Gempa Lombok, 455 Orang Tercatat Meninggal Dunia

gempa lombok
EVAKUASI: Tim Basarnas sedang mencari korban gempa yang tertimbun bangunan masjid. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Innalillahi wainna ilaihirajiun. Tepat 2 minggu pascagempa bumi yang terjadi di pulau Lombok sejak tanggal 29 Juli lalu, tercatat sebanyak 455 orang meninggal dunia.

Bencana gempa 6,4 skala richter (SR) diawali tanggal 29 Juli 2018. Sebanyak 20 orang dilaporkan meninggal dunia. Banyak orang luka-luka dan rumah hancur. Terutama di wilayah Sambelia dan Sembalun Kabupaten Lombok Timur, yang menelan 15 korban jiwa. Kemudian di Kabupaten Lombok Utara (KLU), tercatat 5 orang meninggal dunia. Gempa lebih dahsyat kembali menerjang pulau Lombok dengan kekuatan 7,0 skala richter pada tanggal 5 Agustus. Selanjutnya, gempa susulan 5,9 SR pada tanggal 9 Agustus juga merenggut korban jiwa.

BACA JUGA: 581 Sekolah Rusak Akibat Gempa Lombok

“Jadi, untuk korban tanggal 29 Juli tetap terhitung 20 orang. Gempa 5 dan 9 Agustus sebanyak 435 orang meninggal dunia. Totalnya 455 orang,” ungkap Wakil Komandan Satuan Tugas (Wadan Satgas) Darurat Bencana, H Mohammad Rum yang juga Kepala Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, Minggu (12/8).

Untuk korban meninggal dunia akibat gempa 7 SR dan 5,9 SR, di Kabupaten Lombok Utara tercatat sebanyak 374 orang, Lombok Barat 38 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Timur 12 orang dan Lombok Tengah 2 orang. Sebagian besar korban meninggal dunia akibat tertimpa bangunan roboh saat gempa. 

“Kita terus lakukan evakuasi, salurkan bantuan, dirikan rumah sakit di lapangan. Tapi kita memang kekurangan peralatan dan logistik untuk hancurkan beton,” kata Rum.

Disampaikan Rum, untuk para pengungsi, saat ini sangat membutuhkan air bersih, terpal, tenda, sembako dan lain-lain. Pihaknya terus berupaya melakukan yang terbaik di tengah berbagai keterbatasan. Kendala yang dialami, bukan hanya kekurangan peralatan saja. Jumlah personel berkualifikasi teknik juga terbatas. Belum lagi jaringan listrik dan telepon tidak semuanya hidup. “Akses jalan juga banyak terputus akibat longsor,” sebut Rum.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menambahkan, hingga saat ini tercatat ada korban luka-luka sebanyak 1.353 orang. Terdiri dari 783 orang luka berat dan 570 orang luka ringan. “Korban luka-luka terparah di Lombok Utara sebanyak 640 orang,” sebutnya.

Sementara itu, BNPB mencatat jumlah pengungsi saat ini sebanyak 387.067 orang. Lokasinya tersebar di ribuan titik sepulau Lombok. Jumlah pengungsi di Lombok Utara sebanyak 198.846 orang, Lombok Barat 91.372 orang, Kota Mataram 20.343 orang, dan Lombok Timur 76.506 orang.

BACA JUGA: Keputusan Presiden Mengecewakan

Selanjutnya untuk kerusakan fisik, telah terdata sebanyak 67.875 unit rumah rusak, 606 sekolah rusak, 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 35 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit musala rusak, dan 20 unit perkantoran rusak. Pendataan dan verifikasi masih dilakukan petugas. Pendataan dan verifikasi rumah diprioritaskan agar terdata jumlah kerusakan rumah dengan nama pemilik dan alamat untuk selanjutnya dimasukkan dalam surat keputusan (SK) bupati/ wali kota. “Diserahkan ke BNPB untuk selanjutnya korban menerima bantuan stimulus perbaikan rumah,” kata Sutopo.

Disampaikan juga, bantuan logistik terus didistribusikan kepada pengungsi. Jumlah bantuan cukup banyak dari seluruh masyarakat Indonesia. Namun yang menjadi persoalan, terbatasnya jumlah kendaraan untuk mengangkut penyaluran logistik tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan guna mempercepat distribusi bantuan. Hal itulah yang saat ini dicarikan solusi.

“Kepala BNPB sudah menyampaikan kekurangan kendaraan untuk mendistribusikan bantuan kepada Menteri Perhubungan, dan akan dibantu menggunakan kendaraan Damri,” terangnya.

Sebanyak 300 unit tenda pengungsi dari BNPB telah dibagikan. Begitu juga bantuan dari berbagai pihak. Namun belum semua pengungsi memperoleh tenda. “Ketersediaan beras, sembako dan kebutuhan dasar untuk pengungsi yang harus tersedia. Karena kita perkirakan pengungsi masih lama di pengungsian,” ucapnya.

Di sektor pendidikan, dari 606 satuan pendidikan terdampak akibat gempa, terdapat 3.051 ruang kelas rusak. Sebanyak 1.46 ruang kelas rusak berat, 671 ruang kelas rusak sedang, dan 834 ruang kelas rusak ringan. Untuk menyelenggarakan sekolah darurat, diperlukan 319 unit tenda. Sejauh ini, 21 tenda sudah terpasang dan masih kekurangan 298 unit tenda. “Kemendikbud yang akan bantu untuk sekolah yang rusak. Total rencana bantuan dari Kemendikbud Rp 229.248.159.000,” ungkap Sutopo.

BACA JUGA: Pendakian Rinjani akan Diperketat

Hingga saat ini, gempa susulan masih sering terjadi. Tercatat telah ada 576 gempa susulan hingga pukul 16.00 Wita, kemarin. “Diperkirakan gempa susulan ini masih akan terjadi hingga 4 minggu ke depan,” tutup Sutopo. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut