Perajin Ketak Mulai Kesulitan Memasarkan Produknya

Perajin Ketak
M Kardi dan istri membawa menunjukan produksi kerajinan ketak saat memamerkan produknya di Kuta Mandalika. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM Ketak yang merupakan kerajinan terbuat dari bahan baku akar-akaran, jika sebelumnya mendapat respon positif dari pembeli berbagai daerah, bahkan hingga ekspor keluar negeri. Kini, kerajinan ketak mulai meredup. Bahkan perajin mulai kesulitan untuk memasarkan produk mereka.

Perajin ketak di Desa Darmaji Kopang Lombok Tengah M Kardi mengaku meskipun sempat booming beberapa tahun silam, namun kini sudah tak ada lagi.  Kardi bersama dengan perajin lainnya mencoba untuk terus berinovasi mengembangkan kerajinan ketak agar banyak diminati, baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara.

BACA JUGA: Kain Tenun Akan di Produksi Massal Menggunakan Mesin

“Kita terus menghadirkan banyak inovasi  untuk menghadirkan kerajinan ketak yang menarik bagi konsumen,” kata M Kardi yang juga pemilik UD Terang Terus, Senin kemarin (21/1).

Selain menjadi perajin ketak, Kardi juga aktip sebagai pengepul dan juga pembina untuk melatih masyarakata sekitar lingkungan membuat ketak dengan terus mengembangkan invovasi. Produksi kerajinan ketak yang penuh dengan kreativitas dan inovasi, sehingga mampu bersaing dengan produk barang dari daerah lainnya.

“Kendala kita dipemasaran saja. Memang kita sudah pernah mencoba mengikuti pameran di Malaysia dan Singapura, tetapi permintaan kerajinan ketak hanya di Indonesia saja belum sampai keluar negeri,”  terangnya.

Menurutnya,  saat ini yang diperlukan oleh pengrajin adalah bagaimana cara untuk meningkatkan peminat ketak sendiri diperlukannya inovasi sesuai dengan permintaan pasar. Maka dari itu Kardi terus mencoba dan mendorong anggota binaannya untuk mengembangkan kreasi dari kerajinan ketak. Tidak hanya sebatas pada membuat tas dan beberapa perlengkapan rumah tangga saja, tapi berbagai kerajinan yang bisa dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan.

BACA JUGA: Perajin Tenun Tradisional Siap Bersaing dengan Pabrikan

“Kita latih mereka untuk bisa membuat yang unik berbeda dari lainnya. Saat ini ada sekitar 20 anggota yang kita bina, berikan modal dan mengajak mereka untuk mengikuti event-event,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB Andi Pramaria mengatakan kerajinan ketak yang memang beberapa waktu lalu booming, tetapi sekarang kian mehilang. Hal tersebut dikarenakan sulitnya mendapatkan bahan baku oleh perajin ketak. Selain itu untuk bahan bakunya kebanyakan berasal dari hutan.

“Jadi mau tidak mau kita mendorong dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk melakukan budidaya ketak, supaya bisa dipakai untuk bahan baku kerajinan ketak itu,” ujarnya. (cr-dev)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut