Pola Pengasuhan Orang Tua terhadap Anak

Yulia Fitria Anjani, Mahasiswi Jurusan PIAUD UIN Mataram (IST/RADAR LOMBOK)

Oleh Yulia Fitria Anjani, Mahasiswi Jurusan PIAUD UIN Mataram

Setiap orang tua tentunya akan berusaha memberikan pengasuhan terbaik untuk anak-anak mereka. Namun terkadang banyak orang tua yang salah dalam memberikan pengasuhan.

Terdapat begitu banyak pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua, di antaranya adalah pola pengasuhan permisif, di mana orang tua sangat memelihara dan sangat mencintai anak-anak mereka, sehingga cenderung memanjakan dan memberi kebebasan kepada anak atas apapun yang diinginkan dan dilakukannya.

Namun dengan pola asuh permisif ini, orang tua kurang menekankan  tanggung jawab dan kurang menegaskan konsekuensi kepada anak ketika malakukan sebuah kesalahan. Hal inilah yang menyebabkan anak tidak lagi hormat dan bersikap semaunya kepada orang tua.

Selain pola pengasuhan permisif, ada  juga pola pengasuhan positif, di mana orang tua memberikan pengasuhan kepada anak mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang, menghargai semua bentuk usaha dan pencapaian anak sehingga tercipta sebuah kenyamanan dan kehangatan di dalam keluarga.

Kemudian ada pola pengasuhan demokratis. Pola pengasuhan ini merupakan yang paling baik dan tepat. Di mana orang tua menanamkan disiplin kepada anak-anak mereka, selalu menghargai kebebasan yang tidak mutlak, dengan memberikan bimbingan yang penuh pengertian antara anak dan orang tua.

BACA JUGA :  Partisipasi Orang Tua Terhadap Pembelajaran Daring Anak

Dengan menerapkan pola pengasuhan demokratis ini, orang tua dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak dan pada akhirnya anak mampu bertindak sesuai dengan norma yang ada. Orang tua akan selalu mengajar anaknya agar terus menjadi lebih baik. Misalkan anak harus selalu berbagi kepada teman-temannya, dan orang tua akan menjelaskan kepada anak kenapa harus selalu berbagi.

Seberapa beratkah mengasuh AUD di masa pandemi covid-19?

Dengan kondisi saat ini, di mana sekolah diliburkan karena adanya pandemi covid-19, menyebabkan semua anak harus belajar di rumah dengan bimbingan dan pengasuhan langsung orang tua.

Jika sebelumnya orang tua menyerahkan pendidikan dan pengasuhan anak mereka sepenuhnya kepada guru, sekarang mau tidak mau orang tua harus mampu mengajarkan anak mereka setiap hari di rumah. Meskipun sebenarnya para orang tua tidak pernah diajarkan menjadi guru, akan tetapi selama masa pandemi ini mereka dipaksa menjadi guru untuk anak-anak mereka. Bisa dibayangkan betapa repotnya menjadi orang tua di masa pandemi covid-19 ini.

BACA JUGA :  Pentingkah Pendidikan Seks untuk Anak Usia Dini?

Semenjak adanya wabah coid-19, anak-anak terpaksa harus belajar di rumah. Namun bukannya sibuk belajar, anak-anak malah lebih banyak menghabiskan waktunya bermain game online. Para orang tua merasa sangat resah melihat anak mereka yang lebih mementingkan game dibandingkan dengan tugas sekolah. Namun meskipun orang tua melihat anak-anaknya bermain game sepanjang hari dan tidak belajar, orang tua hanya bisa terdiam karena ia sendiri tidak bisa mengajarkan anak-anaknya dikarenakan tidak paham dengan materi di buku pelajaran anak.

Jadi untuk menghindari hal tersebut, yang harus dilakukan oleh orang tua dalam kondisi pandemi saat ini ialah lebih mendekatkan diri kepada anak, memberikan nasihat-nasihat dengan bahasa yang lembut dan sederhana sehingga anak merasa tersentuh, membuat berbagai kegiatan yang menarik dan menyenangkan agar anak lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melakukan hal-hal positif bersama keluarga. (**)