Tamu Sepi, Hotel di Senggigi Perang Diskon

hotel-senggigi
SENGGIGI: Kondisi salah satu hotel di kawasan pariwisata Senggigi yang masih sepi pengunjung, dan untuk menarik tamu saat ini menerapkan diskon besar-besaran. (FAHMY/RADAR LOMBOK)

GIRI MENANG — Tingkat kunjungan wisatawan di kawasan wisata Senggigi, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), hingga kini masih rendah. Berbagai usaha dan program yang telah dilakukan oleh Pemda Lobar maupun dari Pemerintah Provinsi NTB, juga belum bisa meningkatkan angka kunjungan wisatawan di Senggigi.

Seperti ketika Pemprov NTB menggelar Lombok Sumbawa Great Sale, juga belum memberikan dampak positif untuk peningkatan okupansi hotel, sejak Lombok ditimpa bencana gempa beberapa bulan yang lalu. Sehingga untuk mensiasati agar kamar bisa terisi, para pengusaha hotel di Senggigi kini kembali memberikan diskon besar-besaran, mulai dari diskon 30 persen, hingga 50 persen.

BACA JUGA: Penerbangan belum Normal, Okupansi Hotel Turun Drastis

Hal ini dilakukan oleh para pengusaha perhotelan, agar kamar mereka bisa terisi, meskipun hanya setengah. Apalagi saat ini juga masih musim low season (sepi tamu). Contohnya Hotel Holiday Resort Lombok, belum ada kecendrungan meningkat tamunya. Dimana sejak bencana gempa, tingkat keterisian hotel hanya 10 persen saja setiap bulan. Akibatnya, pengusaha pun merugi ratusan juta untuk biaya operasional hotel.

Director of Marketing Holiday Resort Lombok, Lilis Martafeni, mengatakan paska terjadinya bencana gempa bumi, tingkat akupansi hotel hanya 10 persen, dan belum meningkat hingga kini. “Okupansi kamar masih dibawah 20 persen. Angkanya sekitar 18 persen,” tuturnya.

Memang ada kenaikan dari tingkat hunian kamar 10 persen beberapa bulan lalu, menjadi 20 persen. Namun secara umum, tingkat okupansi hotel, khususnya di kawasan wisata Senggigi masih belum signifikan. Untuk itu, sangat diperlukan promosi dan pelaksanaan event-even baik berskala lokal maupun nasional.

Termasuk kalangan para pengusaha hotel juga memberikan diskon besar-besaran kepada para tamu agar mau menginap di hotel. Seperti Hotel Holiday Resort, kata Lilis, saat ini berlaku diskon hingga 30 persen bagi para wisatawan, dan masih banyak lagi program lainnya yang diberikan kepada para wisatawan. “Bahkan ada hotel lain yang memberikan diskon sampai 50 persen,” ujarnya.

Kondisi perang diskon besar-besaran antar hotel ini dikhawatirkan akan membuat terjadinya perang harga. Sehingga justeru membuat kondisi pengusaha hotel semakin terpuruk, jika harga kamar hotel semakin turun.

Menurutnya, penyebab masih sepinya wisatawan selain pengaruh paska bencana gempa, juga dikarenakan faktor harga tiket pesawat yang mahal, termasuk penerapan kebijakan bagasi berbayar. Karena itu, dia berharap lebih banyak even-even berskala besar, dengan mendatangkan tokoh besar atau artis-artis besar, yang tentunya bisa menyedot tamu, baik mancanegara maupun domestik. “Saat ini okupansi hotel lebih dominan wisatawan domestik dari pada wisatawan mancanegara,” sebutnya.

BACA JUGA: Nikmati Sensasi Pedas Ayam Geprek Menu Buka Puasa di Hotel Santika

Sementara itu, General Manager Kila Hotel Senggigi, Erik Ramadhan Tumbaleka mengatakan, kalau di hotelnya saat ini juga memberikan diskon selama musim low season. “Iya kita memang ada diskon selama periode low season ini,” ujarnya.

Namun soal harga lanjut Erik, rate-nya masih lebih besar dibandingkan hotel-hotel lainnya di Senggigi yang sekelas. “Pihak hotel tidak bisa menurunkan harga dengan sangat ekstrim, karena manajemen tetap harus menjaga kualitas. Kila Hotel saat ini okupansinya sejak bulan Januari sampai 12 Maret 2019 sudah mulai naik, dan angkanya sekarang 42 persen,” tuturnya. (ami)