Pengelolaan Objek Wisata Sembalun Mulai Dibenahi

SEMBALUN
DIKUNJUNGI : Sejak mulai dibuka, sejumlah destinasi wisata perbuktikan di Sembalun mulai ramai dikunjungi. (M GAZALI/RADAR LOMBOK)

SELONG – Sejak timbulnya konflik di tengah masyarakat terkait dibukanya kembali destinasi wisata Sembalun, pihak terkait mulai melakukan pembenahan pengelolaan objek wisata di tempat itu. Baik itu pendakian Bukit Pergasingan, Bukit Selong, termasuk pendakian ke Gunung Rinjani.  

Di antaranya aturan yang diberlakukan, para wisatawan laki-laki dan perempuan yang akan menginap tidak diperkenankan berada di  satu tenda. Karenanya untuk memperkuat aturan yang dibuat itu, direncanakan akan dibentuk lembaga  pengawas. Keberadaan lembaga pengawasan itu untuk melakukan pemantuan terhadap aktivitas para wisatawan. ‘’Setelah beberapa kali kita lakukan pertemuan dan mediasi. Maka sampailah pada satu titik kesimpulan bahwa, pengelolaan wisata di Sembalun ini perlu untuk ditata ulang,‘’ kata Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Timur, Mertawi, Minggu (4/8).

BACA JUGA: Senggigi Mulai Ramai Dikunjungi Wisatawan Mancanegara

Disampaikan, pada dasarnya tidak ada masyarakat yang menolak dengan wisata ini melainkan masyarakat sangat mendukung. Apalagi dunia pariwisata di tempat itu menjadi salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat setempat. ‘’Terutama pendakian ke bukit-bukti  wisata yang ada di sana. Ketika ada wisatawan yang berkunjung ke tempat itu, bagaimana kita harus bisa menjamin bahwa pengajunjung di tempat itu tidak lakukan hal-hal yang negatif,‘’ imbuh  Mertawi.

‘’Karena kita merencanakan teman-teman kelompok pengelola wisata di bukit-bukti itu akan bentuk lembaga pengawasan sekaligus pembina,‘’  lanjut dia.

Pihak yang dilibat dalam lembaga yang akan dibentuk itu terangnya mewakili semua unsur.  Di antaranya ada dari unsur pemerintah, tokoh adat, agama, keamanan, pemuda, pelaku wisata di tempat itu. ‘’Lembaga inilah yang menjadi benteng yang  akan selalu memantau perkembangan destinasi wisata  yang ada di Sembalun,‘’  ujar dia.

Soal kepastian kapan lembaga itu akan mulai dibentuk? Mertawi menjawab masih dirancang untuk menentukan formasi dan bentuknya seperti apa. ‘’Kita upayakan dalam waktu dekat sudah bisa kita bentuk,‘’ ungkap dia.

BACA JUGA: Awan Lenticular Rinjani Tak Berkaitan dengan Gempa

Terkait dengan penerapan aturan baru bagi para pengunjung disebutnya, sebagian aturan telah mulai diberlakukan. Tidak hanya ke  wisata bukit, aturan yang sama juga berlaku bagi para wisatawan yang mendaki ke Rinjani. ‘’Di antaranya aturannya, wisatawan tidak boleh lakukan pendakian ke Rinjani pada Hari Kamis dan Jumat Pagi. Kecuali setelah selesai Jumat.  Termasuk juga  ketika ada pendaki yang berkelompok, kalau ada laki dan perempuan. Diupayakan tendanya itu harus dipisahkan,‘’ ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, berkaitan dengan laranganya dibuka atau tidaknya kunjungan ke destinasi wisata di Sembalun bukan sepenuhnya menjadi kewenangan mereka. Mengigat kawasan  atau destinasi wisata di bawah kaki gunung Rinjani itu sepenuhnya berada dalam penguasaan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) atau Dinas Kehutanan. ‘’Dan pihak Kehutanan ini telah menjalin kerjasama secara resmi dengan  pengelola  objek wisata di sana. Sehingga secara otomatis, mereka lah yang punya tanggung jawab. Sementara kita hanya sebatas mengakomodir aspirasi dari masyarakat. Di situlah peran kita sebagai pemerintah menjembatani, ‘’ sebutnya. (lie)