Penerbangan belum Normal, Okupansi Hotel Turun Drastis

Kadis Pariwisata NTB : Trawangan Sudah Mulai Ramai

Okupansi Hotel
WISATAWAN : Meski harga tiket tinggi dan adanya kebijakan bagasi berbayar, namun wisatawan tidak surut niatnya untuk datang ke Gili Trawangan. Seperti foto yang diambil belum lama ini. (Ist for Radar Lombok)

MATARAM – Kondisi penerbangan yang belum normal yakni masih tingginya harga tiket serta kebijakan bagasi berbayar membuat sektor pariwisata daerah ini terpukul. Tingkat keterisian kamar hotel (okupansi) menurun drastis.” Sangat berpengaruh, okupansinya turun sampai 30 persen dengan adanya kenaikan harga tiket dan bagasi berbayar ini,” ungkap Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provisni NTB, I Gusti Lanang Patra, Selasa (12/2)

Okupansi hotel pada 2018 lalu dengan periode yang sama saat ini disebut jauh lebih baik. Pada Febuari tahun ini penurunannya mencapai 20 persen. Jika ini terus terjadi, maka ini akan mematikan sektor pariwisata NTB.

BACA JUGA: Imbas Tiket Mahal dan Bagasi Berbayar, Pariwisata Lombok Keteteran

Kenaikan harga tiket dan penerapan bagasi berbayar adalah kebijakan maskapai karena naiknya harga avtur. Hal ini juga telah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo menyangkut upaya menormalkan harga avtur. “ Presiden Jokowi mengatakan bahwa harga avtur akan diturunkan atau sama dengan harga avtur di luar negeri,  karena ini salah satu penyebab naiknya harga tiket pesawat,” ungkapnya.

Wakil Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Lombok, Ernanda Agung Dewobroto, mengatakan kenaikan  harga tiket dan kebijakan bagasi berbayar sangat berpengaruh terhadap kondisi keterisian kamar hotel. Sejumlah event yang digelar misalnya Lombok Sumbawa Great Sale (LSGS) nyatanya masih belum mampu meningkatkan okupansi. “ Seharus ini menjadi perhatian pemerintah pusat, di mana kebijakan avtur dan biaya lainnya perlu dievaluasi, dan okupansi kita masih di bawah 30 persen,” ungkap Ernanda.

Ia berharap maskapai penerbangan bersedia menurunkan harga tiket penerbangan yang melonjak di awal tahun. Selain itu pemerintah daerah juga bisa melobi pemerintah pusat agar banyak menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di NTB dalam rangka memaksimalkan MICE. “Bukan hanya event-event yang hanya seremonial saja yang memenuhi jadwal calender of event kita. Harus ada dorongan dari Pemda untuk ini,” jelasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, H. Lalu Moh Faozal, mengatakan, Pemprov NTB telah bersurat ke pihak maskapai untuk mengatasi berbagai persoalan penerbangan saat ini. “ Kita sudah berkirim surat ke maskapai. Tapi ini memang masalah di semua daerah. Malah di Batam ada demo,” terangnya kepada Radar Lombok, Selasa (12/2).

Surat dilayangkan ke semua maskapai penerbangan. Diantaranya ke pihak Citilink, Lion Air, Garuda dan lain-lain. Namun hingga saat ini belum ada respon atau balasan yang memuaskan. 

Disampaikan Faozal, surat ke maskapai tersebut terkait dengan frekuensi penerbangan dari dan ke Lombok agar dipertahankan. Kemudian, pihak maskapai juga diminta memberikan harga promo untuk meringankan beban masyarakat dan wisatawan. “ Saya malah diminta beli pesawat sendiri agar tiketnya bisa dijual murah,” tuturnya. 

Kondisi saat ini tentu saja berdampak langsung terhadap pariwisata. Target 4 juta kunjungan wisatawan juga terancam sulit terpenuhi. Masalah tersebut dialami oleh seluruh daerah, bukan hanya NTB. 

Faozal mencontohkan pariwisata di Sumatera Barat (Sumbar). Sektor pariwisata sangat terganggu oleh kenaikan harga tiket pesawat yang mencapai 250 persen dalam sebulan terakhir. Pendapatan Angkasa Pura di Sumbar, tambahnya, juga turun drastis. Kebijakan maskapai yang dinilai tidak berpihak pada sektor pariwisata juga berdampak di Aceh.

“ Bisnis perhotelan mengalami kerugian terhitung Januari kemarin hingga sekarang. Artinya, kejadiannya hampir di seluruh Indonesia,” tegas Faozal. 

BACA JUGA: Tiket Mahal dan Bagasi Berbayar Bikin Pariwisata NTB Terpuruk

Di Sabang, beberapa maskapai seperti Garuda dan Wings Air justru menutup rute penerbangan yang selama ini sudah ada.

Meskipun begitu, NTB patut bersyukur. Hingga saat ini masih ada wisatawan yang mau datang meski harga tiket mahal. Terutama wisatawan yang datang ke Gili Trawangan. “Ini Trawangan kemarin pagi, sudah mulai,” kata Faozal sembari memperlihatkan beberapa foto kondisi di Gili Trawangan. 

Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro, yang dihubungi Radar Lombok, belum bisa memberikan tanggapan. Dirinya tidak bisa berbicara banyak tentang harga tiket yang mahal dan tarif bagasi berbayar. “ Saat ini memang memasuki musim low season atau sepi. Kami di Lion saat ini fokus dengan rute yang sudah ada ya,” jawabnya.(cr-dev/zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut