Pendidikan Masih Tidak Adil Untuk Kaum Disabilitas

BERDIALOG : Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi mengadakan dialog langsung dengan pelajar dan mahasiswa usai upacara bendera, Selasa kemarin (2/5) (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang dilaksanakan Pemerintah provinsi (Pemprov) NTB cukup menarik tahun ini. Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi selaku orang nomor satu di NTB melakukan dialog langsung dengan para pelajar dan mahasiswa usai upcara bendera di lapangan Gumi Gora, Selasa kemarin (2/5).

Dalam dialog langsung tersebut, kaum disabilitas menyampaikan ketidakadilan yang selama ini mereka terima. Sementara, pemerintah terkesan hanya berdiam diri saja tanpa memberikan intervensi demi mewujudkan keadilan. “Banyak sekolah maupun perguruan tinggi yang menolak kami,” ungkap Aliya, salah seorang siswi dari kaum disabilitas kepada gubernur.

Aliya yang memiliki keterbatasan itu dibantu oleh guru penerjemah saat menyampaikan keluhannya. Aliya ingin sekali menjadi guru, karena itu memang cita-citanya. Namun, banyak kaum disabilitas yang tidak mendapatkan kesempatan belajar sampai perguruan tinggi.

Keluhan yang sama juga disampaikan siswa-siswi penyandang disabilitas lainnya. Kepada Gubernur, mereka yang berkebutuhan khusus itu mengadu karena pendidikan saat ini masih tidak adil. “Agar bisa menggapai cita-cita seperti menjadi seorang guru, kami harus sekolah tinggi. Tapi malah orang seperti kami banyak ditolak,” curhatnya.

Selain berdialog dengan kaum disabilitas, gubernur juga mendengarkan pendapat mahasiswa tentang kondisi pendidikan di NTB. Dalam dialog tersebut, seorang mahasiswa dari IKIP Mataram, Raka mengakui jika layanan pendidikan di NTB sudah cukup baik. Namun, kondisi tersebut sangat berbeda jika melihat sekolah-sekolah di pelosok desa.

Diungkapkan, sampai dengan sanat ini, banyak sekolah yang kondisinya kurang layak dan fasilitas yang ada jauh dari kata memadai. “Kalau di kota, memang bagus sekolah-sekolahnya, fasilitas juga lengkap. Tapi berbeda sekali dengan di desa, pemerataan pendidikan ini yang belum terjadi,” ungkapnya.

Raka berharap pemerintah daerah memperhatikan masalah tersebut. Pemerataan pendidikan tidak boleh dianggap remeh. Mengingat, kualitas pendidikan akan menentukan juga kondisi masyarakat kedepannya.

Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi yang didampingi wakil gubernur H Muhammad Amin dan Sekretaris Daerah (Sekda) Rosiady Sayuti merespon langsung berbagai persoalan yang disampaikan para pelajar dan mahasiswa tersebut. “Tidak boleh ada lembaga pendidikan yang menghalangi hak anak dengan menolak mereka menempuh pendidikan,” tegas gubernur menanggapi keluhan kaum disabilitas.

Dikatakan, semua pihak harus membangun keadilan dalam sektor pendidikan. Terutama institusi pendidikan yang ada di NTB, sudah seyogyanya menyayangi anak-anak berkebutuhan khusus. “Mereka ini juga generasi yang menentukan bangsa kita. Bentuk kasih sayang itu, buka kesempatan pendidikan bagi mereka pada semua jenjang dan lembaga pendindikan,” pintanya.

Seluruh perguruan tinggi di NTB juga tidak boleh diskriminatif dalam penerimaan mahasiswa baru. Mulai tahun ini, gubernur akan mengawal perguruan tinggi agar tidak menolak kaum disabilitas lagi. Gubernur berjanji akan mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan kewenangannya bersama seluruh instrument terkait.

Dalam kesempatan tersebut, gubernur juga berpesan agar anak-anak NTB kedepan bisa menjadi generasi yang tidak hanya cerdas tetapi juga berakhlak mulia. Untuk mencapai itu, para pelajar dan mahasiswa harus belajar lebih keras dan sungguh-sungguh. “Kalau kalian tegas pada diri kalian sekarang, maka dunia akan lunak kepada diri kalian di masa yang akan datang. Kalau kalian lunak sekarang pada diri kalian, maka dunia akan keras pada diri kalian di masa yang akan datang,” ucapnya memberikan nasehat.

Hardiknas bagi gubernur merupakan momentum untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk bisa mewujudkan visi pembangunan, NTB harus memiliki masyarakat dengan kualitas pendidikan yang baik dan hebat. Untuk bapak-ibu guru, jadikanlah anak-anak kita para peserta didik tidak hanya sekedar murid, tetapi juga anak-anak kita sendiri yang kita asuh dengan hati. Jadikan sekolah menjadi tempat yang ramah bagi semua, baik bagi yang disabilitas maupun bagi anak-anak yang biasa,” himbaunya. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid