KISAH MEREKA YANG MENDAPAT HIDAYAH ISLAM: Akbar Swarjaya Ibrahim, Sering Lihat Tetangga Salat

Akbar Swarjaya Ibrahim
Akbar Swarjaya Ibrahim (Devi Handayani/RADAR LOMBOK)

Suatu ketika I Gede Arya Swarjaya yang kini bernama Akbar Swarjaya Ibrahim melihat tetangganya mengaji dan salat. Hatinya bergetar. Dari sini hidayah turun kepadanya.


DEVI HANDAYANI-LOMBOK BARAT


Lelaki berusia 21 tahun yang lahir di Desa Lingsar Kecamatan Narmada ini biasa dipanggil Akbar. Kepada Koran ini ia menceritakan bagaimana awal mula ia mengenal Islam. Sudah lama ia ingin bisa beribadah seperti cara orang Islam selama ini. “Ada santren (musala) di dekat rumah. Saya lihat banyak orang-orang kesana ngaji dan salat. Saya jadi mikir, kapan saya bisa kayak gitu,” kata Akbar yang ditemui di tempat kerjanya belum lama ini.

Saat itu hidupnya tengah gelap. Berbagai macam dosa dilakukannya baik yang dapat menimbulkan kerugian diri maupun orang-orang di sekitarnya.” Dulu bisa dibilang saya nakal sekali, semua saya kerjain, dari main judi, minum, sampai yang ndak-ndak baik. Bisa dibilang dunia hitam dah waktu itu,” katanya.

BACA JUGA: KISAH MEREKA YANG MENDAPAT HIDAYAH ISLAM: Christin, Beruntung Punya Orang Tua Demokratis

Bahkan ia saat itu tidak tinggal dengan orangtuanya. Akbar mengaku tidak begitu komunikatif dengan orang tuanya. Namun sering dengan berjalannya waktu, ia berpikir jika melakukan kesalahan di dunia hitam seperti itu, tujuan hidupnya tidak ada sama sekali. Ketika kondisi seperti itu, hidayah datang. “Saya pikir kalau saya begini terus mau jadi apa saya nantinya, dosa aja saya buat, akhirnya saya coba untuk berubah. Sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat, coba belajar salat dulu sama ngaji,” ceritanya.

Kemudian setelah dirasa mampu, Akbar memutuskan memeluk agama Islam yang dibantu oleh calon mertua yang kini sah jadi mertuanya. “Sebenarnya ada keluarga yang Islam juga, cuma nanti kalau waktu minta di-Islam-kan malah di tau orangtua, jadi di Islamkan sama calon mertua,” akunya.

Setelah memeluk Islam, ia tak tau harus tinggal dimana. Karena posisinya saat itu Akbar sudah tidak tinggal lagi dengan kedua orangtuanya. Sehingga sang calon mertua menampungnya, meskipun ia dan istrinya masih berstatus berpacaran.”Karena tidak enak sama omongan orang kampung akhirnya disuruh nikah. Mereka juga sudah merestui saya menikah,” ungkapnya.

BACA JUGA: Kisah Pilu Sumartini, TKW yang Lolos dari Hukuman Mati

Ia kini bertekad menjalani hidup dengan lurus di bawah sinar Islam. Ia bermimpi suatu saat bisa berhaji. Kini ia fokus memperdalam agama Islam. Sudah tercatat dua tahun ia menjadi muslim.

Akbar mengaku baru kedua orang tuanya yang ikhlas melihat ia masuk Islam. Keluarga yang lain masih belum menerima. “Orangtua juga sudah tau, mereka awalnya kaget aja. Cuma belakang ini sudah paham sama pilihan saya masuk Islam. Sebenarnya nenek dari ibu sama bapak itu orang Islam semua. Jadi ibu bapak ndak terlalu permasalahin lagi,” ujarnya.

Ia kini bekerja sebagai salah satu karyawan di salah satu perusahaan finance. Pada malam hari ia bekerja sebagai penjaga kantor balai perikanan di wilayah Gomong Mataram. Bulan puasa ini dimanfaatkannya untuk lebih memantapkan iman. Sehingga nantinya dapat membimbing istri dan anaknya.”Sekarang mau mencoba lebih perdalam lagi ajaran Islam, karena semenjak nikah ini justru jadi semakin taat ibadah dibandingkan sebelum nikah,” ungkapnya.(*)