Lombok Tengah Dapat Bantuan 25 Homestay dari Pusat

Ilustrasi Homestay
Ilustrasi Homestay

PRAYA – Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mendapatkan bantuan 25 unit rumah khusus yang akan dikembangkan menjadi homstay. Bantuan tersebut disalurkan melalui dua kementerian yakni Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perumahan Rakyat.

Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Lombok Tengah H Lalu Muhammad Putria, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perumahan Rakyat untuk tahun 2018 ini mendapatkan bantuan rumah khusus dan akan dikembangkan menjadi homestay, untuk menunjang pariwisiata yang ada di Lombok Tengah yang kian hari kian berkembang tersebut. “Ada 25 homestay yang akan disuport pembangunanya oleh pusat dan akan kita gunakan di kawasan Kute. Namun karena saat ini lahanya masih belum jelas dari pemerintah pusat ini, maka kita harapkan bahwa lahan hendaknya ada kepastian apakah akan menggunakan tanah desa atau tanah pemda,” ungkap Putria, Jumat kemarin (6/4).

Lebih jauh disampaikan, bahwa bantuan berupa homestay tersebut untuk memperceoat pemenuhan kekurangan kamar yang ada di Lombok Tengah. Mengingat saat ini menurut Putria bahwa kamar yang tersedia sangat jauh jika dibandingkan dengan wisatawan yang datang. “Untuk kamar sejauh ini sangat kurang, untuk saat ini melalui Bandara Lombok Internasional Airport (LIA) saja adai 11 sampai 13 ribu yang datang wisatawan setip harinya. Sementara ketersediaan kamar kita hanya ada 1500. Hal itulah yang membuat banyak wisatawan yang hanya menikmati keindahan Lombok Tengah saja, sementara mereka menginap di luar Lombok Tengah seperti Mataram dan Lombok Barat,” jelasnya.

Pria yang dijuluki Raja Siledendeng tersebut mengaku, jika nantinya pemerintah pusat membebankan lahan untuk pembangunan homestay tersebut kepada pemda. Maka oleh Pemda sendiri sudah memiliki tiga alternatif. Seperti misalnya lahan yang berada di wilayah Rembitan pesona budaya, belakang kantor Desa Kuta. “Bisa tanah saya peribadi yang akan kita hibahkan kalau disetujui. Karena tanah saya ada di Kuta,” jelasnya.

Ia juga memastikan jika keberadaan homestay yang diberikan oleh pemerintah pusat tersebut bukan untuk menyaingi keberadaan KEK Mandalika. Karena memang penggunaan homstay tersebut untuk waktu cepat, sementara keberadaan KEK Mandalika perosesnya masih lama dalam melakukan pembangunan. “Pembangunan homestay ini dilakukan pada tahun 2018 ini jadi sudah jelas tidak akan menyaingi KEK Mandalika. Karena memang kita membutuhkan kamar yang bisa dengan cepat menampung wisatawan kita yang banyak berdatangan ini. Karena jangan sampai kita banyak dikunjungi oleh wisatawan sementara kita sendiri tidak mampu menyediakan mereka untuk tempat beristirahat,” jelasnya.

Diakuinya, kendati untuk anggaran pembiatan homstay tersebut masih belum jelas karena dari pemerintah pusat langsung. namun yang jelas anggaran yang akan digelontorkan tidak kurang dari Rp100 juta. “Bahkan untuk kedepan setelah 25 homstay ini dibangun, maka kita dari Pemda juga akan melakukan pembangunan homestay lainya,” jelasnya. (met)