Siswa Capek Berinovasi, Pemkab Justru tidak Menindaklanjuti

Sekolah Dimanfaatkan Saat Pameran Saja

PALANG OTOMOTIS COVID-19 : Palang Pintu Otomatis protokol kesehatan Covid-19 yang berhasil diciptakan oleh siswa SMKN 2 Kuripan Kabupaten Lombok Barat. (Fahmy/Radar Lombok)
PALANG OTOMOTIS COVID-19 : Palang Pintu Otomatis protokol kesehatan Covid-19 yang berhasil diciptakan oleh siswa SMKN 2 Kuripan Kabupaten Lombok Barat. (Fahmy/Radar Lombok)
Advertisement

GIRI MENANG – Berbahagi temuan teknologi tempat guna oleh sekolah selama ini jarang ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah. Kurangnya perhatian pemerintah daerah inilah yang menyebabkan sekolah malas berinovasi.

Ini juga yang dirasakan oleh pihak SMKN 2 Kuripan Kabupaten Lombok Barat. Sekolah yang memiliki banyak temuan yang berkaitan dengan teknologi tepat guna ini merasa bahwa hasil karya siswa maupun guru hanya dipakai saat lomba atau pameran saja, setelah selesai maka tidak ada tindaklanjut dari pemerintah.”Tindaklanjut dari pemerintah itu yang tidak ada. Pemda harus menindaklanjuti hasil karya sekolah,” ungkap Moh. Tauhid, Kepala SMKN 2 Kuripan, saat ditemui Senin (20/7).

Perhatian dari pemerintah daerah akan menjadi motivasi pihak sekolah maupun para siswa. Tetapi jika tidak ada tindaklanjut atas setiap karya cipta siswa, tentunya sekolah dan siswa tidak akan termotivasi membuat berbagai temuan dan melakukan inovasi. Niat para siswa maupun para guru akan hilang ketika hasil karya mereka tidak direspon. Untuk apa mereka lelah bekerja menciptakan berbagai alat atau teknologi kalau tidak ada respon dari pemerintah.” Banyak yang sudah kita hasilkan, namun tidak ada tindaklanjut pemerintah,” terangnya.

Biasanya pemerintah itu hanya semangat di awal saja, meminta pihak sekolah menciptakan teknologi yang bisa dimanfaatkan, namun setelah selesai atau alat yang diminta sudah jadi selesai dibuat pemerintah menghilang, akibatnya para siswa menjadi patah semangat dan tidak termotivasi lagi. Kalau dari setiap temuan sekolah direspon baik oleh pemerintah, maka sekolah akan sangat semangat dalam berkarya. Nanti setelah mereka selesai dari bangku sekolah, mereka bisa menciptakan lapangan kerja sendiri.”Setelah lulus, mereka bisa menciptakan lapangan kerja, bukan menjadi pekerja, misalnya membuat alat-alat yang sederhana, ini yang kita harapkan,” ungkapnya.

Saat ini SMKN 2 Kuripan berhasil menciptakan alat mencuci tangan otomatis, dan mesin palang pintu otomatis protokol kesehatan Covid-19. Dua alat ini sudah diciptakan sejak awal Covid-19, namun sampai saat ini belum ada respon dari pemerintah daerah.”Minimal hasil karya siswa ini dipakai di setiap kantor pemerintah,” harapnya.

Ataupun alat-alat yang sudah berhasil diciptakan ini bisa dibeli oleh kantor pemerintah. Dengan adanya permintaan atau pembelian dari pemerintah, maka otomatis akan membangkitkan semangat para siswa untuk berkarya lagi.”Menurut saya, bagaimana kita mau berkreasi kalau tidak ada support dari pemerintah,” tegasnya.

Tauhid  menambahkan, pihaknya sering mendapatkan permintaan dari pemerintah atau kantor untuk dibuatkan alat, namun setelah alat dibuat, mereka tidak bayar. Padahal untuk produksi alat yang mereka minta itu membutuhkan biaya, tetapi mereka minta gratis. Kondisi ini banyak yang terjadi, di saat sekolah berhasil menciptakan alat, pada saat pameran banyak yang minta untuk dibuatkan, tetapi setelah jadi pesanan malah mereka hilang.”Ini kan bahaya, setelah selesai malah mau gratis,” tuturnya.

Hal ini juga diungkapkan oleh guru pendamping TTG SMKN 2 Kuripan, Idham. Dimana dari beberapa hasil karya siswa banyak yang minta dibuatkan tetapi setelah jadi mereka minta.”Ini banyak terjadi,” tuturnya.

Untuk saat ini temuan terbaru mereka yaitu palang otomatis protokol kesehatan Covid-19. Dimana palang atau portal otomatis yang bisa ditaruh depan pintu bisa buka tutup secara otomatis, jika ada orang yang sudah membersihkan tangan dengan hansanitizer. ” Beberapa detik setelah membersihkan tangan dengan hansanitizer, dengan otomatis palang pintu akan terbukti dan tertutup sendiri, orang yang mau masuk tanpa membersihkan tangan dengan Hansanitizer, tidak akan bisa,” ungkapnya.

Alat ini, tidak hanya menggunakan Hansanitizer, pihak sekolah sudah mengembangkan, tergantung permintaan. Kalau ada yang minta menggunakan cuci tangan, bisa dibuat, jadi orang yang mau masuk harus mencuci tangan dulu, baru portalnya bisa terbuka. Kalau tidak mencuci tangan, palang portal tidak akan terbuka,” ungkapnya.(ami)