Cerita Pilu Dari Korban Gempa, Ibu Meregang Nyawa demi Selamatkan Anak

Cerita Pilu Dari Korban Gempa
BERI BANTUAN : Senator DPD RI dapil NTB, Hj Robiatul Adawiyah ketika mengunjungi Kiki, anak usia 8 tahun selamat dari reruntuhan bangunan rumah tempat tinggalnya. Namun, Kiki harus kehilangan sang ibu dan sekarang Kiki tinggal di tenda pengungsian di Desa Dopang, Gunung Sari, Lobar. (AHMAD YANI/RADAR LOMBOK)

Bencana alam gempa yang mengguncang Lombok dan sekitarnya banyak menyisakkan duka mendalam bagi korban gempa. Banyak cerita pilu dari para korban gempa atas peristiwa dialaminya.


*AHMAD YANI – LOMBOK BARAT*


KENGERIAN dan kerusakan ditimbulkan dari gempa bumi mengguncang Lombok dan sekitarnya tak terperihkan. Ratusan orang harus meregang nyawa. Rumah, tempat usaha, sekolah, kantor pemerintahan, dan berbagai insfrastruktur lainnya mengalami rusak parah.

BACA JUGA: Cerita Korban Selamat Tertimpa Runtuhan Masjid Jabbal Nur Lading-Lading

Banyak anak jadi yatim piatu. Istri jadi janda. Suami jadi duda. Orang tua kehilangan anak dan kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Tak terbayangkan, kesedihan, kenestapaan dan getir dirasakan korban gempa. Semua campur aduk jadi satu.

Kiki, salah satu anak selamat dari amukan gempa. Namun, kiki harus menjadi piatu lantaran sang ibu turut menjadi korban meninggal dunia. Dan sang ayah selamat, karena saat gempa kekuatan 7,0 SR, Minggu malam (5/8) sedang tidak berada di rumah.

Tatapan kiki kosong melewati peristiwa dahsyat dalam hidupanya. Peristiwa merenggut nyawa sang ibu. Kengerian tidak terlupakan bagi diri, keluarga dan sekitar lingkungannya. Balutan perban tampak di kaki dan pinggang anak usia 8 tahun itu. 

Dia baru keluar sehari dari RS Provinsi NTB, sesudah menjalani perawatan. Kiki pun harus jalani operasi patah pulang, akibat reruntuhan bangunan rumahnya di Dusun Dopang Taliwang Desa Dopang Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat.

Rumah nyaris rata dengan tanah. Rumah dan bangunan warga di Desa Dopang, Gunung Sari, nyaris hancur dan rusak parah. “Alhamdullilah, Kiki salah satu selamat dari reruntuhan bangunan rumah kami,” tutur sang ayah, Ridwan.

Banyak warga dikampungnya tidak seberuntung Kiki. Mereka menjadi korban. Sang ibu menjadi korban salah satu meninggal dunia. Kasih sayang ibu sepanjang hayat. Demi kiki, sang ibu rela mengorbankan nyawanya. Saat gempa dahsyat itu terjadi. Kiki dan sang ibu berada di dalam rumah. Kiki dalam kondisi tertidur. Tiba-tiba bumi bergetar dengan keras.

Bangunan rumahnya seketika itu langsung ambruk. Kiki dan ibu tidak sempat menyelamatkan diri. Namun Kiki beruntung. Tubuh Kiki dipeluk dan dekap sang ibu. Tubuh pun terlindungan dari reruntuhan bangunan rumahnya. Namun, reruntuhan bangunan langsung menimpa sang ibu. Sang ibu seketika meninggal dunia tertimpa reruntuhan. “Kiki selamat karena tertindih tubuh ibunya,” tuturnya.

Kiki pun mengalami luka cukup serius. Dia mengalami patah tulang di kaki dan pinggangnya dan harus menjalani operasi. Saat ini, Kiki dan Ridwan sang ayah harus tinggal di tenda pengungsian. Lantaran rumah tempa tinggal mereka sudah rata dengan tanah.

Ridwan berharap, pemerintah bisa membantu mereka untuk membangun kembali tempat tinggalnya. Mereka sudah tidak memiliki uang untuk bisa kembali membangun rumahnya. Dia dan warga korban gempa lain secepatnya ingin menjalani kehidupan secara normal. ‘’Kami minta pemerintah bisa bantu kami membangun rumah,” ucapnya.

Selain Kiki, Inaq Riadah juga salah satu korban selamat. Meski perempuan usia 50 tahun tersebut tertimbun reruntuhan bangunan rumah tempatnya. Namun, nyawa bisa diselamatkan. Saat gempa terjadi, Inaq Riadah baru usai salat Isya. Tiba-tiba bumi berguncang sangat hebat. Belum sempat keluar rumah menyelamatkan diri, reruntuhan bangunan menimpanya.

BACA JUGA: Kisah Korban Selamat Tertimpa Reruntuhan Gempa Bumi 7.0 Skala Richter

Seketika itu dia pingsan. Beruntung, dia berhasil ditolong dan dibawa keluar rumah oleh tetangganya. Ia sempat menjalani perawatan dan dioperasi patah tulang. Dan saat ini dirinya bersama warga lainnya tinggal di pengungsian. Tak mudah bagi dirinya menjalani kehidupan di pengungsian. Meski dengan kondisi masih sakit, ia harus tinggal berdesak-desakan dengan warga lain di pengungsian.

Berbagai kesulitan pun dialami tinggal dipengungsian. Mulai kekurangan air bersih, kekurangan makanan, kedinginan dan berbagai kesulitan lainnya. Ia berharap, pemerintah bisa memberikan perhatian bagi mereka korban gempa. Terutama perempuan dan anak. Dia pun sudah tidak memiliki harta benda karena sudah hancur. “ sekarang kami bisa lakukan adalah berharap bantuan pemerintah,” pungkasnya. (**)