Peserta Konfrensi Internasional AMSA Ditelantarkan Panitia

Peserta Konfrensi Internasional AMSA Ditelantarkan Panitia
MEDIASI:Para peserta melakukan mediasi dengan salah satu fasilitator acara namun tidak ada titik temu Kamis kemarin (23/3). (M.Haeruddin/Radar Lombok)

MATARAM—Ratusan peserta International Conference ASEAN Muslim Students Association dari berbagai negara  diduga ditelantarkan oleh panitia pelaksana dari ASEAN Muslim Students Association (AMSA).

Sejak acara pembukaan yang digelar di aula Badan Kepegawaian Daerah (BKD) NTB Rabu malam lalu (22/3), tidak  satupun panitia  terlihat. Bahkan menurut sejumlah peserta, panitia sudah kabur sehingga mereka tidak tahu harus kemana lagi untuk meminta pertanggungjawaban.

Siswanto  salah seorang peserta  asal Universitas Islam Riau menyampaikan  konfrensi internasional pemuda muslim ASEAN ini diikuti  peserta dari sejumlah negra ASEAN. Para peserta dikenakan biaya pendaftaran Rp 200 ribu dengan beberapa fasilitas yang akan disediakan oleh panitia. ”Namun jangankan fasilitas lengkap, makan saja kita tidak dikasi. Padahal ketika kita mendaftar, panitianya bilang  bahwa akan di fasilitasi semuanya,”ungkapnya ketika ditemui di aula BKD NTB Kamis kemarin (23/3).

[postingan number=5 tag=”peristiwa”]

Ia menyampaikan program  panitia di dalam proposal kegiatan sangat bagus. Selain mempererat silaturrahmi  dan persaudaraan mahasiswa dan pemuda muslim di ASEAN namun acara itu juga untuk membicarakan dinamika persoalan yang ada di ASEAN. ”Untuk itu kami dari perwakilan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) se-ASEAN mengikuti ini karena ini  sangat penting, tapi pada kenyataanya ini tidak sesuai dengan apa yang tercantum di undangan dan proposal. Padahal kita sudah bayar uang administrasi,”ujarnya.

Siswanto  menyayangkan sikap panitia yang saling lempar tanggung jawab. Terlebih peserta yang mengikuti kegiatan tersebut bukan hanya dari Indonesia akan tetapi dari luar negeri seperti Malaysia, Myanmar dan beberapa negara ASEAN lainnya.”Acara ini sudah kami anggap selesai. Kami tidak mau tahu panitia harus bertanggung jawab karena uang yang kami gunakan disini merupakan uang dari kampus, sehingga kami juga ketika pulang harus mempertanggungjawabkan penggunaanya,”tambahnya.

Panitia  juga harus  meminta ma’af baik secara lisan maupun secara tertulis serta bertanggung jawab untuk mengembalikan uang peserta, baik itu untuk registerasi maupun transportasi.”Kami juga membayar teransportasi ke sini padahal kata panitia kita dijemput di bandara,”kesalnya.

Hal yang sama disampaikan oleh I.Ya Esty Pratiwi mahasiswa asal  Universitas Muhammadiyah Surabaya. Ia  sangat kecewa karena acara berlabel  internasional namun diberlakukan tidak sesuai dengan yang diharapkan. ”Kami juga meminta audiensi dengan pemkot maupun pemprov untuk mengklarifikasi acara ini,”tambahnya.

Ia mengancam akan memboikot AMSA dan menginisiasi terbentuknya perkumpulan lain yang lebih jelas atas dasar pemilihan dan kesepakatan bersama. ”Kami minta pertanggung jawaban dari panitia yang telah memperlakukan kami seperti ini,”ujarnya.

Para peserta sempat emosi dan memukul-mukul meja namun beruntung aparat kepolisian dari Polda NTB dibantu dari Polsek Mataram menenangkan para peserta. Tidak berselang lama datang seorang  wanita  yang mengaku salah satu fasilitator dalam acara  tersebut. Oleh polisi, peserta dimediasi dengan wanita yang bernama Ida Wahyuni itu.

Ida mengaku sebenarnya bukan panitia namun hanya membantu untuk memfasilitasi sehingga ia akan mencoba mengkomunikasikanya dengan pihak panitia. Namun ia menyampaikan  apa yang terjadi karena panitia masih fokus untuk menjemput para peserta yang masih dalam perjalanan.”Kami tetap menyediakan makanan tapi makanannya belum datang dan saya hanya sebagai fasilitator antara panitia dengan pemerintah,”ujarnya.

Diakuinya juga susunan  acara dalam undangan tidak sesuai dengan apa yang ada di lokasi karena antara narasumber dengan panitia juga miskomunikasi. Namun ia memastikan bahwa kegiatan tersebut tetap bisa berlanjut.”Nanti malam (tadi malam) kita di pendopo pemkot dan besoknya kita ke Lombok Tengah untuk konfrensi dan menuju sport wisata,”ujarnya.

Namun mahasiswa yang sudah terlanjur kesal tidak mau mendengarkan penjelasan Ida. Peserta  hanya ingin di datangkan panitia untuk mengklarifikasi permasalahan tersebut karena sudah dinilai gagal.”Acara ini sudah kami anggap selesai dan kami tidak mau tau kegiatan selanjutnya. Intinya sekarang kembalikan uang kami dan datangkan kami panitianya,”ungkap peserta lainnya.

Selain diprotes peserta, ternyata izin acara dari kepolisian belum dikantongi. Sumber di Intelkam Polda NTB menyebut,  panitia sudah mengajukan izin kegiatan namun setelah itu panitianya hilang.”Kami belum mengeluarkan izin karena panitianya kita telpon tidak diangkat dan email juga tidak dibalas,”ungkap pejabat Polda ini.

Namun ia mengharapkan agar permasalahan tersebut berjalan dengan baik. Panitia diminta bertanggung jawab. ”Kami mengasih waktu untuk panitia agar datang untuk mengklarifikasi kegiatan ini sebelum kami bubarkan,”bebernya.

International Conference ASEAN Muslim Students Association rencananya digelar  mulai tanggal 22-25 Maret 2017 yang berlokasi di Mataram dan Lombok Tengah.(cr-met)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid