Wagub NTB Hadiri Peringatan Hari Tanpa Tembakau

Petani di Lotim Sedang Masa Panen

Hari Tanpa Tembakau
TEMBAKAU : Wakil Gubernur NTB Hj. Sitti Rohmi Djalilah menghadiri peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Mataram, Minggu (21/7). (IST/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Selain kemiskinan dan pengangguran, masalah besar lainnya di daerah ini adalah bahaya rokok dan sampah.

Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah, mengakui untuk mewujudkan kesehatan masyarakat hingga saat ini belum bisa terselesaikan dengan baik. “Termasuk penanganan sampah dan menjaga kebersihan lingkungan agar tetap asri dan lestari masih menjadi PR kita bersama,” ungkapnya saat peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Mataram, Minggu (21/7).

Menurut Wagub, kesehatan sangat erat kaitannya dengan budaya hidup bersih dan komitmen menciptakan lingkungan yang bersih. Karena itu, Pemerintah Provinsi NTB bersama seluruh pemerintah kabupaten/kota sangat konsen menangani masalah sampah melalui gerakan program bebas sampah (Zero Waste). “Menjadi tugas kita bersama untuk membangun kesadaran semua elemen masyarakat tentang kebersihan. Sekaligus mengubah mindset tentang sampah,” imbuhnya. 

Dibutuhkan proses dan sinergitas dari semua pihak untuk membangun mindset yang benar tentang sampah. Masyarakat harus terus diberikan edukasi dan contoh serta desiminasi informasi bagaimana memilah dan membuang sampah pada tempatnya. 

Apabila budaya memilah sampah, antara sampah plastik dan sampah organik yang dapat dijadikan pupuk sudah berhasil dibudayakan, maka Wagub yakin kedepan sampah bukan lagi menjadi sumber penyakit. “ Tetapi sampah bisa menjadi sumber daya yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Maka  kedepan, tidak hanya muncul istilah buanglah sampah pada tempatnya, tapi juga juallah sampah pada tempatnya,” kata Wagub.

Wagub juga menyentil dampak orang yang tidak merokok namun menghirup asap rokok. Apalagi banyak masyarakat NTB yang hidup satu rumah dengan para perokok. 

Acara tersebut juga dirangkaikan dengan Peringatan hari ulang tahun ke-111 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi NTB. Dalam talkshow yang digelar, hadir dr. Yusra selaku dokter spesialis jantung dan dr. Eva spesialis paru-paru. 

Dokter Yusra dalam kesempatan tersebut mengungkapkan, banyak ditemukan kasus-kasus pasien yang terserang jantung koroner. Hal itu disebabkan penyempitan pembuluh darah ke jantung. “Pemicunya sebagian besar karena asap rokok, baik bagi perokok aktif maupun bukan perokok (perokok pasif),” ungkapnya. 

Rokok elektrik juga sama risikonya dengan rokok biasa. Pasalnya, tetap mengandung nikotin, carcinogen, dan aerosol. Bahkan zat-zat tersebut bisa menempel di jendela, kursi, baju dan lain-lain. “ Sehingga jika terhirup oleh keluarga atau anak-anak kita, dapat berpotensi menyebabkan penyakit kanker,” ucapnya. 

Penjelasan senada diungkapkan dr. Eva. Rokok dapat menyebabkan penyakit jantung dan paru-paru, karena di dalamnya mengandung zat-zat berbahaya seperti nikotin carcinogen dan aerosol serta zat-zat berbahaya lainnya. Saat seseorang merokok, maka ada dua efek yang ditimbulkannya. Yakni asap utama yang lebih besar akan berisiko bagi pecandu rokok terserang jantung/paru-paru. Dan asap sampingan yang akan berpengaruh pada lingkungannya atau orang-orang di sekitarnya. “Secara risiko, sama-sama besar kemungkinan terkena penyakit kanker, jantung dan lainnya,” sebut Eva. 

Untuk menciptakan lingkungan yang bebas rokok, maka para orang tua diminta bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya. “Berhentilah  merokok sekarang juga. Untuk berhenti, harus dimulai dari komitmen yang kuat untuk peduli pada diri sendiri dan lingkungan,” tandasnya.(zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid