Kerugian Akibat Gempa Tembus Rp 5 Triliun, Lima Masih Tertimbun, Ratusan Pengungsi Sakit

Kerugian Akibat Gempa Tembus Rp 5 Triliun
SAKIT: Para pengungsi mulai banyak yang sakit karena lingkungan tidak bersih. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana gempa diperkirakan tidak akan mencapai 500 orang. Mengingat saat ini hanya tinggal 5 orang korban meninggal dunia yang belum bisa dievakuasi.

BACA JUGA: Gempa Lombok, 455 Orang Tercatat Meninggal Dunia

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, H Muhammad Rum, jumlah korban meninggal hingga saat ini totalnya mencapai 456 orang. Sebanyak 436 korban akibat gempa tanggal 5 dan 9 Agustus. Sedangkan sisanya akibat gempa tanggal 29 Juli lalu. “Jumlah korban meninggal, insya Allah tidak akan sampai 500 orang,” terangnya saat berada di media center posko utama Tanjung, Senin kemarin (13/8).

Melihat jumlah korban yang belum dievakuasi tidak banyak, Rum berharap korban meninggal dunia tidak lagi bertambah signifikan. Terutama yang mengalami luka parah di rumah sakit. 

Jumlah korban yang dirujuk ke rumah sakit cukup banyak. Namun telah tertangani dengan baik oleh tim medis. “Mudah- mudahan yang sakit parah di rumah sakit bisa tertolong. Kalau yang belum dievakuasi tinggal 5 orang,” ucapnya.

Korban yang belum dievakuasi, berada di Desa Rempek kecamatan Gangga. Kemudian ada juga di Dompu Indah, Kayangan. Hal itu berdasarkan laporan dari pihak keluarga ke Basarnas. Sebenarnya, korban di Rempek telah diikhlaskan oleh pihak keluarga. Karena kondisi lapangan sangat tidak memungkinkan untuk dilakukan evakuasi. “Sudah diikhlaskan oleh keluarganya. Itu korban tertimbun longsor akibat gempa. Kalau dipaksa dilakukan evakuasi, petugas Basarnas terancam. Dikhawatirkan, karena memang sangat sulit. Tapi kita tetap coba upayakan,” katanya.

Jumlah korban meninggal dunia di Kabupaten Lombok Utara (KLU), totalnya tercatat sebanyak 374 orang. Kemudian jumlah pengungsi 137.182 jiwa, rumah rusak 17.874 unit, 640 orang luka-luka dan 206 orang fasumnya rusak. “Ditambah 5 orang korban gempa 29 Juli,” sebut Rum.

Selanjutnya di Lombok Barat, jumlah korban meninggal dunia 37 orang. Korban mengungsi 118.818 jiwa, rumah rusak 23.626 unit, 399 orang luka-luka dan 35 fasilitas umum rusak. Selanjutnya di Lombok Timur ada 12 orang meninggal dunia. Kemudian 78.368 orang mengungsi, 5.791 rumah rusak, 142 orang luka- luka dan 58 orang fasum rusak. “Gempa sebelumnya, ada 15 korban meninggal dunia di Lotim,” imbuh Rum.

Selanjutnya di kota Mataram ada 9 korban meninggal dunia. Sebanyak 18.368 orang mengungsi, 682 unit rumah rusak, 152 orang luka- luka dan 99 fasilitas umum rusak. Terakhir di Lombok Tengah hanya 2 orang meninggal dunia. Sejumlah 4.181 unit rumah rusak, 20 orang luka-luka dan 42 fasilitas umum rusak. “Untuk pengungsi di Loteng belum masuk data,” kata Rum.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan roboh saat gempa. “Jumlah pengungsi sering berubah. Hal ini disebabkan banyak pengungsi pada siang hari kembali ke rumahnya atau bekerja di kebunnya. Pada malam hari mereka kembali ke pengungsian. Ada juga pengungsi yang sudah kembali ke rumahnya masing-masing,” terang Sutopo.

BACA JUGA: Jokowi Minta Rumah Tahan Gempa

Evakuasi korban yang tertimbun bangungan runtuh dan longsor masih dilakukan oleh Tim SAR gabungan. Distribusi bantuan logistik ke pengungsi juga terus dilanjutkan ke seluruh pelosok daerah yang terdampak gempa. “Kendala yang dihadapi dalam distribusi logistik adalah banyaknya akses jalan yang rusak. Minimnya transportasi bantuan logistik untuk disalurkan ke pengungsi yang berada di perbukitan, karena jalur tersebut sempit dan banyak kendaraan lalu lalang,” katanya.

Disampaikan juga, dampak kerugian ekonomi akibat gempa sangat besar. Kedeputian Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB terus melakukan perhitungan. Hasil sementara hitung cepat kerusakan dan kerugian telah mencapai lebih dari Rp 5,04 triliun. Nilai kerugian tersebut masih sementara. Sutopo memastikan jumlahnya akan terus bertambah. “Itu kerugian yang sudah bisa dihitung sementara, lebih dari Rp 5 triliun,” ucapnya.

Kerusakan dan kerugian tersebut berasal dari sektor permukiman senilai Rp 3,82 triliun. Kemudian sektor infrastruktur Rp 7,5 miliar, ekonomi produktif Rp 432,7 miliar, sosial budaya Rp 716,5 miliar dan lintas sektor Rp 61,9 miliar. “Kerusakan dan kerugian terbanyak adalah sektor permukiman,” sebut Sutopo.

Secara wilayah, kerusakan dan kerugian akibat gempa di NTB paling banyak di Kabupaten Lombok Utara mencapai lebih dari Rp 2,7 triliun. Sedangkan di Kabupaten Lombok Barat mencapai Rp 1,5 triliun, Lombok Timur Rp 417,3 miliar, Lombok Tengah Rp 174,4 miliar dan Kota Mataram Rp 242,1 miliar.

Ditegaskan, kerusakan dan kerugian ini sangat besar. Apalagi jika nanti data sudah terkumpul semua, maka jumlahnya akan lebih besar. “Perlu triliunan rupiah untuk melakukan perbaikan kembali dalam rehabilitasi dan rekonstruksi. Perlu waktu untuk memulihan masyarakat dan pembangunan ekonomi di wilayah NTB,” tutupnya.

Terpisah, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mataram, Agus Riyanto mengungkapkan, hingga Senin malam, telah terjadi lebih dari 600 gempa susulan. Gempa cukup besar terjadi dengan kekuatan 4,3 skala richter pukul 09.42 Wita, Senin. “Tetap waspadai gempa susulan. Tapi jangan cepat percaya dengan hoaks,” imbuhnya.

Di sisi lain, jumlah pengungsi mencapai ratusan ribu. Banyak kekurangan yang dialami mengakibatkan ratusan orang di pengungsian menderita sakit. Hal itu terungkap saat Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Provinsi NTB, Marjito memberikan keterangan di Media Center Posko Utama, Lapangan Tanjung, Senin, (13/8). “Penyakit-penyakit yang kita khawatirkan sekarang sudah muncul,” ungkap Marjito.

BACA JUGA: Cerita Pilu Dari Korban Gempa, Ibu Meregang Nyawa demi Selamatkan Anak

Data Dikes, beberapa penyakit telah dialami pengungsi. Di antaranya penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebanyak 74 kasus, diare akut 49 kasus, penyakit kulit, influenza, demam dan lain sebagainya. Penyakit tersebut muncul akibat lingkungan kurang bersih. Apalagi kondisi pengungsian belum representatif. “Kekurangan kami, tentu keterbatasan tenaga. Karena jumlah pengungsi ratusan ribu. Tapi semua pengungsi diupayakan terlayani,” katanya.

Lingkungan yang tidak baik, disebabkan banyak hal. Misalnya air bersih yang masih sulit. Belum lagi pengungsi kekurangan tempat mandi, cuci dan kakus (MCK). Para pengungsi, untuk buang air besar (BAB) lebih memilih di sawah atau tempat lain. Mengingat, jumlah MCK sangat terbatas. “Soal kekurangan MCK bukan tanggung jawab kami di kesehatan. Tapi tanggung jawab PUPR. Katanya akan dibuatkan MCK,” ucap Marjito.

Untuk meminimalisir pengungsi sakit, tenaga kesehatan juga memberikan penyuluhan. Pengungsi harus disadarkan agar menjaga kebersihan lingkungan, dan tidak membuang kotoran sembarangan. Penanganan pengungsi, dilakukan dengan membentuk pos klaster kesehatan. Ada 8 pos besar yang telah dibangun. “Untuk rumah sakit rujukan, kita sudah tetapkan RSUP, RSUD kota, Bayangkara, TNI, Risa, RSI, dan lain-lain,” terangnya.

Sejauh ini, jumlah tenaga kesehatan yang diterjunkan sebanyak 1.004 orang. Terdiri dari 121 tenaga spesialis, 208 dokter umum, 200 lebih perawat, bidan 38 orang, nonmedis 268 orang dan lainlain. Marjito memastikan jumlah obatobatan masih cukup. Sebanyak 3,5 ton obat telah didistribusikan di Lombok Utara, Lombok Barat maupun Lombok Timur. “Ada 3,5 ton obat sudah didrop. Ambulans yang beroperasi 24 unit,” sebutnya.

Tenaga kesehatan juga dibantu relawan dari lembaga-lembaga kesehatan. Mengingat pengungsi rentan mengalami penyakit. “Kami juga pikirkan pascagempa. Karena ketersediaan air bersih masih kurang. Ini akan jadi masalah baru nantinya,” ungkap Marjito.

Saat ini, telah ada 1.597 orang yang dirujuk ke rumah sakit. Sebanyak 308 orang telah dilakukan operasi. “Kalau yang melahirkan, itu di pengungsian. Semua selamat, ada 11 orang di Sembalun dan ada 3 orang di tempat lain,” paparnya.

BACA JUGA: 581 Sekolah Rusak Akibat Gempa Lombok

Terkait dengan fasilitas kesehatan yang rusak, Marjito memastikan penanganannya terjamin. Sebanyak 8 puskesmas dan rumah sakit akan dianggarkan oleh Kementerian Kesehatan tahun 2019 mendatang. “Bangunannya yang anti gempa. Pusat nanti langsung yang urus, kita hanya terima,” katanya. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut