Hindari Pemerkosaan, Muliati Lompat dari Lantai Dua

pemerkosaan muliati TKW
PRIHATIN : Inilah kondisi Muliati, TKW yang lompat dari lantai dua untuk menghindari upaya pemerkosaan oleh anak majikannya di Riyadh, Arab Saudi. (PBHBM For Radar Lombok)

MATARAM – Cerita duka kembali datang dari Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal NTB yang berada di negara Arab Saudi.

Setelah kasus Khusnul Khotimah asal Lombok Tengah yang pulang dengan kondisi sakit parah dan mengalami beberapa kali pemerkosaan, kini TKW atas nama Muliati Binti Dahri Siatih yang bekerja di Riyadh Arab Saudi hampir mengalami pemerkosaan. Muliati yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga melalui jalur resmi itu lahir di Dusun Kloto, Desa Keruak Kabupaten Lombok Timur dari pasangan Mundahri dan Rohani asal Kebon Orong, Lombok Barat.

Sebelum berangkat, ia tinggal di Dusun Kebon Orong, Desa Dasan Baru Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat bersama suaminya, Mawardi. Kejadian naas yang menimpanya berawal dari situasi rumah majikannya sedang sepi. Waktu itu baru 7 hari bekerja di majikan kedua, majikan perempuan dan majikan laki-laki sedang keluar rumah. “Kondisinya waktu itu Muliati hanya tinggal bersama anak majikan di dalam rumah. Si anak majikan menelpon 2 orang temannya untuk datang ke rumahnya. Saat itulah hampir terjadi pemerkosaan,” ungkap Koordinator Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran (PBHBM) NTB, Muhammad Saleh kepada Radar Lombok, Senin  kemarin (25/4).

Lebih lanjut dituturkan, Muliati saat itu dipaksa untuk memasuki kamar. Salah seorang kemudian menodong pisau pada leher Mariati, sementara dua orang lainnya mencoba memegang tangan Muliati dan berusaha membuka celananya.

Muliati yang datang ke Arab dengan tujuan mencari uang demi keluarga, tidak rela jika kehormatannya dirusak. Muliati tetap melakukan perlawanan dengan cara menendang dan memukul ketiga lelaki bejat yang terus berupaya membuka celananya. “Karena saking ketakutan, Muliati lari dan loncat dari rumah lantai dua ke Lantai satu,” lanjut Saleh.

Ketika terjatuh, dada Muliati terasa sesak dan kaki kesakitan. Tulang rusuk sebelah kanan patah, darah terus keluar dari tubuhnya. Beruntung, ia masih mampu berdiri dan bisa lari meminta pertolongan. Akhirnya warga setempat dan polisi menolong Muliati dan diantar ke Kantor Mahara Agency, tempat penyaluran TKI untuk dibawa ke Rumah Sakit.

Di rumah sakit, Muliati ternyata harus dioperasi karena   tulang rusuk sebelah kanan ditemukan patah. Ia dipasangi besi penyangga untuk menyambungkan tulang rusuk yang patah. Sampai sekarang ia masih merasakah sakit yang pada dadanya serta bekas operasi. “Darah terus keluar dari hidung dan telinganya, waktu kita telpon dia sedang pingsan,” kata Saleh.

Seluruh biaya rumah sakit ternyata tidak ditanggung oleh pihak agency atau majikan. Muliati membayar sendiri biayanya. “Ini tentu sangat kita sesalkan, lebih satu minggu dirawat di rumah sakit malah dibawa lagi ke Mahara Agency. Bukannya istirahat, Muliati dikirim lagi ke rumah majikannya. Padahal Muliati sudah jelas hampir diperkosa oleh anak majikannya,” ucap Saleh kesal.

Dua hari bekerja, Muliati tidak kuat sehingga teman-temannya yang juga TKW membawanya ke sebuah kantor penampungan di Sarikah Mahara Alwadi Exit 6 Riadh, Arab Saudi. “Muliati ini diberangkatkan resmi oleh pemerintah dan PPTKIS Putra Timur Mandiri. Kasian dia, masih sakit sampai sekarang,” ujar Saleh.

Berdasarkan informasi yang diketahui Saleh, Muliati berangkat ke Arab Saudi pada bulan Oktober 2016. Setelah sampai disana, Muliati bekerja di majikan pertama selama 3 bulan. Setelah itu dipindah ke majikan kedua, baru seminggu bekerja petaka menimpanya.

Setelah ditelusuri dokumen pemberangkatan Muliati, Saleh menyimpulkan telah terjadi pemalsuan identitas dan dokumen penempatan. “Alamat di KTP tidak sesuai fakta dan menjadi pembantu itu kan sudah moratorium ke Timur Tengah. Modusnya Muliati akan dipekerjakan sebagai cleaning servise, tapi anehnya saat pembekalan dia memang diajari untuk menjadi pembantu. Ini kan artinya sudah jelas telah terjadi perdagangan orang, mal administrasi, pelanggaran sistem kependudukan dan beberapa tindak pidana penipuan,” tegas Saleh.

Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Provinsi NTB, Mucharom Ashadi saat dikonfirmasi Radar Lombok belum berani memastikan adanya dugaan pemerkosaan tersebut. Namun, informasi yang didapatkan memang benar telah terjadi upaya pemerkosaan hingga membuat Muliati lompat dari lantai dua.

Ditegaskan Mucharom, penempatan TKI pada sektor non formal ke Arab Saudi telah dimoratorium. Namun, pada kasus Muliati, terdaftar menjadi TKW sebagai cleaning servise dan diduga diberangkatkan oleh PT Putra Timur Mandiri. “Kita belum bisa pastikan dia berangkat lewat  PPTKIS atau berangkat sendiri, karena ternyata di data KTKLN itu Muliati menggunakan re-entry,” ungkap Mucharom.

Dijelaskan, sistem re-entry maksudnya yaitu Muliati pernah cuti dan berangkat lagi karena ada perpanjangan kontrak antara dirinya dengan majikan. “Dalam undang-undang itu diperbolehkan, dia pergi sendiri dan resiko ditanggung sendiri. Tapi kita sebagai pemerintah tentu tetap memberikan bantuan kalau ada masalah,” katanya.

Untuk mendalami kasus yang menimpa Muliati, BP3TKI NTB telah berkoordinasi dengan KBRI di Riyadh. Pihak KBRI akan menemui Muliati secara langsung untuk mengetahui keadaannya. “Jadi yang akan kami lakukan selaku pemerintah segera merawatnya, memastikan semua hak-haknya didapatkan dan setelah itu baru dipulangkan,” ucap Mucharom.

Terkait dengan adanya pemalsuan identitas dan pelanggaran-pelanggaran lainnya, BP3TKI akan memanggil PPTKIS yang diduga memberangkatkan Muliati. “Kita akan panggil perwakilan mereka yang ada disini, sudah juga saya telpon untuk kita suruh datang berikan klarifikasi,” tandasnya. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid