Premium Dihapus, Pertamina Kini Pangkas Pasokan Pertalite

MULAI KOSONG : Setelah Premium dihapus, kini Pertamina mulai mengurangi pasokan Pertalite ke SPBU hingga 50 persen. (DOK / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat perekonomian masyarakat berbagai lapisan semakin terpuruk. Bahkan jumlah penduduk miskin dampak dari pandemi Covid-19 semakin bertambah drastis. Terlebih lagi dengan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat atau Level 4, kondisi perekonomian masyarakat semakin menyedihkan.

Di tengah kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat semakin terpuruk, justru Pertamina semakin ‘memiskinkan’masyarakat kecil yang mengandalkan bahan bakr minyak (BBM) untuk mencari nafkah. Jika sebelumnya, Pertamina sudah menghapus penjualan Premium yang merupakan BBM subsidi, kini giliran Pertalite yang merupakan BBM non subsidi secara perlahan akan dihilangkan oleh Pertamina.

Sudah lima hari belakangan ini, Pertamina mengurangi dan membatasi pasokan BBM jenis Pertalite ke SPBU. Akibatnya, penjualan BBM Pertalite di SPBU mulai kosong.

Sejumlah petugas SPBU di Kota Mataram mengakui jika pasokan BBM Pertalite dikurangi oleh Pertamina. Di SPBU Karang Jangkong, yang sebelumnya biasanya mendapatkan pasokan 16.000 liter hingga 18.000 liter per hari, kini hanya mendapatkan 8.000 liter saja per hari, atau berkurang sekitar 50 persen. Bahkan, pasokan kadang sekali dalam dua hari.

“Sudah beberapa hari ini pasokan BBM Pertalite dikurangi sama Pertamina. Permintaan cukup tinggi, tapi karena kosong, masyarakat terpaksa beli Pertamax,” tutur petugas SPBU Karang Jangkong, Rabu malam (3/8).

BACA JUGA :  400 Pejabat di Pemprov NTB Terancam Kehilangan Jabatan

Hal serupa juga dialami SPBU di Ampenan yang mengalami kekosongan BBM Pertalite. Masyarakat harus terpaksa membeli Pertamax yang harganya jauh lebih mahal.  Di SPBU Ampenan, pasokan untuk Pertalite mengalami pengurangan dari pihak Pertamina. Terjadi pengurangan ini sejak 5 hari lalu, padahal permintaan untuk BBM jenis Pertalite sangat tinggi. Mengingat untuk BBM subsidi jenis Premium sudah dihapus oleh pemerintah.

“Iya berkurang sekarang, dari sebelumnya 16.000 liter jadi 8000 liter. Itu saja yang 8000 liter sehari sudah habis, tergantung dari mampu belinya juga. Kadang datang 2 hari sekali,” tutur salah seorang petugas SPBU Ampenan.

Padahal dari Pertamina sendiri telah mengusung Program Langit Biru yang berupa pemberian harga khusus BBM dengan nilai oktan lebih tinggi, yaitu Pertalite menjadi seharga Premium atau sekitar Rp 6.450 per liter. Hal ini menjadi salah satu upaya perseroan untuk mengedukasi masyarakat agar beralih ke BBM yang lebih ramah lingkungan.

“Dari Pertamina yang mengurangi pasokan Pertalie,” ujarnya.

BACA JUGA :  Tete Batu Siap Menangkan Best Tourism Village 2021

Suasana di SPBU Karang Jangkong, nampak petugas hanya melayani pengisian BBM jenis Solar. Petugas di tempat ini mengaku Pertalite kosong.

Sementara itu, Section Head Communication Pertamina MOR V, Arya Yusa Dwicandra mengklaim kalau stok Pertalite aman dan disalurkan sesuai kebutuhan. Untuk Pertamina di wilayah Jatimbalinus (Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur) tetap menyalurkan BBM Pertalite sesuai dengan kebutuhan konsumen. Semenjak PPKM diberlakukan per tanggal 3 Juli 2021, terjadi penurunan konsumsi BBM di wilayah Jatimbalinus sebanyak 17 persen.

“Jumlah tersebut terdiri dari penurunan BBM Pertamax Turbo, Pertamax dan Pertalite sebesar 18 persen dan Pertamina Dex, Dexlite, Solar sebesar 16 persen,” ujarnya.

Meskipun terjadi penurunan, Pertamina tetap memastikan stok BBM di wilayah Jatimbalinus aman. Namun, berdasarkan tren penurunan tersebut, Pertamina melakukan evaluasi dan upaya penghitungan proyeksi perkiraan kebutuhan BBM masyarakat serta terus memantau kebijakan pemerintah.

“Jika ada kendala pasokan, konsumen dapat menghubungi kontak Pertamina 135 dan menginformasikan wilayah atau lokasi yang terkendala. Tim kami akan menindaklanjuti di lapangan,” tuturnya. (dev)