Jembatan Lombok-Sumbawa Tidak Mudah Diwujudkan

H Ridwan Syah
H Ridwan Syah.(AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB memiliki mimpi untuk mewujudkan adanya jembatan laut yang menghubungkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Namun mimpi tersebut, tidak mudah diwujudkan karena membutuhkan biaya yang sangat besar. 

Asisten II Pemprov NTB bidang Perekonomian dan Pembangunan, H Ridwan Syah mengaku optimis bisa merealisasikan mimpi tersebut. Namun, dirinya pesimis proyek jembatan Lombok-Sumbawa bisa dilakukan groundbreaking tahun depan. “Saya yakin jembatan ini layak secara ekonomi. Tapi Tahun depan belum, gak mungkin bisa groundbreaking,” ujarnya kepada Radar Lombok, Selasa (11/2).

Ridwan Syah bahkan pesimis proyek tersebut bisa tuntas hingga akhir masa jabatan Zulkieflimansyah dan Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi). “Yang penting sekarang FS (Feasibility Study, red) kita anggarkan. Kita harap pada pemerintahan pak Gubernur ini sudah ada rupanya lah sebelum 2024. Tapi itu kan harapan. Tapi menurut saya tidak semudah itu,” katanya. 

Gubernur NTB Dr Zulkieflimansyah sendiri, kata Ridwan Syah, sangat berharap jembatan Lombok-Sumbawa bisa terealisasi secepatnya. Namun yang harus dipahami, mewujudkan jembatan tersebut tidak mudah. 

Diungkapkan Ridwan Syah, biaya konstruksi untuk membangun jembatan Lombok-Sumbawa sekitar Rp 16 triliun. Mengingat, biaya membangun 1 kilometer saja hampir mencapai Rp 1 triliun. Sementara panjang jembatan direncanakan 16 kilometer. “Itu untuk konstruksi saja. Belum biaya lain-lain. Jadi butuh dana yang sangat besar,” kata Ridwan Syah. 

Saat ini sudah ada investor yang berminat membiayai pembangunan jembatan Lombok-Sumbawa. Namun tentu saja daerah harus memberikan kompensasi. “Gak mungkin mereka investor bangun jembatan lalu hanya jual tiket. Karena Return of Investment (ROI) akan lama,” ungkapnya. 

Belajar dari daerah-daerah lain yang telah memiliki jembatan serupa, ada investasi lain yang dilakukan oleh investor. “Kita bisa tawarkan kompensasi, mudahkan berikan izin, berikan hak kelola sebuah destinasi, dan lain-lain. Itu jadi bagian daya tarik bagi investor. Makanya sangat penting FS, dari sana akan jelas semua,” ujarnya.

Secara analisa ekonomi, kata Ridwan Syah, jembatan Lombok-Sumbawa akan menjadi sangat penting. Apalagi saat ini Pemprov NTB sedang mempersiapkan kawasan industri di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). 

Kawasan smelter dan industri turunannya tersebut, akan membuka banyak peluang kerja. Ribuan tenaga kerja baru dibutuhkan. “Pekerja banyak dibutuhkan, bisa dari Lotim dan juga Mataram nanti. Kalau ada jembatan, cukup butuh waktu 15 menit ke Sumbawa dari Lombok. Dan ingat, Lombok – Sumbawa juga kan lalu lintas trans nasional. Jadi sebenarnya sangat strategis jembatan ini,” jelas Ridwan Syah.

Bulan Februari ini, Pemprov NTB sudah mengagendakan untuk bertemu konsultan asal Korea yang ingin menyusun FS jembatan Lombok-Sumbawa. Direncanakan pertengahan tahun ini FS sudah mulai disusun. 

Sebenarnya, kata Ridwan Syah, biaya FS bisa saja tidak perlu menunggu APBD Perubahan. Namun semua itu tentu saja membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak. “Kita belum bahas dengan DPRD untuk eksekusi FS pakai APBD murni. Itu bisa saja, carikan uang dari mana dulu. Nanti kita koordinasikan, mungkin bisa di PU, Bappeda atau Dinas Perhubungan. Makanya kita mau bertemu dengan Bupati dan konsultan, berapa kita anggarkan dan berapa lama susun FS,” katanya. 

Untuk sumber anggaran FS, Pemprov sendiri sudah sangat siap. Apalagi jika KSB dan Lombok Timur mau sharing anggaran. “FS kan kita pihak ketigakan. Bisa nanti investor yang susun, kita bantu biaya. Sekalian susun DED mereka,” ucap Ridwan Syah. (zwr) 

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid