RSUD Pastikan Ginjal Sri Rabitah Utuh

KLARIFIKASI : Pihak RSUD Provinsi NTB menggelar jumpa pers untuk mengklarifikasi informasi yang berkembang terkait kasus Sri Rabitah, Rabu kemarin (1/3). (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB kembali menegaskan bahwa kedua ginjal Sri Rabitah mantan  Tenaga Kerja Wanita (TKW)  asal Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih utuh dan dalam kondisi baik-baik saja.

Pernyataan pihak rumah sakit, berbeda dengan penutuan Sri Rabitah yang menyebut ginjal kanannya dalam kondisi rusak. Informasi kerusakan ginjal menurut Sri Rabitah, disampaikan oleh salah satu dokter di rumah sakit pada hari Selasa lalu (28/2). “Kedua ginjal pasien utuh, masih bagus juga,” tegas dokter  spesialis Urologi RSUD Provinsi NTB, dr Suharjendro saat jumpa pers di media center kantor gubernur, Rabu kemarin (1/3).

Hadir dalam jumpa pers tersebut Direktur Utama (Dirut) RSUD Provinsi NTB dr Lalu Hamzi Fikri, Wakil Direktur (Wadir) pelayanan dr Agus Rusdi, spesialis radiologi dr Dewi Anjarwati, Kepala Dinas Komunikasi, Informatikda dan Statistik (Diskotik) Tri Budi Prayitno dan Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov NTB Yusron Hadi.

Menurut dr Suharjendro, meski pihaknya membantah pernyataan Sri Rabitah yang mengaku kehilangan ginjal, namun dirinya mengakui jika pasien pernah melakukan operasi ginjal saat menjadi TKW di Qatar. “Ginjalnya terganggu iya, tapi bukan rusak. Itu karena pernah operasi batu ginjal tahun 2014 di Qatar,” ucapnya.

[postingan number=3 tag=”ginjal”]

Operasi batu ginjal yang dilakukan di Qatar, sebagai upaya penyelamatan yang dilakukan oleh majikan. Operasi tersebut bukan membahayakan pasien karena sudah biasa dilakukan dalam dunia medis. “Dugaan saya, waktu di Qatar pasien mengalami sumbatan di tubuhnya, sehingga terjadi emergensi dan dilakukanlah operasi itu,” katanya.

Terkait dengan pengakuan Sri Rabitah yang tidak pernah diberikan informasi atas penyakitnya tersebut, Suharjendro menyebut tidak mungkin hal itu terjadi. "Bu Sri Rabitah kan TKW, mungkin  tidak sadar sudah dikasi tahu. Bisa saja kendala bahasa makanya mengira tidak pernah diinformasikan,” ujarnya.

Dalam dunia medis, lanjutnya, seorang pasien tidak harus dimintai persetujuannya saat akan dioperasi. Kondisi tersebut bisa dimaklumi ketika pasien sudah emergensi. Demi menyelamatkan nyawa, tindakan operasi bisa dilakukan tanpa adanya persetujuan. Penjelasan ini disampaikan untuk menepis penuturan Sri Rabitah yang dioperasi tanpa adanya persetujuan.

Setelah 4 bulan operasi, seharusnya selang yang dipasang di tubuh pasien dicabut. Namun karena Sri Rabitah pulang dari Qatar, hal itu belum dilakukan. “Ada selang sepanjang 30 sentimeter di tubuhnya untuk memperlancar peredaran dari ginjalnya, tapi akibat tidak dicabut sampai sekarang makanya ginjalnya terganggu dan sering sakit,” katanya.

Selain itu, Suharjendro mengingatkan bahwa sampai saat ini ginjal pasien normal. Tidak mungkin juga ada dugaan pergantian ginjal. “Tidak mungkin ginjalnya diganti, ini kan dia dioperasi batu ginjal karena sakit waktu di Qatar. Bisa saja ketika chek-up disini kondisinya sehat, tapi saat di Qatar muncul penyakit,” ucapnya.

Wadir Pelayanan RSUD Provinsi NTB, dr Agus Rusdhi menyampaikan, Sri Rabitah datang ke rumah sakit pertama kali pada tanggal 11 Februari. Berdasarkan riwayat kesehatannya, sudah jelas tertera pernah melakukan operasi batu ginjal di Qatar pada tahun 2014.

Untuk pemeriksaan lebih lanjut, pasien kemudian datang lagi pada tanggal 20 Februari. Kronologisnya tidak ada yang berbeda dengan pasien-pasien lainnya. “Terus datang lagi pada tanggal 28 Februari kemarin untuk rawat inap karena persiapan operasi, tapi info terakhir pasien malah ingin pulang,” terangnya.

Sejak pertama kali datang sampai saat ini, tidak pernah ada keterangan dari dokter maupun pihak rumah sakit bahwa Sri Rabitah tidak memiliki ginjal. Begitu juga dengan hasil rontgen, yang tidak nampak itu bukanlah ginjalnya. “Tapi tiba-tiba tersebar informasi pasien tidak ada ginjal kanannya, itu bukan pernyataan dari kami,” tegas Rusdhi.

Sementara itu, Dirut RSUD Provinsi NTB, Lalu Hamzi Fikri mengatakan, masalah ini murni kesalahpahaman saja. Semua informasi yang dibutuhkan pasien telah disampaikan oleh pihak rumah sakit dengan baik dan jelas.

Informasi hasil pemeriksaan memang hak pasien, begitu juga ketika pasien menyampaikan lagi kepada pihak lainnya. Namun, pihaknya menegaskan kembali bahwa tidak pernah ada pernyataan yang menyebut ginjal pasien tidak ada. “Hak informasi sudah diberikan, kami tidak pernah menyatakan ginjal tidak ada,” ujarnya.

Terpisah, Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi meminta kepada semua pihak agar isu ginjal TKW yang hilang tidak dijadikan komoditas. Hal yang paling penting saat ini, kesembuhan dari pasien itu sendiri akibat adanya selang bekas operasi apda tahun 2014.

Gubernur berpesan kepada pihak rumah sakit agar memberikan pelayanan terbaik kepada Sri Rabitah. Termasuk untuk operasi pengangkatan selang yang ada di tubuhnya. “Penanganan kepada beliau yang sakit agar dilaksanakan sebaik-baiknya. Kasi pelayanan yang terbaik, agar beliau bisa sembuh,” pinta gubernur.

Untuk bertemu dengan korban, sejauh ini gubernur belum memiliki rencana. Mengingat Sri Rabitah masih dalam keadaan sakit. “Ndak, yang penting dia sembuh dulu,” jawabnya saat ditemui di pendapa gubernur.

Sementara itu, Koordinator Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran (PBHBM) NTB, Muhammad Saleh selaku kuasa hukum Sri Rabitah belum mau memberikan tanggapan. Dirinya merasa ada skenario untuk menyudutkan korban.

Sementara itu Pemkab Lombok Utara  meminta persoalan Sri Rabitah ini  harus diselesaikan dengan cara mengawal dan melakukan penelusuran.  “Kita harus selesaikan persoalan ini. Memang kemarin, saya mendapatkan informasi dari dr Abdul Kadir (kepala dikes KLU) bahwa pihak dokter dari RSUP menyatakan ginjal yang hilang itu tidak benar. Dan apa menjadi kebenaran merupakan iktikad dokter,” terang Bupati Lombok Utara H Najmul Akhyar.

Ia menegaskan, jika pihak keluarga masih ragu maka ia mempersilahkan melakukan pemantauan atau mengawal proses operasi yang akan berlangsung di RSUD Provinsi NTB hari ini. Hal ini perlu dikawal sehingga bisa jelas, dan tidak menimbulkan prasangka. Sebab kondisi saat ini,  masih  ada prasangka. “Apabila ini kira-kira janggal, maka kita harus terus lakukan penelurusan,” tegasnya.

Ia menambahkan, ia sudah mengkontak rekan-rekan dirinya untuk mengkorescek kebenaran mengenai  keluarga Sri Rabitah mendapatkan intimidasi atau iming-iming dari oknum agar menyatakan dia gila. “Jika itu benar terjadi, maka harus ada langkah-langkah untuk menyelesaikannya. Bila perlu melibatkan aparat penegak hukum, karena bila terjadi hal-hal yang sengaja ditutupi bahwa ada kejahatan perdagangan manusia harus tuntas, dan pemda siap mendampingi,” janjinya.

Anggota Komisi III DPRD Lombok Utara Artadi menegaskan, terkait kasus Sri Rabitah yang masih simpang siur ini, harus bisa diselesaikan dengan cara sebaik-baiknya. Jangan sampai ada kepentingan-kepentingan oknum tertentu yang ingin mengambil keuntungan dalam kasus tersebut. Karena kasus ini menyangkut kemanusiaan yang harus dilindungi. “Kita tidak ingin ada permainan dalam kasus ini,” tegasnya.

Untuk memastikan simpang siur ada atau tidak ginjalnya Sri Rabitah, hanya bisa dipastikan dengan pemeriksaan medis sesuai bidangnya. “Hasilnya hanya pemeriksaan medis yang bisa menentukan apakah benar atau tidaknya. Kita juga berharap kasus ini harus serius ditangani,” harapnya. (zwr/flo)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid