Pemkab KLU Segera Tetapkan Status Darurat Kekeringan

Status Darurat Kekeringan Segera Ditetapkan
SIAGA : Armada penyaluran air bersih milik BPBD selalu stand by. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara segera menetapkan status darurat kekeringan yang menimpa sebagian masyarakat di sejumlah titik di tiga kecamatan.

Status darurat sangat layak akan dilakukan karena kekeringan diprediksi akan terjadi selama tiga bulan kedepan. Sehingga seluruh potensi penyaluran air bersih akan segera disalurkan dengan melibatkan SKPD terkait. “Sekarang ini masih BPBD yang menyalurkan air bersih, jika sudah ditetapkan status darurat kekeringan yang akan segera ditetapkan maka seluruh potensi penanganan akan dilakukan,” ujar Asisten I Setda Lombok Utara Nanang Matalata, kemarin (8/8).

Dana talangan sebesar Rp 1 miliar sampai saat ini belum dipakai, karena anggaran yang ada di BPBD belum semua terealisasi. Jika sudah status darurat maka dinas terkait seperti Dinas Sosial, Dinas PUPR dan lainnya akan ikut menyalurkan air bersih. “Termasuk juga membuat posko di sejumlah titik,” terangnya.

Penetapan status darurat kekeringan, pihaknya akan segera ditetapkan langsung oleh bupati dalam waktu dekat sekaligus pemberian arahan dalam penanganan. “Nanti pak bupati pasti akan turun memantau lokasi titik-titik kekeringan tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Lombok Utara Iwan Maret Asmara menerangkan, musim kekeringan yang sedang melanda sebagian wilayah Kabupaten Lombok Utara diprediksi akan terjadi selama tiga bulan kedepan. “Kami sudah mengantisipasi musim kekeringan selama tiga bulan kedepan dengan menyiapkan air bersih sebanyak 1.000 tangki atau 5 juta liter,” terangnya.

Sementara penyaluran air bersih sampai saat ini sudah distribusikan sebanyak 100 tangki atau 500 ribu liter ke lima desa, antara lain Desa Salut Kecamatan Kayangan berlokasi di Dusun Tanak Sembang, Sambik Rendang, Marsinjong, dan Tunjang Besi. Desa Selengan Kecamatan Kayangan di Dusun Lokok Mandi, Lokok Beru (masih ringan), Panggung Timur dan Panggung Barat. Kemudian, di Kecamatan Bayan ada dua desa yaitu Desa Mumbul Sari menimpa Dusun Pengadan Baru dan Jerujuk, Desa Akar di Dusun Otak Lendang, Dasan Gelumpang, dan Terbis, Desa Sukadana di Dusun Segenter. Selanjutnya di Desa Medana Kecamatan Tanjung terjadi di satu dusun di Urung Rumput.

Dari hasil pendataan terdapat 88 titik kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Lombok Utara. Masuknya musim kemarau panjang ini, tentu pihaknya akan semakin mempersiapkan diri untuk mendistribusikan air bersih secara beraturan. Jumlah 88 titik akan menjadi target pelayanan dengan kekeringan status lokal, sehingga masih bisa diatasi sendiri. “Jumlah jiwa di 88 titik ini sebanyak 33 ribu lebh, itu target harus kami layani,” bebernya.

Meskipun titik-titik yang terindikasi dampak kekeringan ini, kata Iwan belum semua yang masuk kategori dalam kondisi parah dan butuh penanganan segera. Sebagian besar titik-titik ini justru dikatakannya masih bisa menjangkau air bersih. Sementara kawasan-kawasan yang sulit mengakses air bersih saat ini diakuinya telah disikapi BPBD untuk disuplay kebutuhan Air bersih tersebut. “Hari semakin hari kekeringan bertambah secara pelan-pelan sampai tiga bulan. Untuk saat ini kami menyalurkan air bersih masih menggunakan pola kondisi,” terangnya.

Stok air bersih sesuai anggaran sebesar Rp 123 juta masih 4,5 juta liter dengan mengambil sumber air di PDAM dan mata air Mumbul Sari. Untuk sementara, penyaluran masih dilakukan BPBD sendiri. Akan tetapi, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial. “Sedangkan, pihak ketiga masih belum melakukan koordinasi, karena saat ini bisa ditangani,” katanya.

Menurut Iwan, dari tahun ke tahun titik kekeringan di Lombok Utara mulai berkurang. Hal ini melihat data sebelumnya terdapat 100 titik, sekarang menjadi 88 titik, artinya terjadi kekurangan 12 titik. Kekurangan ini adalah keberhasilan pemerintah daerah lintas sektor bersinergi untuk melakukan pengurangan titik lokasi kekeringan dengan melakukan perpipaan, sebab sumber mata air di Lombok Utara sampai saat ini masih banyak, sehingga hanya membutuhkan perpipaan menuju titik-titik kekeringan. “Tentu diharapkan kedepan semakin berkurang,” harapnya. (flo)