Kain Tenun Akan di Produksi Massal Menggunakan Mesin

Kain Tenun Akan di Produksi Massal Menggunakan Mesin
Salah satu perajin kain tenun tuna netra di Desa Peteluan Indah, Kecamatan Lingsar Lombok Barat tengah menenun untuk menjadikan selembar kain. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Kebijakan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Dr H Zulkieflimansyah – Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah yang mewajibkan penggunaan kain tenun sebagai seragam dinas bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat harusnya didukung kesiapan infrastruktur produksi kain tenun tersebut.

BACA JUGA: Perajin Tenun Tradisional Siap Bersaing dengan Pabrikan

Pasalnya, saat ini produksi kain tenun oleh perajin masih terbatas. Karena perajin kain tenun masih memproduksi secara manual. Sementara, jika kain tenun mulai diterapkan sebagai pakaian wajib bagi ASN, maka perajin tidak sanggup memenuhi permintaan puluhan ribu dari ASN Pemprov NTB dalam waktu singkat.

Oleh sebab itu, Dinas Perindustrian Provinsi NTB mulai merencanakan untuk memproduksi kain tenun secara massal dengan melakukan pengadaan mesin printing tenun.

“Sekarang ini bagaimana menghadirkan mesin printing untuk memproduksi kain tenun secara massal. Tetapi mesin printing ini tidak perlu dibeli, melainkan di cloning dan di buatkan untuk memenuhi permintaan kain tenun,” kata Kepala Dinas Perindustrian (Disperin) Provinsi NTB Andi Pramaria, Sabtu (19/1).

Andi mengatakan bahwa kebutuhan kain tenun, jika memang nantinya akan banyak di gunakan oleh pegawai dinas di pemerintahan provinsi NTB serta ASN kabupaten/kota termasuk pegawai BUMN di cabang daerah, maka tentunya pasti akan membutuhkan produksi dalam jumlah besar. Jika hanya mengharapkan produksi kain tenun dari perajin dan di produksi secara manual, maka sulit bisa memenuhi permintaan yang begitu banyak dalam waktu singkat.

Belum lagi persoalan harga yang cukup mahal, jika kain tenun yang harus di beli oleh ASN itu merupakan dari perajin. Oleh sebab itu, agar harga kain tenun itu bisa terjangkau dan lebih murah, maka sudah semestinya kain tenun di produksi secara massal menggunakan mesin printing.

“Untuk memenuhi kebutuhan kain tenun yang banyak, maka perlu ada industry atau pabrik skala besar. Khusus nantinya hasil perajin kain tenun yang produksi secara manual, itu ada pasar khususnya. Sehingga perajin kain tenun tetap eksis dengan pangsa pasar tersendiri,” jelasnya.

Lebih lanjut Andi mengatakan, nantinya yang membuat mesin-mesin printing kain tenun tersebut adalah orang-orang yang berada di Sains Teknologi Industri Park (STIP) Banyumulek, Lombok Barat. Dinas Perindustrian akan memberikan fasilitas, seperti pelatihan bagi mereka yang ingin membuat mesin printing tersebut.

Misalkan mengadakan pelatihan terus kemudian mereka mencoba untuk membuat kain tenun dan menjualnya. Nanti investornya dari orang yang ikut pelatihan itu, atau juga boleh dari perusahaan.

BACA: Kain Tenun Resmi Jadi Seragam Dinas ASN

“Kita hanya yang memfasilitasi pelatihan dan tempatnya saja,” terangnya.

Sementara itu, dengan adanya pelatihan yang diberikan untuk membuat mesin printing tenun tersebut, sehingga nantinya dapat memudahkan perajin untuk memenuhi permintaan akan kain tenun dengan harga terjangkau. Karena tenun tanpa buatan mesin harganya cukup mahal, tetapi mesin tersebut sesuai hasilnya dengan tenun buatan tangan.

“Bapak gubernur itu maunya kalau kita buat tenun printing, berarti butuh alat-alat mesin canggih. Sehingga hasilnya bagus, persis seperti tenun buatan tangan perajin,” tandasnya. (cr-dev)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut