Kasus PMK di Pulau Sumbawa Semakin Mengkhawatirkan

VAKSIN : Salah seorang petugas di UPT Serading melakukan vaksin pada ternak sapi. (IST/ RADAR LOMBOK )

MATARAM – Penyebaran wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak berkaki genap di Provinsi NTB semakin meluas. Pasalnya, ribuan kasus PMK sudah ditemukan di Pulau Sumbawa. Sementara realisasi vaksinasi baru mencapai 59,87 persen atau sekitar 38.314 ribu dosis. Dari jumlah vaksin yang telah disalurkan sebanyak 64.000 dosis.

“Vaksin yang sudah disuntikkan pada ternak mencapai 38.314 dosis. Kabupaten Sumbawa sudah 26,32 persen atau 1.632 dosis yang disuntikkan dari 6.200 vaksin telah yang diterima,”  sebut Kepala Bidang Kesmavet Disnakeswan NTB drh Muslih, kemarin.

Muslim membeberkan jumlah vaksin yang didistribusikan ke Pulau Sumbawa telah ditambah menjadi 6.200 dosis dan 5.300 dosis ke masing-masing Kabupaten Sumbawa dan Bima, menyusul dua daerah tersebut masuk ke dalam zona merah. Sebanyak 13.500 dosis vaksin telah diberikan ke Pulau Sumbawa, ada tambahan untuk KSB sekitar 2.000 dosis vaksin.

Baca Juga :  Holiday Resort Lombok Hadirkan Paket Intimate Wedding

Untuk mengantisipasi agar kasus PMK tidak menyebar ke kabupaten lain, Pemprov NTB juga menyalurkan vaksin ke daerah hijau, yakni Kabupatem Sumbawa Besar. Mengingat jumlah populasi ternak yang rentan terkena PMK tinggi mencapai 117.811 ekor.

“Sebagian besar vaksin masih ada di provinsi. Kita akan kirim lagi sesuai progres laporan realisasi berdasarkan iSIKHNAS,” ucap Muslih.

Sebagai informasi, per 14 Agustus 2022 kasus PMK yang ditemukan di Kabupaten Sumbawa sebanyak 949 ekor. Sekitar 356 ekor ternak dinyatakan sembuh dan sekitar 574 ekor masih sakit. Sedangkan kasus mati ada 7 ekor dan potong bersyarat 12 ekor.  Untuk Kabupaten Bima kasus PMK sebanyak 842 ekor. Sekitar 370 ekor telah sembuh dan sekitar 470 ekor yang sakit. Sedangkan potong bersyarat 2 ekor.

Terpisah, Anggota Komisi II DPRD NTB H Abdul Hadi menambahkan salah satu upaya agar penyebaran PMK tidak meluas adalah dengan penambahan vaksin. Selain itu juga bagaimana memberikan pemahaman kepada peternak di Pulau Sumbawa untuk penanganan PMK sebagaimana yang dilakukan di Pulau Lombok.

Baca Juga :  Belasan Anggota APMI Protes SE Disnakertrans NTB

“Lombok sudah mulai zona hijau. Alangkah baiknya sejak awal ada masukan-masukan dari peternak di Lombok kepada peternak di Sumbawa untuk bagaimana menyikapi dan menghadapi penyakit yang menyerang hewan berkuku belah ini,” terangnya.

Ia berharap penyebaran PMK di pulau Sumbawa tidak akan secepat kasus PMK di Pulau Lombok. Mengingat pola kandang ternak yang digunakan di Pulau Sumbawa adalah terbuka. Beda dengan di Pulau Lombok yang sebagian besar memakai kandang tertutup, sehingga penyebaran PMK sangat cepat dan meluas. Dengan catatan pemberian vitamin dan obat-obatan pada ternak tetap dilakukan

“Saya rasa cukup menguntungkan dengan kandang terbuka, artinya yang terjangkit PMK jauh lebih sedikit atau kecil, karena langsung dengan alam,” pungkasnya. (cr-rat)

Komentar Anda