Pariwisata Senggigi Meredup

senggigi
GARDU PANDANG: Fasilitas gardu pandang yang ada di sekitar Makam Batu Layar yang rusak, sampai saat ini belum juga dilakukan perbaikan. (FAHMY/RADAR LOMBOK)

GIRI MENANG — Meski gempa sudah berlalu hampir 10 bulan lebih, namun kondisi pariwisata di kawasan Senggigi belum dapat normal sepenuhnya, bahkan cenderung meredup. Terbukti sampai bulan Juni 2019, tingkat hunian hotel-hotel di Senggigi masih rendah. Sebaliknya di selatan Lombok Tengah, tepatnya di kawasan Mandalika Resort, geliat pariwisata justeru semakin tumbuh.

Jika Mandalika terus berbenah, sementara Senggigi tetap saja diam, maka kedepan kawasan wisata pantai Senggigi dapat dipastikan hanya tinggal nama saja. Kondisi Inilah yang dikhawatirkan oleh Nauvar F Farinduan, politisi yang juga mantan calon Bupati Lombok Barat tahun 2018 lalu. Khususnya ketika melihat perkembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lobar.

BACA JUGA: Tenda Pria dan Wanita di Rinjani Bakal Dipisah

Karena tak bisa dipungkiri, lanjut Farin, sector pariwisata menjadi penyumbang PAD yang cukup siginifikan Lombok Barat. “Pengembangan pariwisata di kawasan Senggigi meredup, tidak ada gairahnya,” katanya, belum lama ini.

Apalagi dengan akan segera dibangunnya sirkuit motoGP di kawasan Mandalika, maka ini juga menjadi kekhawatiran Senggigi semakin ditinggalkan. Sehingga agar itu tidak terjadi, maka Farin mengajak seluruh pihak untuk tidak berangapan kalau pariwisata Senggigi tertinggal.

Tetapi yang harus dilakukan, adalah bagaimana semua pihak, baik itu Pemda Lobar, pelaku usaha, dan masyarakat  membangun embrio-embrio di berbagai sektor pariwisata, sehingga wisata Senggigi tetap hidup. Sedangkan apa yang ada di Mandalika, kemudian bisa memberikan kontribusi untuk Lobar, begitu juga sebaliknya. “Keberadaan Mandalika harus memberikan keuntungan untuk Senggigi. Ini yang harus diciptakan,” ujar Farin.

Tentu nantinya harus bersinergi dengan Provinsi NTB yang memiliki otoritas penuh. Karena dari hasil kajiannya, dia melihat Senggigi sekarang sudah mulai tua dan kurang dikembangkan oleh Pemkab Lobar. Padahal dengan garis pantai yang cukup baik, dan sudah dikenal pula Senggigi di mata Nasional, seharusnya pengembangan pariwisata bisa dibangun pusat makanan yang berjajar dipinggiran pantai. “Artinya, harus ada inovasi dari pemerintah daerah. PAD itu itu jangan hanya sekedar berasal dari hiburan malam saja. Dan sudah banyak daerah lain yang bisa dicontoh,” ucap Farin.

BACA JUGA: Catat, Dilarang Pacaran di Bukit Pergasingan

Menurutnya, perlu ada revitalisai kawasan Senggigi, sebagai kawasan sport tourism, atau pun untuk selfi point, bahkan hingga instagramable. Mengingat perkembangan media sosial sangat ini juga sangat mempengaruhi perkembangan suatu destinasi pariwisata, termasuk tingkat kunjungan.

Tak hanya itu saja, Farin juga mengaku cukup miris dengan keadaan gardu pandang di Batu Layar. Pasalnya, hingga hari ini perbaikan atas gardu pandang itu belum juga dilakukan. Termasuk juga lampu penerangan jalan yang masih kurang, membuat jalan-jalan di kawasan senggigi masih gelap. “Sampai  saat ini gardu pandang saja belum diperbaiki,” kritik Farin. (ami)