Banjir Desa Kabul Disebabkan Hutan Gundul

BANJIR: Wilayah Desa Kabul Kecamatan Praya Barat Daya selalu diterjang banjir setiap musim hujan selama kurun waktu tiga tahun terakhir ini. (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYADesa Kabul Kecamatan Praya Barat Daya selalu tertimpa musibah banjir setiap musim hujan selama kurun waktu tiga tahun terakhir ini. Salah satu penyebab utamanya adalah pendangkalan sungai dan hutan gundul di sekitar wilayah tersebut.

Kepala Desa Kabul, Sahirim tak menafikan bahwa desanya selalu diterjang banjir selama kurun waktu tiga tahun terakhir ini. Salah satunya penyebabnya adalah sedimentasi sungai yang membuat aliran sungai menjadi tidak normal. Saat musim hujan, sungai tak mampu menampung debit air yang datang sehingga meluap ke permukiman warga sekitar. “Di satu sisi di Desa Kabul banyak hutan yang gundul karena pohonnya ditebang masyarakat. Penebangan liar ini sendiri terjadi karena status hutan di Desa Kabul masih hutan tanaman rakyat,” ungkap Sahirim, Selasa (15/11).

Baca Juga :  Kejari Praya Perpanjang Penahanan Dokter Langkir

Untuk mengatasi permasalahan banjir ini, maka sudah seharusnya sedimentasi sungai tersebut dikeruk. Karena beberapa minggu yang lalu juga Desa Kabul kembali diterjang banjir akibat adanya pembangunan jembatan yang dianggap terlalu pendek yang tidak bisa menampung aliran sungai di bawahnya. “Tapi kalau dalam hal masalah jembatan sudah diselesaikan. Sebenarnya ini yang terpenting adalah bagaimana kondisi hutan gundul akibat penebangan pohon. Padahal sebenarnya reboisasi oleh pemerintah bisa dikatakan setiap tahun dilakukan. Bahkan ribuan pohon ditanam setiap tahun tapi tidak berhasil karena tidak ada tindak lanjutnya,” terangnya.

Lebih jauh disampaikan, bahwa sebenarnya desa sudah memiliki awik-awik untuk melindungi hutan. Ada kriteria dan jarak yang harus ditaati jika ingin menebang pohon. Namun baginya apa yang terjadi di lapangan sangat sulit untuk dikendalikan, mengingat banyak masyarakat yang menebang pohon tanpa mengindahkan aturan. “Kalau masalah awik-awik dan hal lainnya secara teori ada semua, tapi praktiknya di lapangan yang tidak ada. Misalkan ada aturan tidak semua pohon bisa ditebang tapi di lapangan tetap saja mereka menebang,” terangnya.

Baca Juga :  Tak Bisa Jadi PPPK, Anggota Pol PP Honorer Gigit Jari

Meski begitu, pihaknya terus berusaha maksimal agar desa yang dipimpinnya tidak terus menjadi langganan banjir. Sehingga keberadaan sungai yang ada di desa tersebut sudah mulai ditata. “Karena yang paling penting untuk dikerjakan adalah bagaimana kita mengeruk sungai dan saat ini sedang berjalan. Mudahan tidak lagi terjadi banjir meski tidak pernah ada korban jiwa selama terjadi banjir,” harapnya. (met)

Komentar Anda