyik  langsung menorehkan prestasi dengan  meraih  medali emas, perak maupun perunggu. Lalu di  Porprov 2010  ia juga meraih medali emas. Bahkan pada Porprov 2014, ia meriah dua medali emas di kelas Randori dan Embu. Bukan hanya di level lokal, di Kejuaraan Internasional di Surabaya 2014, ia juga berhasil menyabet dua medali emas. Namun di Bali Open, prestasinya menurun dengan hanya meraih medali perak.  Atas prestasinya itu, Eyik jadi kontingen NTB di PON 2016 di Jawa Barat. Eyik hanya meraih medali perunggu.

Menjadi etlet bela diri, tidak cukup punya nyali tetapi tidak mudah menyerah dan putus asa. Eyik punya pengalaman yang tetap diingatnya. Saat bertanding di Porprov 2010, tangannya patah. Namun ia tidak mau menyerah dan memilih tetap melanjutkan pertandingan hingga akhirnya membuatnya meraih medali emas.

Cedera itu sempat  membuatnya  trauma namun ia berjuang untuk bangkit dari rasa trauma tersebut. Sayangnya meski sudah banyak medali yang diraih, harapan Eyik untuk terus bisa membela NTB terancam kandas. Dia tidak masuk di pelatda.    “Mungkin NTB tidak membutuhkan saya  lagi Mas, makanya tidak  diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatda,” akunya.  (*)