Konsumen Pertamax Ramai-ramai Beralih Gunakan Pertalite

ANTREAN : Antrean panjang pembelian BBM jenis Pertalite di SPBU Pagesangan, kemarin. (RATNA / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Komsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite mengalami lonjakan yang cukup signifikan selama mudik lebaran. Tingginya harga BBM jenis Pertamax kuat dugaan menjadi pemicu, banyaknya konsumen yang beralih menggunakan Pertalite yang harganya jauh lebih murah.

“Tidak hanya Jatimbalinus (Jawa Timur, Bali, Nusantara), secara nasional ada penurunan sebanya 5 persen pengguna BBM jenis Pertamax yang beralih ke Pertalite,” ungkap Section Head Communication & Relations Pertamina Jatimbalinus Arya Yusa Dwicandra, Jumat (13/5).

Kendati demikian, migrasinya penggunaan BBM dari Pertamax yang beralih ke Pertalite, menurutnya bukan persoalan. Sebab jika dilihat dari perbedaan harga kedua bahan bakar tersebut yang cukup tinggi. Oleh karena kembali pada pilihan konsumen masing-masing, sehingga tidak dapat dipaksakan mereka harus menggunakan BBM Pertamax atau Pertalite untuk kendaraannya.

“Kami dari Pertamina mempersilakan konsumen untuk memilih produk yang sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraannya,” terangnya.

Sementara itu, dengan harga Pertamax yang mengalami kenaikan kemungkinan akan indikasi ada peralihan penggunaan BBM dari Pertamax ke Pertalite. Di mana untuk konsumsi Pertamax porsinya 10 hingga 15 persen dari total konsumsi BBM jenis gasoline di SPBU rata-rata, sementara yang 80 persen masih didominasi Pertalite.

BACA JUGA :  Harga Cabai Anjlok, Belum Ada Solusi Membantu Petani

“Kalau toh ada pergeseran tidak akan terlalu signifikan mengingat konsumen yang mengisi Pertamax rata-rata memang sudah memahami kondisi mesin kendaraannya. Stok pun untuk Pertalite masih aman,” ungkapnya.

Menurutnya, menjadi pilihan konsumen jika ingin beralih, namun perlu diketahui bahwa jenis BBM akan memengaruhi kualitas mesin kendaraan. Konsumen dapat melihat di buku manual kendaraan jenis BBM apa yang cocok untuk mesin kendaraan mereka. Tentunya dengan mengisi BBM yang beroktan tinggi pada kendaraan selain membuat mesin jadi lebih awet juga emisi menjadi lebih baik dan udara lebih bersih.

Sementara dari segi pasokan BBM di NTB, sudah dilakukan pendistribusian agar kebutuhan BBM tetap aman dan terpenuhi. Begitu juga dengan ketersediaan, baik untuk Pertalite maupun Pertamax di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Umum (SPBU).

“Ketersediaan masih aman dan lancar tidak ada kendala,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPC Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) NTB I Komang Ghandi mengatakan ada perubahan perilaku pengguna Pertamax yang berimigrasi ke Pertalite, terlihat dari menurunnya angka penjualan BBM jenis Pertamax di sejumlah Pertashop.

BACA JUGA :  PPN 11 Persen Mulai Berlaku Hari Ini, Beban Masyarakat Bertambah

“Tidak bisa dipungkiri peralihan ini, tetapi dari pihak SPBU tetap beri edukasi ke masyarakat. Meski beralih tapi stok BBM jenis Pertamax hingga Pertalite masih aman dan kondusif. Termasuk pendistribusiannya ke sejumlah SPBU di Lombok dan Sumbawa masih aman dan lancar,” ujarnya.

Hal yang sama disampaikan petugas SPBU di Pagesangan, Agus Muliadi. Sejak kenaikan harga Pertamax per 1 April kemarin. Pengguna BBM jenis pertamax makin berkurang. Kemudian banyak beralih menggunakan BBM jenis pertalite.

“Rata-rata di semua SPBU pengguna Pertamax turun dan beralih ke Pertalite, karena perbedaan harganya jauh sekali, ya pasti beralih lah,” ujarnya.

Dijelaskan Agus, banyak masyarakat yang beralih ke BBM jenis pertalite, lantaran harganya jauh lebih terjangkau. Terlebih selisih harga pertalite dan pertamax mencapai Rp 4.850 ribu per liter. Untuk itu pertalite menjadi salah satu pilihan masyarakat karena harganya masih Rp7.650 ribu per liter.

“Entah karena pengguna Pertalite yang meningkat. Namun yang pasti kapasitas Pertalite yang datang saat ini lebih cepat habis,” tuturnya. (cr-rat)