Operasi Pasar untuk Pedagang Dikritik

MATARAM – Harga sejumlah bahan pokok di pasar mengalami kenaikan harga selama bulan Ramadan ini. Pemerintah pun mengintervensinya dengan menggelar Operasi Pasar (OP). OP yang digelar di banyak tempat memang belum mampu menetralisir harga kebutuhan pokok. OP belum memberikan dampak seginifikan terhadap penurunan harga. OP Bahkan sasaran karena menyasar pedagang, bukan masyarakat umum. Misalnya OP khusus gula yang dilaksanakan oleh Dinas Koprindag Kota Mataram. OP ini justru menyasar pedagang. Pemerintah menyubsidi harga gula untuk para pedagang dengan harapan pedagang menjualnya ke pembeli dengan harga Rp 13.500 per kilogram.

Ternyata kebijakan ini mendapat protes dari masyarakat kecil. Pedagang gula tidak mematuhi ketentuan. Harga gula tetap tinggi di kisaran Rp 15 ribu sampai Rp 18 ribu per kilogram.

Wakil Ketua DPRD Kota Mataram Muhtar meminta pemerintah membuat kebijakan yang langsung menyentuh masyarakat, jangan justru menguntungkan pedagang. “ Kalau OP ke pedagang sama saja memberikan ke tengkulak,” ungkap Muhtar saat ditemui di kantor DPRD Kota Mataram kemarin.

Politisi Gerindra ini mengakui harga Sembako  masih tinggi. Program  yang dijalankan Pemkot justru belum bisa menekan harga.

Pemerintah  perlu melakukan  terobosan yang baru agar harga kebutuhan pokok turun. “ Kalau mau OP harus menyentuh ke masyarakat paling bawah, jangan ke pedagang,” pintanya.

OP yang dikhususkan kepada para pedagang tidak bisa menjamin harga turun kalau tidak diawasi. Bisa jadi setelah pedagang membeli dengan harga murah, gula ditimbun atau dijual dengan harga yang lebih tinggi.” Kalau ke pedagang  bisa saja disimpan lagi, untuk dijual nanti,” ungkapnya.

Ia memprotes kebijakan pemerintah yang menggelar OP gula untuk para pedagang. Sebab kalau pembeli adalah pedagang, itu namanya  operasi tengkulak karena yang untung itu hanya para pedagang. Sedangkan masyarakat sebagai sasaran tidak bisa menikmati harga murah.(ami)

BACA JUGA :  Pasar Tradisional Desa Dasan Baru Gunakan Transaksi Syariah