Keunikan Tradisi Rowah Adat Makam Peraba

lombok
ARAK-ARAKAN : Sebelum prosesi utama Rowah Makam Adat Peraba, masyarakat akan mengarak keliling kampung berbagai perlengkapan menumbuk padi tradisional dan aneka hasil bumi. (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

SETIAP desa di Pulau Lombok, pasti memiliki ciri khas dan keunikan sendiri. Seperti Desa Wisata Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat ini misalnya, yang masing-masing pedusunan di wilayahnya memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri. Seperti Dusun Batu Mekar, dikenal para wisatawan sebagai pusat kerajinan Ketak, yang bahkan telah di ekspor ke berbagai belahan dunia.

Kemudian satu Pedusunan lagi di Desa Batu Mekar yang tidak kalah menariknya adalah Dusun Punikan, yang dikenal memiliki keunikan tradisi dan budayanya. Salah satu tradisi yang hingga kini masih terus dilaksanakan setiap tahun, yaitu tradisi Rowah Adat Makam Peraba, yang di gelar masyarakat Dusun Punikan untuk merayakan tahun baru Islam 1 Muharram. 

Menurut Syaiful Karyadi, tokoh masyarakat setempat, pelaksanaan Rowah Makam Adat Peraba merupakan salah satu bentuk pelestarian tradisi leluhur paling menonjol yang dilakukan oleh Komunitas Adat Makam Peraba yang ada di Dusun Punikan. Upacara adat ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah Tuhan yang telah memberikan hasil bumi berlimpah, yang menghidupi mereka sepanjang tahun.

“Selain bentuk rasa syukur, juga dimaksudkan sebagai ritual untuk menyambut tahun baru Islam 1 Muharram, dengan doa semoga pada tahun mendatang desa kami selalu diberikan berkah, keselamatan dan perlindungan,” harap Syaiful.

Dikatakan, sebelum pelaksanaan Rowah Adat Makam Peraba, sejak tiga hari sebelumnya di masyarakat telah terjadi kesibukan. Mereka bergotong royong, mulai dari bersih desa, dan membuat Tetaring, atau merangkai atap yang terbuat dari anyaman daun kelapa, baik dipasang di rumah Tetua Adat Dusun Punikan, maupun di Makam Peraba, yang terletak sekitar 7 kilometer dari Dusun Punikan, tepatnya di bawah kaki Gunung Punikan.

Prosesi acaranya sendiri di mulai dengan melakukan Pesuci, yakni mengarak keliling desa berbagai perlengkapan upacara seperti Rampak, sebuah wadah berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 2 meter yang terbuat dari kulit sapi untuk menumbuk padi. Kemudian Anaq Alu atau alat penumbuk padi yang terbuat dari kayu, berbagai hasil bumi seperti padi, jagung, dan lainnya, untuk kemudian menuju pinggiran sungai dusun setempat, dengan diiringi alunan kesenian Gendang Beleq.

“Pesuci atau upacara menumbuk padi untuk menjadi beras ini dilakukan di pinggiran sungai. Karena kulit padi tidak boleh terinjak oleh kaki manusia, dan bisa langsung hanyut di sungai. Selain itu, yang menumbuk padi juga harus kaum wanita yang suci, atau sedang tidak haid,” jelas Syaiful.


MENAMPI. Padi yang sudah di tumbuk di pinggiran sungai, agar kulitnya tidak terinjak kaki di tampi di pinggiran sungai, sehingga kulitnya bisa langsung hanyut. 
 

Setelah mendapatkan beras yang cukup, selanjutnya warga kembali ke rumah Tetua Adat untuk kegiatan Melesung atau menumbuk beras untuk dijadikan tepung, yang nantinya dipakai membuat aneka kue tradisional untuk mengisi Dulang.

Lebih lanjut dikatakan Syaiful, upacara Rowah Adat Makam Peraba ini sebenarnya sudah dilaksanakan warga Komunitas Adat Makam Peraba di Dusun Punikan Utara, Dusun Punikan Selatan, Dusun Peraba, dan Kali Ranget, sejak abad 13 Masehi. “Hanya saja, pelaksanaannya sempat terhenti lama. Baru sekitar tahun 2002 dihidupkan kembali oleh masyarakat, untuk menggali akar budaya dan melestarikan warisan nenek moyang,” jelas Syaiful.


MELESUNG : Proses menumbuk padi atau melesung dilakukan kaum perempuan di pinggiran sungai, karena kulit padi diyakini masyarakat tidak boleh terinjak kaki, sehingga usai di tumbuk bisa langsung hanyaut d sungai.

 

“Setiap tahun, tepatnya setiap penanggalan Islam menunjukkan tanggal 1 Muharram, tanpa diundang ratusan orang yang mengaku sebagai keturunan dari Komunitas Adat Makam Peraba pasti berdatangan ke Makam Peraba untuk ikut terlibat dalam upacara ini. Maknanya, ritual ini sekaligus sebagai ajang silaturahmi,” ucap Syaiful.

Kembali ke acara, setelah beras di tumbuk menjadi tepung, dan tepung di olah menjadi aneka macam kue yang kemudian diletakkan di atas Dulang Pesaji. Kemudian dengan diiringi kesenian Gendang Beleq masyarakat ramai-ramai membawanya ke Makam Peraba di tengah hutan Punikan pada 1 Muharram untuk Rowah, atau selamatan. “Usai berdoa, makanan dan minuman kemudian di santap bersama oleh warga yang hadir. Selain itu ada juga yang di bawa pulang untuk di makan bersama keluarga,” pungkas Syaiful. (gt)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid