Masa Depan Pariwisata Senggigi Suram?

Pantai senggigi
PARIWISATA : Pesona Pantai Mekaki di Kecamatan Sekotong. (ZUL/RADARLOMBOK)

GIRI MENANG- Di tengah menggeliatnya sektor pariwisata nasional, ada sejumlah pihak yang melihat suramnya masa depan pariwisata kawasan Senggigi Lombok Barat bila dilihat dari angka kunjungan dan lain-lainnya saat ini. Belum lagi jauhnya jarak kawasan ini dengan bandara.

Anggota Komisi II (Pariwisata) DPRD Lobar H. Wahid Syahril mengatakan, memang saat ini tantangan pariwisata menggaet wisatawan ke Senggigi berbeda dengan yang dulu. Akses BIL ke Senggigi itu memang jauh. Apalagi saat ini wisata Kuta dan sekitarnya itu tumbuh pesat. Bahkan hotel-hotel yang berada di Kuta nyaris tidak pernah sepi.

Diungkapkannya, memang kalau hanya sekadar menjual keindahan pantai atau alam, bisa-bisa Senggigi kalah dengan destinasi lainnya. Oleh karenanya harus ada inovasi dan kreasi terutama dari Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Jangan hanya bisa menjual alam dan keindahan pantai saja. Harus ada hal lain yang dijual di Senggigi. Dengan demikian alasan jarak BIL dengan Senggigi akan bisa teratasi. “Sebagai contoh Rinjani. Itu orang jalan kaki berhari-hari. Itu artinya jarak bukan rintangan, karena mereka puas, ada yang didapatkan di sana. Begitu juga dengan di Senggigi. Terlepas dari yang negatif (hiburan malam) tadi. Yang negatif tidak usah kita jual,” jelasnya.

Lantas inovasi dan kreasi semacam apa yang harus dilakukan? Banyak sekali kata Wahid. Misalnya saja budaya yang bisa dikembangkan di sana. Selain juga saat ini sudah disahkan Perda Penyelenggaraan Pariwisata Halal di Lobar. “Artinya sudah ada guidance  (arahan). Kalau hanya menjual alamnya saja, pantainya saja, kita bisa kalah,” jelasnya.

Kemudian Wahid pun meminta agar Dinas Pariwisata Lobar tidak lagi melakukan promosi-promosi ke luar apabila tidak urgen. Sudah tidak zamannya lagi untuk itu. Karena pariwisata itu saat ini bisa tumbuh lewat promosi online. Hotel saja kebanyakan dipesan secara online. “Bahkan di Kuta, hotelnya itu ada di dalam kampung, punya 34 kamar dengan harga Rp 2 juta per kamar, itu nyaris tidak pernah sepi. Kebanyakan pesan lewat online. Kita saja ndak tahu hotel itu,” jelasnya.

Selain juga dia berharap agar Dinas Pariwisata Lobar jangan menjadi single player atau bermain sendiri. Harus ada komunikasi yang baik dengan Dinas Pariwisata NTB dan lainnya, berkolaborasi bersama membangun pariwisata. “Termasuk juga saya kira pariwisata di Sekotong. Itu harus dikembangkan. Sekotong dengan dengan Bali itu dekat, mari kita manfaatkan itu,” jelasnya.

Karena seperti diketahui pula, saat ini pariwisata tiga gili Lombok Utara sangat maju. Bahkan tidak terlalu berpengaruh dengan keberadaan BIL yang jauh. Tiga gili meraup banyak wistawan dari penyeberangan kapal-kapal cepat Bali-Gili. (zul)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid