Selly Komplain Kadis Perdagangan Kota Mataram

Hj. Selly Andayani (M. HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB melalui Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj. Selly Andayani, komplain (keberatan) dengan pernyataan Kadis Perdagangan Kota Mataram, yang mengatakan bahwa cabe impor di pasaran merupakan alternatif pilihan.

Baginya, itu hal yang menyesatkan. Karena tidak signifikan dengan apa yang terjadi di lapangan. ”Ternyata itu pengakuan para pedagang yang dijadikan acuan, dan itu sangat tidak signifikan sekali. Karena kalau pedagang ditanya, yang penting barangnya laku,” ungkapnya kepada Radar Lombok, Minggu kemarin (5/3).

Seharusnya Dinas Perdagangan Kota Mataram menerapkan kebijakan seperti Dinas Perdagangan NTB, yakni langsung mendatangi dan mengkonfirmasi pihak Pelindo, Karantina Tumbuhan, maupun Bandara (BIL). ”Kan kemarin sudah dilihat sendiri datanya, kalau dari Januari hingga Februari tidak ada barang impor masuk ke NTB, kecuali itu barang kiriman antar pulau, yaitu Jawa Timur,” tambahnya.

Dijelaskan, secara stok hasil pertanian cabe untuk NTB sudah sangat mencukupi, bahkan surplus, sehingga NTB bisa mengirimkan cabe keluar pulau (daerah). ”Kita yang pasok cabe untuk lima provinsi lain di Indonesia. Makanya itu informasi menyesatkan, sehingga saya komplain (keberatan),” tambah Selly.

[postingan number=3 tag=”cabai”]

Seharusnya warga bisa menjadi konsumen cerdas, sehingga bisa membedakan mana hasil impor dan mana milik lokal. Karena sebenarnya barang-barang milik lokal jauh lebih enak dan menyehatkan, dibandingkan barang luar. ”Konsumen juga harus cerdas. Tidak ada barang impor dari bulan Januari hingga Februari ini,” ujarnya.

Bahkan dalam pemberitaan sebelumnya, Selly dengan gamblang menjelaskan bahwa NTB-lah yang sebenarnya melakukan pengiriman untuk lima perovinsi di Indonesia, yakni ke Provinsi DKI Jakarta, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Riau, dan Sumatra Barat. Cabe-cabe yang dikirimkan keluar daerah tersebut merupakan hasil budidaya petani di Lombok Timur.

Selly juga mengatakan, bahwa masyarakat NTB tidak akan mungkin melakukan pengiriman keluar daerah, jika kebutuhan dalam daerah sendiri belum terpenuhi. Karena cabe lokal selain berkualitas, produksinya juga banyak. ”Tidak ada barang impor. Kan sudah dilihat datanya. Itu bukan kata para pedagang, karena kalau mendengar kata dari pedagang, maka tidak signifikan. Kalau Disdag Provinsi NTB langsung datangi Pelindo, Karantina Tumbuhan, maupun ke BIL,” ulang Selly.

Dirincikan sebelumnya, untuk pengiriman cabe rawit ke Provinsi DKI Jakarta sebanyak n 4.500 Kg, dengan empat kali pengiriman. Kemudian Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 500 Kg untuk dua kali pengiriman. Kepulauan Riau sebanyak 17.250 Kg untuk 10 kali pengiriman, dan Sumatra Barat sebanyak 1.650 Kg untuk empat kali pengiriman. ”Data kita mengirim cabe ke lima pulau baru ada. Kalau untuk impor saya pastikan tidak ada,” tandas Selly. (cr-met)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid