RSUD NTB Sebut Ginjal Rabitah Masih Ada

Ginjal TKW Rabitah
JALANI OPERASI : Sri Rabitah sudah masuk ke ruangan perawatan RSUD Provinsi NTB dan akan menjalani operasi pengangkatan selang di tubuhnya Kamis besok (2/3). (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Kasus hilangnya ginjal Sri Rabitah,25 tahun  Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Dusun Lokok Ara Desa Sesait Kecamatan Kayangan Lombok Utara (KLU) menjadi semakin rumit.

Pasalnya, pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB  mengatakan, ginjal Sri Rabitah masih ada.  Hal ini awalnya disampaikan Sri Rabitah setelah mendapat penjelasan dari dokter RSUD Provinsi NTB. Padahal, saat menjalani pemeriksaan tanggal 22 Februari lalu, Sri diinformasikan dokter setempat sudah tidak memiliki satu ginjal.

Atas penjelasan dokter ini juga, Sri menyampaikan ke Bupati Kabupaten Lombok Utara (KLU) saat hearing Senin lalu (27/2), ginjalnya sudah tidak ada. Hal ini juga diperkuat pernyataan  perwakilan Dinas Kesehatan Lombok Utara dr Abdul Kadir menyatakan, pemeriksaan hasil radiologi RSUD Provinsi NTB pada bagian kanan tidak tampak ada  ginjal.

Pantauan Radar Lombok, sejak Selasa pagi Sri Rabitah sudah berada di RSUD Provinsi NTB. Kedatangannya untuk persiapan operasi pengangkatan selang yanga da di dalam tubuh pada hari Kamis (2/3). Namun Sri kemudian dibawa ke ruangan dokter radiologi dan dijelaskan panjang-lebar tentang hasil rontgen pada tanggal 22 Februari lalu.

[postingan number=3 tag=”tkw”]

Saat itu, Sri tidak didampingi pendampingnya dari Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran (PBHBM) NTB. Kemudian saat bertemu wartawan, tiba-tiba Sri mengaku salah paham dan meminta masalahnya dihentikan. “Jadi saya ingin kasus ini dihentikan, karena ini kesalahpamahaman saja,” ujarnya di RSUD Provinsi NTB, Selasa kemarin (28/2).

Pernyataan kali ini, tentunya berbeda dengan keterangan Sri sebelumnya. Bahkan, secara terbata-bata Sri mengaku sengaja berbicara ginjalnya hilang agar mendapatkan penjelasan dari pihak rumah sakit. “Saya ngomong seperti ini agar saya dapatkan penjelasan yang sebenar-benarnya,” kata Sri.

Lebih lanjut dituturkan, ginjal sebelah kanan tidak hilang namun dalam kondisi rusak. Hal itulah yang membuat majikannya di Qatar membawa Sri ke rumah sakit dan dilakukan operasi ginjal. “Kata dokter tadi menjelaskan, ginjal kiri saya ada, tapi yang kanan rusak. Makanya ada selang di tubuh saya, waktu di Qatar saya dioperasi,” ucapnya.

Dipertegas kembali soal hal itu, Sri mengaku tidak pernah diinformasikan oleh majikannya bahwa telah dilakukan operasi ginjal. “Yang bilang saya sudah operasi ginjal itu dokter disini tadi, tidak tahu dapat informasi darimana dia. Tapi yang jelaskan ke saya itu, bukan dokter yang periksa saya dulu (tanggal 22 Februari),” ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan, dirinya mengaku hilang ginjal karena dokter yang memeriksa itulah menyampaikan hal seperti itu. “Waktu saya periksa disini itu, saya ditanya apakah saya sudah jual ginjal atau tidak. Soalnya, ginjal saya yang kanan tidak ada katanya. Tapi dokter yang tanya begitu tidak saya lihat dari tadi disini,” ucapnya.

Pada siang hari, saat Sri sendiri di ruang perawatan, Sri mengaku apa yang disampaikan sebelumnya merupakan permintaan petugas. Sebelum bertemu wartawan, dirinya diminta untuk berbicara  jika ginjalnya masih ada. “Ada petugas BP3TKI minta agar saya minta maaf ke publik, karena kesalahanpahaman. Saya disuruh ngomong ginjal saya masih ada,” bebernya.

Sementara itu, Kepala BP3TKI Mucharom Ashadi membantah keras jika pihaknya yang menyuruh Sri Rabitah berbicara di media bahwa ginjalnya lengkap. Dirinya bersama Dinas Kesehatan Lombok Utara hanya melihat langsung penjelasan dokter yang disampaikan ke Sri. “Memang TKI yang harus klasifikasi karena dia yang sampaikan ke publik,” katanya.

Berdasarkan keterangan yang didapatkan BP3TKI dari dokter, ginjal Sri Rabitah tidak ada yang hilang. Namun, Maucharom tidak menyampaikan jika kondisi ginjal kanan Sri dalam kondisi rusak. “Tidak ada tekanan ke korban, itu statement dia sendiri. Tidak ada yang menyetir,” ujarnya.

Oleh karena itu, tegasnya, mulai saat ini tidak ada lagi masalah ginjal yang hilang. Persoalan saat ini hanya tentang pertanggungjawaban PPTKIS yang membawa Sri ke Qatar. Mengingat, Sri merupakan TKW resmi yang berangkat sesuai prosedur.

Mucharom juga mengaku telah memanggil pimpinan cabang PPTKIS yang merekrut Sri Rabitah. Sedangkan pimpinan pusatnya telah diurus oleh BP2TKI. “Kita sudah koordinasi juga dengan Polda bahwa ginjal Sri masih ada dan lengkap. Kita hanya bicara dari sisi ketenagakerjaan saja sekarang. Apalagi korban dipulangkan sebelum kontrak selesai, apakah TKI itu tidak cakap kerja atau gimana. Soal pengakuan dia disiksa juga, korban harus buktikan,” ucapnya.

Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan RSUD Provinsi NTB, Agus Rusdhi menegaskan, dirinya telah bertemu dengan dokter yang memeriksa Sri Rabitah. Hasilnya, dokter tidak pernah membuat pernyataan bahwa ginjal Sri Rabitah hilang.

Soal adanya selang di tubuh korban, dipastikan akan dilakukan operasi pengangkatan. Namun, sampai saat ini tidak pernah ada pernyataan resmi rumah sakit yang menyebut ginjal korban sebelah kanan tdiak ada. “Kita tidak pernah berikan pernyataan, saya sudah ketemu dengan dokter yang periksa, katanya tidak pernah dokter bilang begitu,” ujarnya.

Ditanya soal keberadaan dokter tersebut, Agus Rusdhi mengaku tidak bisa menghadirkannya di hadapan media karena sedang bekerja melayani pasien lain. Padahal keberadaan dokter tersebuts angat penting untuk menjelaskan langsung ke publik.

Saat ditantang lagi untuk melakukan pemeriksaan ulang, Agus Rusdhi tidak bisa mengabulkan permintaan tersebut. Mengingat, saat ini sudah banyak antrian dari pasien lain. Apabila melakukan pemeriksaan ulang, haruslah menunggu sesuai dengan aturan dan mekanisme yang berlaku. “Dokter yang periksa ibu ini sedang periksa pasien lain, gak bisa kita hadirkan. Untuk periksa ulang juga harus antri,” jawabnya santai.

Koordinator Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran (PBHBM) NTB, Muhammad Saleh  selaku pendamping  korban sangat kecewa dengan pihak rumah sakit dan BP3TKI. Pihaknya merasa dipermainkan dan terkesan semuanya didesain.

Menurutnya, masalah yang dialami korban sangat serius dan tidak boleh main-main. “Mereka sendiri yang bilang ginjal korban hilang, sekarang lain katanya. Padahal waktu ketemu dengan bupati, dokter yang bernama Abdul Kadir juga bilang ginjal korban yang kanan tidak ada. Ini aneh, kami sangat kecewa,” kesalnya.

Hal yang paling membuatnya curiga, hasil rontgen jelas mengatakan ginjal tidak nampak. Pernyataan tersebut disampaikan oleh dokter baik secara tertulis maupun lisan. “Terus sekarang, bilang ginjal ada. Padahal tanpa pemeriksaan ulang, ada apa sebenarnya, seolah ada intervensi ini,” ujar Saleh.

Saleh juga mempertanyakan sikap RSUP yang enggan menghadirkan dokter terkait. Padahal, dokter tersebut sedang berada di rumah sakit. “Coba bayangkan, siapa yang tidak merasa dipermainkan. Kita minta dihadirkan dokter yang meriksa itu, dijawab tidak bisa karena dokter sedang kerja. Terus kita tantang agar korban diperiksa ulang, mereka juga bilangnya tidak bisa sekarang. Kami akan terus kawal masalah ini sampai tuntas,” ucapnya.

Setelah bertemu dengan Wadir Pelayanan RSUD Provinsi NTB, Saleh ditelpon oleh Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI Lalu Muhammad Iqbal. Dalam percakapan tersebut, Iqbal menyarankan agar Sri Rabitah diperiksa ulang di Rumah Sakit Bayangkara di Kramat Jati, Jakarta Timur.

Iqbal khawatir, pernyataan RSUD NTB yang berubah karena adanya intervensi dari pihak-pihak tertentu. Untuk mengantisipasi intervensi tersebut, rumah sakit Bayangkara menjadi tempat yang paling aman untuk dilakukan pemeriksaan ulang. Masalah biaya, Iqbal mengatakan bisa dibantu oleh BP3TKI.

Ketika Saleh menelpon Mucharom Ashadi selaku Kepala BP3TKI, Mucharom malah mengaku tidak bisa mengikuti saran dari Iqbal. Alasannya, BP3TKI tidak memiliki dana untuk melakukan itu. “Saya sudah komunikasi dengan korban dan pihak keluarga, kami akan lakukan pemeriksaan ulang. Tapi belum kita putuskan dimana, kami mau menghadap ke bupati Lombok Utara dulu,” ujar Saleh.

Terpisah, kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov NTB, H Yusron Hadi mengatakan, pemprov memberikan perhatian serius terkait masalah ini. Meskipun gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi belum memberikan pernyataan apapun. “Kami melihat sementara ini belum perlu Pak Gubernur bicara soal ini, terlebih masih ada kami-kami staf beliau dan RSUP yang terus bekerja,” katanya.

Menurut Yusron, dokter radiologi tidak pernah memberikan pernyataan bahwa Sri Rabitah kehilangan ginjal. “Tidak mungkin mereka berbohong, di bawah sumpah juga. Jadi mari lebih baik berpikir positif. Jangan dulu ada praduga yang membuat berita makin heboh,” sarannya. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid