Terorisme Bima, Antara Ada dan Tiada

Ilustrasi Teroris
Ilustrasi

KOTA BIMA – Ma’arif Institute menggelar bedah buku berjudul Jihad, Khilafah dan Terorisme di aula FKUB Kota Bima. Persoalan ekonomi, psikologi hingga politik menjadi latar belakang terbentuknya paham radikalisme di seluruh dunia. “Terorisme itu bukan hanya ada di negara Islam, tapi jauh sebelumnya juga ada di negara-negara barat. Bahkan pertama kali muncul di negara Perancis,” ungkap Muhammad Abdullah Darraz, peneliti Ma’arif Institute.

BACA : Buronan Teroris Bima Menyerahkan Diri

Tidak hanya membeberkan histori paham radikalisme, buku ini juga mengupas bagaimana sebenarnya jihad, khilafah dan terorisme yang kerap disalah pahami oleh kalangan umat Islam. Bahkan buku ini menyebutkan, jika khilafah dan terorisme bukan bagian dari agama Islam. Abdullah Darraz menjelaskan, khusus khilafah, Islam tidak mengenalnya dalam sudut pandang politik. Tetapi secara teologis bagaimana hubungan antar umat manusia di bumi dan alamnya untuk sebuah keseimbangan.

Kata Darraz, Kota Bima terpilih menjadi satu dari sekian daerah yang dijadikan lokasi bedah buku. Karena dianggap sebagai daerah yang belum terpapar paham radikalisme. Dengan adanya bedah buku, pihaknya ingin memberikan pemahaman yang benar seperti apa itu jihad, khilafah dan terorisme. Sehingga menjadi penangkal bagi warga Kota Bima akan paham radikalisme. “Apa yang menjadi pemikiran cendikiawan muslim moderat tentang terorisme, tersosialisasikan melalui buku ini. Sejak April, kami sudah launching buku ini,” kata Darraz.

Sementara itu, Asisten 3 Muhtar Landa yang mewakili Wali Kota Bima membacakan sambutan tertulis wali kota. Menurutnya, wali kota mengapresiasi langkah-langkah persuasif yang ditempuh sejumlah pihak. Terlebih pada FKUB, yang sudah memfasilitasi berbagai bentuk kegiatan untuk menyamakan persepsi berbagai kalangan pemeluk agama di Kota Bima. Wali kota berharap, muara akhir dari kegiatan bedah buku bisa membawa dampak positif dengan tidak berkembangnya paham radikalisme di Kota Bima.

BACA JUGA :  Pasutri Pemilik 3,5 Kg Ganja Ditangkap

Pada kesempatan itu juga, keberadaan terorisme di Kota Bima, dianggap antara ada dan tiada. Aksi teror tidak pernah terjadi di Kota Bima. Namun di wilayah ini kerap terjadi aksi penangkapan terhadap terduga teroris. “Ini yang saya katakan, terorisme di Kota Bima ini antara ada dan tiada,” ujar Ketua FKUB Kota Bima, Eka Iskandar MSi saat menyampaikan gambaran kondisi Kota Bima sebelum bedah buku, Sabtu (11/11).

BACA : Densus 88 Bawa Sembilan Terduga Teroris ke Jakarta

Menurut Eka, kultur kekerabatan masyarakat Bima yang sangat kental dan kuat membuat pendatang dari manapun merasa nyaman dan aman ketika berada di Bima. Bahkan, penampilan yang sedikit berbeda dengan mengunakan sorban dan baju koko justru menjadi jaminan penghormatan yang diberikan masyarakat Bima tanpa melihat asal usulnya.

Julukan yang sempat disematkan kepada Kota Bima, sebagai sarang terorisme kata Eka tidak bisa diterima oleh semua kalangan Islam di Kota Bima. Pasalnya, tidak ada teror yang terjadi apalagi sampai menganggu kehidupan bermasyarakat. Namun fakta lain menunjukkan, adanya penangkapan orang-orang yang diduga sebagai teroris. “Sebenarnya, itu semua berasal dari luar. Karena wilayah dan masyarakat kita ini sangat terbuka, sehingga membuat pendatang nyaman dan betah di sini,” seloroh Eka.

Banyak hal yang dilakukan FKUB Kota Bima dalam menangkal mis komunikasi hingga berkembangnya paham radikalisme. Satu diantaranya, cofee morning setiap pekan yang melibatkan seluruh ormas dan agama di Kota Bima. Komunikasi yang intensif, mampu meluruskan informasi-informasi sesat yang bisa membuat hubungan antar agama dan ormas terancam. “Kami terus membuka upaya apapun yang bersifat persuasif, karena tidak ada penanganan yang berhasil melalui cara-cara represif,” pungkasnya. (tin)