Kasek SMPN 1 Sambelia Diduga Pungli BSM

ILUSTRASI PUNGLI
ILUSTRASI PUNGLI

SELONG—Kepala Sekolah (kepsek) SMPN 1 Sambelia, berinisial S diduga telah melakukan pungutan liar (Pungli) terhadap Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang diterima oleh sejumlah siswa yang ada di sekolah itu. Besaran uang yang dipungut sebesar Rp 20  ribu per siswa.

Dugaan pungli itu akhirnya berujung ke ranah hukum. Dimana oknum kepsek ini dilaporkan oleh guru setempat ke aparat kepolisian. Laporan itu terkait dugaan pungli yang dilakukan oleh yang bersangkutan. “Kebetulan yang dipungut ini bantuan BSM yang diterima oleh siswa. Dan saya sudah laporkan ke kepolisian,” ungkap Anhar yang juga guru SMPN 1 Sambelia, Selasa kemarin (8/8).

Laporan dugaan pungli ini telah dilayangkan ke Polsek setempat. Hanya saja hingga sekarang dirinya belum mengetahui seperti apa tindak lanjuti proses hukum terkait dengan laporannya itu. “Informasinya laporan saya telah dilimpahkan ke Polres Lotim,” ujarnya.

Dikatakan, praktik pungli ini bukan hanya sekali ini saja. Tapi sudah berlangsung sejak tahun 2015 yang lalu. Setiap BSM datang, para siswa yang menerima bantuan selalu dipungut dengan nilai uang sampai Rp 50 ribu.

Namun pungutan itu tidak jelas peruntukkannya untuk apa. Sebab, pungutan BSM tanpa dimusyawarahkan dengan para guru, termasuk dengan komite sekolah. “Yang paling parah 2015. Per siswa dipungut sampai Rp 50 ribu. Meski pun ada kesepakatan, tapi tidak ada surat pernyataan. Kalau yang 2017 ini, per siswa dipungut sebesar Rp 20 ribu,” bebernya.

Meski besaran uang yang dipungut itu jumlahnya tidak seberapa, jelas ini sama sekali tidak dibenarkan. Proses pemungutan sendiri dilakukan oleh Wakasek Kesiswaan, atas perintah dari kepsek. “Pungutan ini sama sekali tidak ada musyawarah. Komite pun tidak tau,” jelasnya.

Dikatakan, pungutan BSM tahun 2017 ini dilakukan dengan alasan untuk biaya administrasi, dan sebagian lagi akan diberikan ke operator sekolah. Pungutan itu sendiri  katanya dilakukan di sekolah, setelah para para siswa pulang mengambil uang tersebut dari bank di Sambelia. “Niat kita melaporkan kasus ini, agar bisa jadi pembelajaran bagi semua Kasek di Lotim,” ujarnya.

Terpisah, Kepsek SMPN 1 Sambelia, S ketika dikonfirmasi langsung membantah tegas, bahwa dirinya telah melakukan pungli bantuan BSM yang diterima oleh siswanya. Namun uang dari para siswa itu hanya sebatas sumbangan yang diberikan seikhlasnya. “Saya suruh wakil untuk minta sumbangan. Uang itu hanya sekedar untuk administrasi ke operator. Yang jelas saya tidak pernah melakukan pemotongan,” jawabnya.

Permintaan uang sumbangan itu lanjutnya, sepenuhnya bukan karena inisiatifnya sendiri. Melainkan diketahui oleh semua guru yang ada di sekolah itu. Bahkan para guru setempat yang mengumumkan langsung kepada para siswa, meminta uang sumbangan meski berapa pun seikhlasnya. “Sumbangan yang kita minta itu ada yang Rp 20 ribu dan Rp 10 ribu. Bahkan ada yang tidak memberikan,” sebutnya.

Yang jelas katanya, uang sumbangan itu sama sekali bukan untuk kepentingan pribadinya. Namun setelah dipermasalahkan, uang sumbangan itu pun akhirnya dikembalikan lagi kepada para siswa. Sementara terkait dirinya dilaporkan,   baginya itu tidak masalah. Karena guru yang bersangkutan punya hak untuk melapor. “Kalau mau lapor itu haknya dia,” tutupnya. (lie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid