Pemkab Loteng tak Anggarkan Dana Perbaikan Sekolah

DIPERBAIKI: Inilah Kondisi SDN Pampang Desa Kabul Kecamatan Praya Barat Daya yang sedang dalam proses perbaikan, kemarin. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Di tengah semangat Pemkab Lombok Tengah membangun gedung megah, ternyata tidak dibarengi dengan semangat membangun infrastruktur pendidikan. Hal ini dibuktikan bahwa pemda tidak menganggarkan dana perbaikan fasilitas sekolah dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2021.

Pemda ternyata selama ini hanya mengandalkan dana dari pemerintah pusat melalui dana alokasi khusus (DAK) untuk memperbaiki infrastruktur sekolah. Padahal seperti diketahui saat ini banyak sekolah yang kondisinya sangat memperihatinkan dan butuh perhatian dari pemerintah untuk segera dilakukan perbaikan.

Kabid SD Dinas Pendidikan Lombok Tengah, Hj Khaerunnisa menyatakan, ada sekitar Rp 25 miliar DAK yang dialokasikan untuk pendidikan. Tapi dana ini tidak hanya fokus untuk melakukan rehab sekolah tapi juga digunakan untuk membangun sarana pendukung dan perbaikan mutu pendidikan lainnya. “Ada 195 sekolah dasar yang menjadi sasaran DAK ini. Penggunaannya tidak hanya untuk rehab gedung sekolah tapi pembanguna WC dan lain sebagainya. Sementara untuk dana yang dianggarkan dari APBD tidak ada untuk tahun ini, karena adanya pandemi Covid-19,” ungkap Khaerunnisa, Rabu (25/8).

BACA JUGA :  Loteng akan Rebut Kembali Wilayah Nambung

Nisa mengaku, tidak bisa dinafikan keterbatasan anggaran membuat pihaknya tak bisa bekerja maksimal. Meski diakui banyak sekolah yang membutuhkan perbaikan, terutama SD. “DAK yang ada hanya untuk rehab sedang saja dan rehab bisa dilakukan bagi sekolah yang mengalami kerusakan kurang dari 45 persen. Kalau rehab yang kerusakannya di atas 45 persen menjadi tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Makanya sering sekolah mengajukan dengan memasukan di sistem yang kerusakan di atas 45 persen, hal inilah yang membuat usulan ditolak oleh sistem,” sebutnya.

BACA JUGA :  Rencana Utang Rp 200 Miliar Masih Dikaji

Nisa juga mengaku, kerusakan gedung sekolah terus bertambah setiap tahunnya. Hal ini juga tidak terlepas dari kurangnya kepedulian pihak sekolah. Mereka tidak merespons cepat jika ada kerusakakan kecil di sekolah untuk segera diperbaiki. “Sebulan saja kita tidak data maka akan semakin banyak yang rusak, apalagi kondisi sekarang sekolah banyak yang kosong. Untuk yang rusak berat sebelumnya sudah kita ajukan sekitar 15 sekolah yang perbaikannya dari Kementerian PUPR. Kondisi saat ini yang rusak sedang setiap bulan kami update, terkahir ada sekitar 50-60 sekolah yang membutuhkan perhatian,” paparnya. (met)