Wabub dan BMKG Panen Raya Padi di Kotaraja

Wabub dan BMKG Panen Raya Padi di Kotaraja
PANEN RAYA: Wabup Lotim, H. Haerul Warisin, bersama Deputi BMKG, Drs. R. Mulyono Probowo, ketika melakukan panen raya padi jenis Ceheran di Sekolah Lapang Iklim di Kotaraja, Rabu (12/7). (IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG–Bertempat di Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Rabu kemarin (12/7), digelar kegiatan panen raya Sekolah Lapang Iklim Tahap III yang dilaksanakan oleh Stasiun Klimatologi Kelas 1 Lombok Barat. Kegiatan juga dihadiri oleh Wakil Bupati (Wabup) Lotim, H. Haerul Warisin.

Deputi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Drs. R. Mulyono Probowo, dalam sambutan menyatakan, bahwa kegiatan ini dilaksanakan, sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait fungsi BMKG dalam hal penyediaan informasi iklim di NTB. dimana Sekolah Lapang Iklim ini merupakan sekolah bersama antara BMKG dengan kelompok tani.

“Informasi ini sebenarnya akan lebih bermanfaat jika informasi itu bisa digunakan oleh pengguna informasinya, dalam hal ini adalah petani itu sendiri. Sehingga kita bersama petani bisa melakukan pengamatan iklim,” katanya kepada Wartawan.

Dikatakan, dengan adanya sekolah iklim ini, akan diketahui dampak terhadap iklim yang ada. Sehingga aktivitas ini dapat mengoptimalkan informasi iklim yang ada, untuk kemudian bisa diterapkan ke lapangan. “Sebelum melaksanakan sekolah iklim, para kelompok tani diuji terlebih dahulu, sejauh mana pengetahuan mereka terhadap iklim,” ujarnya.

Setelah mengetahui tentang bagaimana iklim saat ini sambungnya, kelompok tani yang ada bisa menerapkan pada aktivitas pertanian pada saat yang bersamaan. Sehingga pertanian berhasil, yang salah satu indikatornya dapat meningkatkan produksi pertanian.

”Dari sekolah lapang yang ada saat ini, terdapat peningkatan hasil produksi sekitar 60 persen, yang sebelumnya mendapat 6 ton per hektar, meningkat menjadi 9 ton per hektar,” ucapnya.

Disampaikan, saat ini Kabupaten Lombok Timur merupakan daerah surplus pangan, yang tentunya ini harus dipertahankan. Kedepan surplus pangan ini diharapkan tak hanya terjadi di Lotim saja, tetapi bisa merata ke semua daerah di NTB. ”Bila perlu kalau ini  bisa dikembangkan ke skala yang lebih bisa menopang ketahanan pangan tingkat nasional,” harapnya.

Sementara Wabup Lotim, H. Hairul Warisin mengaku bersyukur terhadap BMKG, yang menempatkan Sekolah Lapang Iklim di Lombok Timur. Menurutnya, Sekolah Lapang Iklim tidak banyak, dan pelaksanaan sekolah iklim ini juga diawali pertama kali di NTB pada tahun 2010 lalu. ”Kenapa kita bersyukur, karena terlalu banyak hubungannya antara iklim dengan pertanian,” jelas Wabup.

Terkait hasil produksi padi yang melimpah itu, yang membanggakan ternyata merupakan padi nasional jenis Ceheran. “Produksi padi jenis Ceheran dengan hasil sampai 9,7 ton per hektar, merupakan hasil yang tinggi. Jadi saya rasa ini sungguh baik,” pungkasnya. (cr-wan)