40 Pilot Paralayang Asing Ikuti Mantar Paragliding XC Open

PARALAYANG: Kiri ke kanan, Kepala Dispar KSB, IG Simbawanto, Kepala Dispar NTB, HL Faozal, Meet Director, Nicky Moss, Danlanud Rembiga, Kolonel Pnb. Dody Fernando, Wapres ACPA, Nixon Ray, dan Ketua KONI KSB, Zaidul Bahri, ketika press conference kejuaraan Mantar Paragliding XC Open 2017 (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Sebanyak 40 pilot Paralayang yang berasal dari 14 negara, termasuk Indonesia, telah confirm (mendaftar) untuk mengikuti Mantar Paragliding XC Open 2017 yang akan berlangsung di Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano  Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), 18-24 Juli 2017 mendatang.

“Selain 40 Pilot Paralayang dari berbagai negara yang akan mengikuti kejuaraan Paralayang dengan kategori cross country. Kegiatan juga akan diikuti oleh sekitar 50 pilot Paralayang dari berbagai klub di Indonesia untuk kategori fun dan pemula,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, HL Moh. Faozal, kepada sejumlah wartawan, Sabtu lalu (15/7).

Menurut Faozal, kegiatan sport tourism kali ketiga yang merupakan agenda tahunan Pemerintah Provinsi NTB, khususnya Dinas Pariwisata NTB ini. Selain sebagai ajang prestasi, juga untuk meningkatkan grade  dari olahraga Paralayang ini di NTB. “Itu mengapa tahun ini untuk kategori lomba Paralayang di Mantar, KSB ini dibuat agak berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dimana untuk tahun ini selain menggelar kejuaraan dengan kategori akurasi atau ketepatan mendarat, juga diselenggarakan lomba dengan kategori XC atau cross country (lintas alam) yang lebih bergengsi,” ujar Faozal.

Lebih penting dari itu, melalui penyelenggaraan Mantar Paragliding XC Open 2017 ini, berbagai potensi kepariwisataan yang ada di NTB, khususnya di KSB akan lebih terekspose keluar. Sehingga kedepan daerah KSB yang memiliki keindahan alam dan keunikan seni budaya, serta kelezatan aneka kulinernya ini bisa menjelma jadi daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi para wisatawan.

Sementara Ketua Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) NTB, yang juga Komandan Pangkalan TNI AU (Danlanud) Rembiga, Kolonel Pnb. Dody Fernando, menyampaikan, melalui penyelenggaraan Mantar Paragliding XC Open 2017, selain memicu perkembangan olahraga dirgantara di NTB, sekaligus juga dapat mengenalkan berbagai potensi yang ada di NTB. “Tidak hanya potensi olahraganya saja yang akan terekspose, tetapi potensi kepariwisataan, pertanian, investasi dan lainnya juga akan ikut terangkat,” beber Dody.

Danlanud yang baru dua bulan bertugas di NTB ini juga mengaku sangat kagum dengan perkembangan yang telah dicapai Pemerintah Provinsi NTB. Dahulu dia mengenal Provinsi NTB melalui materi pembelajaran yang didapatkan di Akademi Penerbangan TNI AU, dimana NTB terkenal dengan kemajuan sektor pertaniannya.

“Namun sekarang ketika saya bertugas di NTB, ternyata tidak hanya sektor pertanian saja, tetapi juga telah merambah dan berkembang pesat sektor pariwisatanya. Semoga melalui Mantar Paragliding XC Open 2017, sektor kepariwisataan NTB bisa lebih berkembang dan dikenal, serta lebih banyak lagi dikunjungi para wisatawan,” harap Dody.

Harapan senada juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata KSB, IG Simbawanto, mengingat saat ini daerahnya juga sedang fokus menggarap sektor kepariwisataan. “Dari berbagai even yang digelar di KSB, nama “Mantar” selalu menjadi ikon kegiatan. Ini bukan sekedar kebetulan saja, tetapi kami memang ingin mengangkat nama Mantar ini sebagai ikon utama kepariwisataan yang ada di KSB,” ujarnya.

Desa Mantar yang berada di atas ketinggian 660 meter dari permukaan laut (Mdpl) ini sambungnnya, selain menjadi spot utama olahraga Paralayang di KSB, juga dikenal memiliki segudang potensi untuk kepariwisataan, mulai dari desa wisata, pertaniannya yang subur, meskipun daerahnya berada di atas ketinggian. Dan sepanjang mata memandang terlihat hamparan pantai-pantai berpasir putih di sisi Selat Alas, dengan latar belakang puncak Gunung Rinjani di Pulau Lombok.

“Keunikan lainnya, penduduk Desa Mantar yang konon berasal dari beragam etnis, juga memiliki keanehan. Dimana ada orang albino yang jumlahnya selalu tujuh orang. Kalau ada yang meninggal satu, maka akan lahir satu lagi orang albino, sehingga genap tujuh orang,” jelas Simbawanto.

Sedangkan Ketua KONI KSB, Zaidul Bahri, atau akrab disapa Deden menjelaskan, bahwa kejuaraan Paralayang dengan kategori cross country ini memang agak berbeda dibandingkan dengan ketepatan mendarat atau akurasi yang selama ini dipertandingkan.

“Karena itu pula mengapa untuk panitia penyelenggara juga melibatkan orang-orang professional di olahraga ini, seperti Nixon Ray, Wakil Presiden Asian Continental Paragliding Association (ACPA), yang juga perwakilan dari FASI Pusat. Termasuk meet director atau pengawas pertandingan adalah Nicky Moss  yang professional di bidangnya,” terang Deden.

Ditambahkan Nixon Ray, kegiatan selain akan mengangkat nama Mantar ke dunia internasional, juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas para Pilot Paralayang di Indonesia, termasuk menambah jam terbangnya. “Spot di Mantar ini sangat bagus sekali. Di Indonesia baru ada dua lokasi seperti ini, Mantar, dan satunya lagi di Palu, Provinsi Sulawesi Tengah,” ujarnya.

“Dengan letak geografis dan angin yang sangat mendukung, terlebih saat ini sudah ada dua titik lokasi landing dan take off yang elah dibangun. Maka saya meyakini Mantar merupakan salah satu spot untuk olahraga Paralayang terbaik di dunia. Apalagi keindahan alamnya juga sangat luar biasa, ini akan sangat menarik minat para Pilot Paralayang untuk datang mencoba,” singkat Nicky Moss. (gt)