Lestarikan Tradisi Membaca Naskah Kuno, Museum NTB Gelar Festival Pepaosan

PEPAOSAN: Para Seniman dan Budayawan se Pulau Lombok, bersilaturahmi di Museum Negeri NTB, untuk mengikuti kegiatan Festival Pepaosan, seni membaca naskah lontar, Sabtu (27/11). (sigitsetyo/radarlombok)

MATARAM—Tradisi literasi (menulis dan membaca) masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok, telah berkembang pesat sejak abad ke-9 Masehi, terutama di masa Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya naskah-naskah kuno yang ditemukan di Pulau Lombok. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Dari berbagai sumber, pada masa itu hubungan kebudayaan antara pulau-pulau Sunda Kecil, termasuk Pulau Lombok, dengan pusat kekuasaan di Trowulan (Majapahit), sudah terjalin erat. Bukti konkretnya adalah keberadaan naskah Negarakertagama yang mencatat perjalanan Raja Hayam Wuruk di beberapa tempat penting di sekitar wilayah kekuasaannya di Jawa Timur pada abad 14, ditemukan di Puri Cakranegara, Lombok.

Sejarah panjang keberadaan naskah-naskah kuno inilah yang kemudian mendasari pihak Museum Negeri NTB, untuk melestarikan tradisi literasi yang ada di Pulau Lombok, dengan menggelar “Festival Pepaosan Se Pulau Lombok”, Sabtu (27/11).

“Kalau sebelumnya kami menggelar Kelas Filologika, sebuah ilmu yang mempelajari tentang naskah-naskah kuno, dan juga Pameran Naskah Kuno. Maka kali ini kami kembali melaksanakan “Festival Pepaosan”, yaitu suatu tradisi membaca naskah kuno (Moco Pat kalau di Jawa), baik itu lontar maupun kertas, yang diikuti oleh para seniman dan budayawan se Pulau Lombok,” kata Kepala Museum NTB, Bunyamin, M.Hum, kepada Radar Lombok, kemarin.

NASKAH KUNO: Salah satu naskah kuno yang ditulis diatas daun lontar koleksi Museum NTB yang berisi tentang surat tanah atau pajak. (sigitsetyo/radarlombok)

Disadari Bunyamin, keberadaan naskah-naskah kuno di Museum Negeri NTB, yang berasal dari berbagai penjuru di Pulau Lombok, masih belum banyak masyarakat yang mengetahui artinya. “Padahal, dari berbagai sumber tertulis inilah kalau diketahui artinya, maka akan banyak hal yang dapat diketahui tentang daerah kita sendiri. Baik itu sejarah masa lalu masyarakat Pulau Lombok, maupun kehidupan sehari-hari warganya,” ujarnya.

BACA JUGA :  Pelajar dan Mahasiswa Antusias Kunjungi Pameran Museum Keliling

Selama ini sambungnya, kesulitan masyarakat untuk mengetahui arti dari naskah-naskah kuno ini lebih pada minimnya orang yang bisa membaca naskah yang tertulis di daun lontar maupun kertas. “Memang, rata-rata koleksi naskah kuno yang ada di Museum NTB, menggunakan huruf dan bahasa kawi (Jawa Kuno). Selain juga ada yang menggunakan huruf hijaiyah (Arab),” tutur Bunyamin.

Disampaikan Kepala Museum NTB, dari sebanyak 7.600 lebih koleksi benda-benda bersejarah yang ada di Museum Negeri NTB, tercatat ada sekitar 1.360 koleksi naskah kuno, baik dalam bentuk tulisan di atas daun lontar maupun kertas.

“Ketiga kegiatan yang digelar Museum NTB di tahun 2021, yakni Kelas Filologika, Pameran Naskah Kuno, dan Festival Pepaosan, tidak lain tujuannya adalah agar keberadaan tradisi kesusastraan masyarakat Pulau Lombok bisa terus lestari,” harap Bunyamin.

Karena khusus untuk naskah kuno ini tidak hanya dimiliki dan dikoleksi di Museum NTB saja, namun jauh lebih banyak naskah kuno yang berada di tangan atau disimpan oleh masyarakat sebagai benda atau pusaka warisan leluhurnya.

BACA JUGA :  Museum NTB Gelar Diskusi Pemetaan Segmen Pasar Museum

“Dengan masyarakat kita memiliki pengetahuan yang cukup terkait cara pemeliharaan, membaca, menulis, atau menerjemahkan naskah-naskah kuno, maka kesusastraan dalam wujud “Pepaosan” di Pulau Lombok ini akan terus lestari,” tandas Bunyamin.

Senada, salah satu Seniman dan Budayawan Lombok, H Lalu Agus Fathurrahman, menyampaikan bahwa tradisi seni membaca lontar, atau Pepaosan ini sangat penting bagi masyarakat Pulau Lombok. “Masyarakat Sasak Lombok mempunyai tradisi membaca naskah kuno atau Pepaosan pada acara-acara penting. Seperti acara kelahiran, khitanan, pernikahan, hingga acara kematian,” jelasnya.

Sayangnya, tradisi membaca lontar ini sekarang sudah jarang dilakukan di daerah perkotaan, namun masih dilaksanakan di pelosok-pelosok desa di Lombok saja. “Adanya kegiatan Festival Pepaosan di Museum NTB ini, selain berangkat dari keinginan untuk pelestarian naskah-naskah kuno. Lebih penting adalah menjalin silaturahmi antar penutur naskah kuno, yang rata-rata adalah generasi tua. Bagaimana cara membangkitkan kembali kecintaan masyarakat, khususnya generasi muda terhadap kesusastraan membaca lontar,” ujar Agus.

Tentu pihaknya juga berharap keterlibatan pemerintah daerah, agar lebih aktif lagi untuk membumikan naskah-naskah kuno kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan seni dan budaya. “Bahkan kalau memungkinkan bagaimana pengetahuan tentang naskah kuno ini dapat menjadi materi ajar kepada para murid, siswa, pelajar, atau mahasiswa di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi di Lombok,” harap Agus. (gt)