Museum NTB Bantah Menganaktirikan Koleksi Bersejarah dari Dompu

KOLEKSI MUSEUM: Dua koleksi benda bersejarah asal Dompu yang dipamerkan di ruang pajang Museum Negeri NTB, yakni baju besi perang dan topi besi perang. (sigitsetyo/radarlombok)

MATARAM—Adanya anggapan Museum Negeri NTB telah menganaktirikan koleksi benda-benda atau peninggalan bersejarah yang berasal dari Kabupaten Dompu, dibantah tegas Kepala Museum Negeri NTB, Bunyamin, M. Hum.

Tudingan ini mengemuka ketika rombongan tim pegiat sejarah Dompu bersama Disbudpar Dompu berkunjung ke Museum Negeri NTB, sebagai rangkaian pelantikaan anggota Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), awal bulan Maret 2022 lalu. Dimana ketika melihat ruang pamer atau pajang di Museum NTB, hanya terdapat dua benda bersejarah asal Dompu yang dipajang, yakni baju besi perang dan topi besi perang saja.

“Jadi saya tegaskan, tidak benar kalau kami Museum Negeri NTB dianggap telah mengabaikan koleksi benda bersejarah dari Kabupaten Dompu. Kami sebagai pengelola tetap memperlakukan sama semua koleksi yang kami miliki, dari manapun asalnya, termasuk dari Dompu. Namun karena kapasitas ruang pamer yang terbatas, mau tidak mau koleksi yang dipajang tentu harus bergantian (rolling),” jelas Bunyamin, kepada Radar Lombok, Senin (28/3).

Seperti diketahui, sambung Bunyamin, Museum Negeri NTB saat ini memiliki 7.697 koleksi, termasuk 78 koleksi yang berasal dari Dompu.

“Dari jumlah itu, yang dapat dipamerkan di ruang pajang Museum NTB hanya sebanyak 10 persen saja, atau sekitar 700 koleksi. Sementara sisanya disimpan di dalam gudang Museum Negeri NTB,” terangnya.

Namun meskipun berada di dalam gudang, bukan berarti koleksi-koleksi dari Dompu itu tidak pernah dipamerkan. Karena dalam rolling yang telah dilakukan Museum Negeri NTB sebelumnya, hampir semua ke 78 koleksi asal Dompu yang digudang itu juga pernah dipajang secara bergantian.

Selain itu, Museum Negeri NTB juga memiliki program tahunan seperti pameran temporary dan juga pameran keliling. Dimana benda-benda koleksi yang disimpan dalam gudang itu juga dipamerkan. Tentu saja benda koleksi yang dipamerkan sesuai temanya.

“Bahkan koleksi benda bersejarah dari Dompu, termasuk yang paling sering kita pamerkan ketika berlangsung program pameran temporary maupun pameran keliling, yang dalam setahun bisa sampai lima kali kegiatan. Seperti misalnya ketika tema pamerannya tentang sejarah, sudah pasti koleksi dari Dompu seperti baju perang, topi perang, dan sandaran kursi yang ada tulisan kaligrafinya itu kita bawa serta,” tutur Bunyamin.

Memang, dibandingkan dengan daerah lainnya di NTB, koleksi Museum Negeri NTB yang berasal dari Kabupaten Dompu, dapat dikatakan yang paling minim.

BACA JUGA :  April, Museum NTB Gelar Cerdas Cermat

“Soal banyak tidaknya koleksi dari Dompu ini, semua tergantung dari masyarakat. Mau tidak mereka menyerahkan benda-benda bersejarah miliknya untuk dijadikan koleksi Museum NTB melalui skema ganti rugi, seperti yang selama ini dilakukan. Dan kebetulan yang dapat kita kumpulkan dan lestarikan koleksi dari Dompu di Museum NTB ini baru ada sebanyak 78 koleksi saja. Itu pun kita kumpulkan dari tahun 1980 sampai 2005,” ujar Bunyamin.

Selanjutnya soal pemberian label koleksi asal Dompu yang diklaim oleh daerah lain. Diakui Kepala Museum NTB memang ada kekeliruan label, khususnya untuk koleksi topi besi perang dari Dompu. Tetapi hal ini telah dibahas oleh pengelola (Museum NTB) bersama teman-teman dari Dompu ketika berkunjung, dan telah dilakukan perbaikan atau revisi label.

“Kekeliruan ini terjadi, karena koleksi dari Dompu yang kita kumpulkan melalui ganti rugi ini terkadang yang membawa bukan orang dari Dompu. Namun bisa orang dari Lombok, atau daerah lain, yang kebetulan memiliki koleksi dari Dompu, dan kemudian menyerahkan ke Museum NTB dengan cara ganti rugi,” ucapnya.

Pegiat sejarah dari Dompu dalam pernyataannya juga meminta pihak Pemkab Dompu agar mengusut tuntas persoalan ini.

“Apa yang mau diusut tuntas. Kami ini lembaga resmi pemerintah, tempat pelestarian warisan budaya. Dimana setiap benda yang masuk ke Museum NTB itu sudah ada SOP-nya. Apakah melalui skema ganti rugi, hibah, atau titipan, sesuai dalam undang-undang Nomor 11 tahun 2010, yang sebelumnya undang-undang nomor 5 tahun 1992 tentang cagar budaya,” beber Bunyamin.

Koleksi dari Dompu yang sebanyak 78 itu sambung Bunyamin, terdiri dari koleksi geologika atau alam sebanyak 2, etnografika atau benda-benda budaya yang dipakai acara oleh etnis Dompu sebanyak 41, benda temuan atau arkeologika ada 10, sejarah atau historika 5, wismatika atau mata uang 9, teknologika 3, keramik asing 3, dan alat kesenian 5. Jadi semuanya 78. Sampai saat ini koleksi tersebut ada yang dipamerkan, dan ada yang disimpan dengan perawatan sesuai SOP.

Kesempatan itu, Kepala Museum NTB juga mengatakan kalau sebelumnya ada perwakilan dari pihak Disbudpar Dompu yang datang ke Museum NTB, yang mengatakan bahwa Pemkab Dompu ada rencana hendak mendirikan Museum. Apakah koleksi benda-benda bersejarah asal Dompu yang ada di Museum Negeri NTB bisa diambil kembali oleh Pemkab Dompu untuk dipajang di Museum Dompu nanti. Dimana kalau memang nanti ada ganti rugi, pihak Pemkab Dompu juga bersedia mengganti rugi.

BACA JUGA :  Museum NTB Gelar Lomba Melukis Ritual Budaya

“Saya jawab tidak bisa. Karena koleksi tersebut sudah tercatat sebagai aset daerah, dan warisan budaya Nusa Tenggara Barat (NTB). Saya sebut Nusa Tenggara Barat, ya artinya termasuk Dompu juga. Ini karena dalam peraturan perundang-undangan juga tidak bisa. Karena sudah menjadi koleksi Museum Negeri NTB. Sama halnya ketika kami hendak meminta koleksi benda-benda bersejarah NTB yang ada di Museum Nasional, juga tidak bisa. Kami hanya disarankan untuk membuat replikanya saja,” jelas Bunyamin.

“Kemudian untuk rencana Museum Dompu, kami menyarankan agar dibuat replikanya untuk koleksi benda bersejarah asal Dompu yang ada di Museum NTB. Cuma persoalannya, yang dibuatkan replika itu biasanya adalah koleksi yang masterpiece (karya besar). Sementara koleksi asal Dompu yang ada di Museum NTB ini kebanyakan adalah koleksi etnografi (41(, yang di Dompu sendiri masih sangat banyak keberadaannya di masyarakat,” sambung Bunyamin.

Selanjutnya untuk koleksi yang masterpiece atau khazanah (bernilai), tentu di keluarga Sultan Dompu masih menyimpan.

“Kalau hendak membuat museum, maka koleksi paling banyak yang bisa kita kumpulkan adalah dari masyarakat sendiri. Terus bagaimana cara mendapatkan koleksi yang masterpiece? Ya tentu tergantung bagaimana pola pendekatan yang dilakukan kepada pemilik koleksi, dalam hal ini keluarga Sultan Dompu. Bisa dilakukan dengan cara ganti rugi, hibah atau titipan. Tergantung komunikasi kita,” ujar Bunyamin.

Namun yang jelas, tambah Bunyamin, koleksi dari Dompu yang ada di Museum NTB ini hanya sebagian kecil saja dari benda-benda bersejarah yang ada dan masih dikuasai oleh masyarakat Dompu.

“Jadi kalau memang benar hendak membuat museum, Pemkab Dompu bisa mengawali dengan mengumpulkan koleksi dari masyarakat. Selanjutnya setelah museum berdiri, dan dikelola dengan bagus, maka kami yakin keluarga Sultan yang memiliki koleksi masterpiece pasti akan terketuk untuk menitipkan, atau mungkin menghibahkan koleksinya kepada Museum Dompu,” pungkas Bunyamin. (gt)