Mahasiswa IAIN Demo Tolak Kebijakan Rektor

TOLAK KEBIJAKAN REKTOR: Massa mencoba merangsek masuk ke ruang rektor IAIN untuk bertemu. Mahasiswa menolak kebijakan rektor terkait dengan tidak adanya perpanjangan pembayaran SPP. (Herudin/Radar Lombok)

MATARAM — Puluhan mahasiswa IAIN Mataram yang mengatasnamakan dirinya Aliansi Mahasiswa IAIN menggugat bentrok dengan pihak keamanan kampus saat menggelar aksi demonstarasi untuk menolak kebijakan rektor terkait dengan tidak adanya perpanjangan pembayaran SPP bagi mahasiswa.

Mahasiswa mendesak bertemu dengan rektor untuk meminta perpanjangan waktu membayar SPP namun sempat dihalang-halangi pihak keamanan kampus. Sempat terjadi saling dorong. Mahasiswa yang kesal lantas membakar ban bekas.

Dalam orasinya massa menilai  kebijakan tersebut hanya akan menyengsarakan mahasiswa. Lantaran banyak mahasiswa yang berasal dari kalangan keluarga tidak mampu.”Kampus IAIN seharusnya mendidik dengan nilai keislaman dan kemanusiaan, bukan malah sebaliknya membuat aturan yang tidak berperikemanusiaan  layaknya kebijakan cuti paksa,”ungkap Fadli selaku Koordinator Lapangan (Korlap) ketika berorasi,Senin  kemarin (13/2).

[postingan number=3 tag=”demo”]

Hal tersebut menurutnya, merupakan kebijakan yang tidak jauh beda kebijakan bahwa orang miskin dilarang kuliah. ”Ratusan mahasiswa masih belum membayar dan malah dari kampus mengatakan bahwa lebih baik cuti. Padahal ketika cuti membuat proses akademik mahasiswa menjadi panjang karena telat wisuda,”ujarnya.

Diungkapkan, keterlambatan mahasiswa dalam membayar SPP seharusnya direspon bukan dengan mengeluarkan kebijakan cuti paksa.”Ada juga yang tidak telat membayar SPP tapi dia ketika membayar di bank malah disuruh ke kampus dan ada juga yang tidak melayani dengan baik,”ujarnya.

Orator lainnya Pipit menyampaikan kebijakan kampus cendrung mencekik dan sangat merugikan bagi mahasiswa. Dirinya menceritakan bahwa pernah menghadap ke pihak kampus namun dirinya malah disuruh untuk cuti.”Saya menyadari bahwa saya orang miskin namun setidaknya Bapak Rektor memiliki hati nurani, saya disuruh cuti tapi bersyukur tamen-teman yang ada di dekat saya ketika mendengar kata tersebut langsung patungan,” ujarnya.

Dirinya juga meminta agar pihak kampus memperjelas anggaran pengadaan fasilitas pendidikan IAIN Mataram untuk tahun 2016 serta menyodorkan bukti administrasi bahwa anggaran tersebut sudah dikembalikan ke Kas negara.”Perbaiki sistem pembayaran SPP dan kerja sama dengan bank terkait dan kami menolak kebijakan rektor terkait dengan tidak adanya perpanjangan SPP yang hanya menguntukan satu pihak,”tambahnya.

Massa aksi sempat ricuh, bahkan dari pantauan Radar Lombok, sekitar sepuluh kali terjadi kericuhan dan saling kejar antara pihak keamanan kampus dengan mahasiswa. Hal tersebut lantaran masa aksi mencoba merangsek masuk ke ruangan rektor untuk menemui rektor tersebut. Mahasiswa juga membakar ban sebagai bentuk kekecewaanya lantaran rektor tidak menemui mereka.”Kami sudah minta baik- baik namun tidak ditanggapi,maka kami terpaksa menggunakan kekerasan,”ungkap mahasiswa lainnya.

Sudah hampir 3 jam melakukan orasi, namun  rektor tidak kunjung  hadir sehingga amarah massa aksi semakin tidak terkontrol. Terlebih ketika melihat Kapolsek Mataram meninjau lokasi.”Kami mau minta audensi dengan rektor bukan dengan polisi,”ujarnya.

Setelah mendapat desakan, akhirnya rektor IAIN Mataram Mutawali menemui massa aksi. Dirinya menjelaskan kebijakan kampus yang tidak memberikan perpanjangan waktu pembayaran SPP tersebut merupakan hasil musyawarah dengan pejabat   di IAIN Mataram.”Kalau kami perpanjang maka sistem aplikasi lainnya akan terpengaruh dan yang kami lakukan merupakan permintaan adik-adik yang menyuruh kami untuk disiplin,”ujarnya.

Namun diungkapkan kendati  pembayaran SPP tidak bisa diperpanjang, akan tetapi pihaknya akan mencoba melakukan komunikasi kembali dengan para kepala jurusan untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut.”Terima kasih atas masukan kalian anak-anakku dan ini akan kami jadikan pertimbangan untuk yang lebih baik lagi,”ujarnya.

Massa aksi akhirnya membubarkan diri setelah sebelumnya rektor berjanji akan mencari jalan keluar untuk permasalahan tersebut.(cr-met)

BACA JUGA :  Diusir dari Kawasan HTI, Warga Sambelia Demo
Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Berita sebelumyaBPIH 2017 Diusulkan Rp 35,7 Juta
Berita berikutnyaTaekwondo Tiger Kids Mataram Boyong Medali