Ratusan Rumah Terendam, Banjir di Kuta Akibat Drainase Dekat Sirkuit Tersumbat

TERSUMBAT: Inilah drainase yang tersumbat di depan sirkuit di Desa Kuta yang tersumbat dan membuat terjadinya genangan hingga masuk ke permukiman warga, Selasa (7/12). (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYAIntensitas hujan yang terjadi di Lombok Tengah,membuat terjadinya banjir di berbagai wilayah di daerah tersebut. Banjir yang terparah terjadi di Desa Kuta Kecamatan Pujut. Terlebih banjir diperparah dengan tersumbatnya drainase di depan Pertamina Mandalika International Street Circuit yang membuat air meluap hingga perkampungan warga.

Akibatnya, ada ratusan kepala keluarga (KK) yang terendam banjir. Seperti di Dusun Kuta sendiri jumlah warga yang terendam banjir sebanyak 25 KK, kemudian Dusun Mengalung  sebanyak 150 KK, Dusun Baturiti 300 KK dan Dusun Merendeng 100 KK. Di mana banjir terjadi setelah intensitas hujan yang berlangsung dari senin siang sampai Selasa dini hari.

Bahkan Bupati Lombok Tengah, H Lalu Pathul Bahri yang mendapat informasi perihal banjir di Kuta langsung bergerak menuju lokasi banjir. Bupati ditemani Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Tengah dan sejumlah personel tanggap darurat. Warga yang terendam banjir bahkan harus mengugsi di masjid dan musala serta bangunan pemerintah yang berada diketinggian. “Tadi malam terjadi banjir akibat intensitas hujan yang tinggi, ditambah di drainase yang dibuat untuk mengantisipasi banjir ini ada yang tersumbat. Tapi sekarang air sudah surut dan warga sudah kembali ke rumah masing- masing,” ungkap salah seorang warga Desa Kuta, Amaq Sari ketika ditemui di lokasi, Selasa (7/12).

BACA JUGA :  Lakalantas Maut, Bocah 5 Tahun Tewas

Kepala BPBD Lombok Tengah, H Ridwan Ma’ruf menyatakan, banjir yang terjadi di Desa Kuta Kecamatan Pujut pada Selasa (7/12) tidak separah banjir yang terjadi enam bulan lalu. Pasalnya kalau saat itu, bahkan banjir terjadi sampai menggenangi sirkuit dan saat itu sekitar 15 dusun di Desa Kuta dan Desa Sukadana menjadi terdampak. “Kalau sekarang hanya tergenang sementara saja dan sirkuit juga tidak terkena banjir. Memang awalnya genangan sampai lebih satu meter. Tapi itu tidak lama karena memang air langsung surut dan air sudah mulai menggenangi rumah warga pada Senin malam (6/12)  sekitar pukul 23.00 Wita hingga Selasa dini hari (7/12) sekitar pukul 2.00 Wita,” terangnya.

Ridwan mengaku, warga sempat melakukan evakuasi di lokasi yang aman. Tapi tidak lama mereka langsung kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan rumah mereka. “Tadi malam kita langsung turun ke lokasi dan membawa alat-alat penyelamatan, tapi air sudah surut dan warga sudah kembali,” terangnya.

Ridwan menegaskan bahwa penyebab banjir ini, memang selain intensitas hujan yang cukup tinggi, disatu sisi memang tidak terlepas dari pembangunan yang terjadi di areal perbukitan. Karena memang tidak bisa dipungkiri dengan pembangunan itu, membuat banyak pohon yang ditebang dan juga banyak dibuka akses jalan. “Jadi tanah di pebukitan menjadi terkikis dan turun ke drainase yang membuat drainase juga menjadi tersumbat. Maka penting memang budaya gotong royong membersihkan drainase ini tetap kita lakukan. Di satu sisi kita sudah memetakan daerah rawan bencana, termasuk lokasi untuk jalur evakuasi,” terangnya.

BACA JUGA :  Berkas Kades Lajut Dilimpahkan

Wakil Bupati Lombok Tengah, HM Nursiah mengaku sudah melakukan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait dengan permasalahan banjir ini. Sejauh ini wilayah Lombok Tengah bagian selatan menjadi titik rawan banjir. “Tadi malam banjir di Desa Kuta dan informasinya sebelumnya longsor di Selong Belanak. Kita bersama dinas terkait akan melakukan perencanaan mitigasi bencana dan titik-titik rawan ini menjadi prioritas kami. Kita sudah meminta dari dinas PUPR untuk melakukan perencanaan terpadu terkait pembangunan di daerah ini,” terangnya.

Soalnya, tidak bisa dipungkiri bahwa selain intensitas hujan yang tinggi, banjir dan longsor juga diakibatkan faktor alih fungsi hutan untuk bangunan. Sehingga perencanaan pembangunan di Lombok Tengah ini harus dikaji secara mendalam. Bahkan tidak menutup kemungkinan RTRW yang sudah ada saat ini akan direvisi atau pengkajian ulang. “Dengan begitu, pembangunan di Lombok Tengah menjadi terarah dan terhindar dari bencana alam seperti banjir dan longsor,” terangnya. (met)