Perajin Tenun Tradisional Siap Bersaing dengan Pabrikan

Perajin Tenun Tradisional
Salah seorang perajin kain tenun asal Lingsar, Lombok Barat. (Devi Handayani/Radar Lombok)

MATARAM Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat memproduksi kain tenun secara masal dengan menggunakan mesin printing ditanggapi santai oleh para perajin kain tenun. Bagi para perajin kain tenun, kebijakan Pemprov NTB yang akan mendatangkan mesin printing untuk memproduksi kain tenun secara masal tidak menjadi persoalan.

BACA: Kain Tenun Akan di Produksi Massal Menggunakan Mesin

“Bagi kami tidak ada masalah dengan kebijakan mendatangkan mesin printing oleh pemerintah. Karena kami yakin kain tenun produksi perajin secara tradisional akan tetap menjadi pilihan utama konsumen,” kata perajin kain tenun asal Pringgasela Lombok Timur Maliki, Senin kemarin (21/1).

Menurut Maliki, dengan adanya mesin printing yang akan didatangkan oleh Pemprov NTB untuk memproduksi secara masal kain tenun, tidak lantas membuat para perajin konvensional merasa tersaingi.  Justru dengan adanya persaingan dikalangan industri akan semakin membuat perajin kain tenun konvensional lebih termotivasi untuk menghadirkan produksi kain tenun yang lebih bagus dari sebelumnya dan sesuai keinginan dan permintaan pasar.

“Kehadiran mesin printing tenun tidak akan menjadi masalah bagi kami yang perajin tenun tradisional. Justru ini menjadikan kami semakin kuat dan tetap maju,” ucap Maliki.

Maliki mengatakan, mesin printing tenun akan menghasilkan tenun dengan cap dan harga lebih murah. Berbeda dengan hasil yang dibuat perajin langsung secara konvensional, di mana pengerjaannya membutuhkan waktu cukup lama sekitar 1 bulan. Karena prosesnya ini membuat harganya lebih mahal. Selain itu, menenun merupakan peninggalan dari nenek moyang sejak lama dan akan terus dilestarikan oleh generasi penerusnya.

“Kami perajin kain tenun Pringgasela akan tetap menenun secara tradisional, meskipun ada mesin printing tenun itu. Tenun memang bukan di Lombok saja, ada juga di Bima dan Sumbawa, tentunya tidak membuat kita surut,” jelasnya.

Maliki memastikan dirinya bersama perajin tenun lainnya memproduksi tenun tidak hanya untuk memenuhi permintaan akan kain tenun pasca adanya penetapan pemerintah untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) menggunakan tenun sebagai baju dinas. Namun lebih kepada untuk memenuhi permintaan pasar dan setiap kali mengikuti pameran.

Dengan demikian produksi kain dari para perajin tenun konvensional ini tidak mengandalkan pembelian dari ASN. Karena jauh sebelumnya produksi kain tenun tetap eksis dengan konsumen yang berasal dari dari berbagai latar belakang profesi, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara.  

“Jadi kita bukan hanya mengandalkan pembelian sesaat, kami tidak akan kendor. Selain itu, kita juga masih banyak mengikuti beberapa pameran di luar daerah  dan permintaan pasar luar dan dalam negeri,” ungkapnya.

BACA JUGA: Perajin Ketak Mulai Kesulitan Memasarkan Produknya

Perajin kain tenun lainnya dari Desa Puyung Lombok Tengah Hj Robiah mengaku dengan adanya mesin printing tenun tersebut, baginya menjadi pesaing terhadap perajin tenun tradisional. Dikarenakan mampu memproduksi tenun dengan hasil yang lebih banyak.

“Tentunya kita tersaingi, tetapi harus jelas ditulis kalau itu tenun printing bukan tenun tradisional,” cetusnya.

Selain itu, meskipun dengan menghasilkan tenun printing tentunya hasilnya harus sesuai dengan hasil produksi tenun tangan secara konvensional. Walaupun harganya lebih murah dibandingkan dengan tenun tradisional, karena harus memenuhi permintaan yang banyak. Namun perajin yang ada tidak hanya di Lombok saja, tetapi ada juga di Pulau Sumbawa.

“Perajin tradisional disini banyak, meskipun kita merasa tersaingi, namun tetap saja untuk kualitas tenun tradisional lebih bagus,” pungkasnya. (cr-dev)