Bulan Depan TNGR Berlakukan Asuransi Pengunjung Rinjani

SELONG—Guna peningkatan layanan keamanan bagi para pengunjung Gunung Rinjani, bulan depan direncanakan akan mulai diberlakukan asuransi bagi setiap pengunjung. Rencananya, setiap pengunjung akan dikenakan biaya  asuransi sebesar Rp. 10 ribu per orang atau pengunjung. Dengan demikian, biaya pendakian untuk pengunjung lokal menjadi Rp. 15 ribu dan asing sebesar Rp. 155 ribu.

          Pemberlakuan asuransi bagi para pengunjung Rinjani oleh Kepala STPN Wilayah Dua TNGR Lotim, H Ramsyah dikatakan, sudah semestinya, seperti telah diberlakukan bagi kawasan lain di Indonesia. Dengan biaya asuransi yang dibebankan tersebut nantinya tidak saja akan bermanfaat bagi pengunjung tetapi juga memberikan keuntungan bagi para TO.

Selama ini bila terjadi musibah atau kecelakaan saat pendakian terhadap pengunjung yang dibawa TO, maka separuh biaya evakuasi akan dibebankan atau menjadi tanggung jawab TO dan separonya menjadi tanggung jawab TNGR. Maka dengan adanya asuransi tersebut maka TO akan lepas dari tanggungjawab pembiayaan tersebut dan sepenuhnya akan ditanggung oleh pihak asuransi.

“Selama ini biaya evakuasi sangat tinggi dari Rp. 3,5 juta sampai Rp. 6 juta per satu kali evakuasi,” kata H Ramsyah. Sehingga dengan diberlakukannya asuransi tersebut maka anggaran untuk pelaksanaan evakuasi akan jelas disamping adanya jaminan bagi pengganti biaya kecelakaan atau pengobatan nantinya.

Jika satu kali evakuasi saja biaya yang dibutuhkan  hingga mencapai Rp. 6 juta, sementara biaya kunjungan yang dikeluarkan pendaki per orang jika lokal hanya Rp. 5 ribu, maka biaya evakuasi satu orang akan menghabiskan pendapatan dari 1.200 pengunjung local atau 40 orang wisatawan asing yang harga tiketnya Rp. 150 ribu perorang. Sehingga dengan pemberlakuakn asuransi tersebut akan memiliki multiflier efek cukup besar bagi pengunjung, TO juga bagi pihak TNGR sendiri.

Dari catatan pihak TNGR, selama tahun 2015 lalu tercatat ada lima kali terjadi evakuasi dan tahun ini sudah tercatat tiga kali dan satu diantaranya meninggal. Parahnya lagi korban meninggal tersebut (Ike Susesta Adelia, 26 th pegawai Kantor Pajak Palembang) bersama 24 orang lainnya tercatat sebagai pengunjung illegal yang dibawa oleh TO asal Bandung karena selain tidak melapor juga tidak membayar tiket pendakian dan ini tentu sangat disayangkan oleh banyak pihak.

Selain peningkatan layanan melalui pemberlakuan asuransi TNGR juga akan berusaha melengkapi fasilitas yang selama ini dinilai kurang. “Sekarang ada perintah Dirjen Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya (KSDE) supaya kita melengkapi fasilitas di jalur pendakian,” katanya. Adapun fasilitas dimaksud adalah seperti selter, toilet, perbaikan track atau jalur pendakian dengan pemasangan pegangan pada jalur turun naik danau, pemsangan CCTV hingga WIFI. Semua ini tentu bagi upaya peningkatan layanan sehingga akan memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para pengunjung. Dikatakan pengajuan anggaran untuk pengadaan sarana tersebut telah diajukan ke pusat pada awal tahun ini.

Salah satu pelaku Wisata Sembalun dan sekaligus sebagai TO, Royal Sembahulun menyambut baik akan pemberlakuan asuransi tersebut. “Kami sangat menyambut baik pemberlakuan biaya asuransi tersebut, selain akan menguntungkan bagi para wisatawan juga bagi kami selaku TO,” katanya. Sebab selama ini jika terjadi musibah atau kecelakaan bagi para tamu yang mereka bawa, mereka juga turut dikenakan biaya evakuasi. Pihak TO akan mengeluarkan hingga separuh dari total biaya yang dihabiskan dalam evakuasi. Maka dengan pemberlakuan asuransi tersebut, tentu akan meringankan beban mereka terutama saat terjadi musibah.

Menyangkut kelengkapan fasilitas dikatakan yang paling urgen adalah penyediaan toilet di Pelawangan. “Kenapa di Pelawangan dan danau, karena di kedua lokasi ini merupakan tempat semua pendaki menginap atau istirahat. “Ini dulu yang diutamakan, kalau di pos satu sampai tiga memang penting juga ada, akan tetapi yang paling diutamakan dulu menurut saya adalah di Pelwangan dan Danau,” ungkapnya.

          Terkait masih banyaknya pengunjung illegal seperti yang terjadi pada 25 pengunjung yang dibawa TO dari bandung kemudian sampai terjadi musibah tersebut dikatakan sebagai warning bagi pihak TNGR selaku pengelola kawasan untuk lebih meningkatkan pengawasan. “Bahkan langkah penertiban sangat diperlukan terutama terhadap penertiban jalur sehingga pengunjung hanya masuk melalui satu pintu,” ujarnya. Dengan demikian control akan mudah dilakukan sehingga tidak kecolongan seperti sekarang ini.

          Hal itu menurutnya terjadi karena banyaknya pintu masu seperti dari Sembalun, Dapur Blek, Bawak Nao dan Sajang. Inilah yang dikatakan menyulitkan pengontrolan sehingg sampai dengan saat ini masih banyak pengunjung tidak melapor atau memberli tiket. “Paling tidak penjagaan dilakukan di dekat Pos Satu dan di Pos Satu, sebab disini emerupakan pertemuan jalur keempat pintu masuk tersebut,” jelasnya. (lal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid