581 Sekolah Rusak Akibat Gempa Lombok

Gempa Lombok
Gempa Lombok

MATARAM – Selain korban jiwa sudah mencapai ratusan orang, Gempa bumi mengguncang Lombok sudah merusak insfrastruktur pendidikan. Tercatat, hingga per 11 Agustus bangunan sekolah rusak capai 581 unit sekolah tersebar di semua kabupaten/kota di Pulau Lombok.

“ Ada 581 bangunan sekolah di semua jenjang pendidikan mengalami kerusakan, “kata Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) NTB, Minhajul Ngabalin, kepada Radar Lombok, Sabtu kemarin (11/8).

BACA JUGA: Pendakian Rinjani akan Diperketat

Ia merinci kerusakan bangunan sekolah disetiap jenjang pendidikan, diantaranya, PAUD 69 unit, SD 341 unit, SLB 6 unit, SMP 92 unit, dan SMA 48 unit. Dengan sebaran kerusakan bangunan sekolah di masing – masing kabupaten/kota, Lombok Utara terbanyak 169 unit , Lombok Barat sebanyak 133 unit, Lombok Timur 75 unit dan Kota Mataram 77 unit sekolah. Dengan kerusakan ruang kelas terparah (kategori berat) sebanyak 1563, rusak sedang 616, dan rusak ringan 775. “Total ruang kelas terdampak gempa capai 2.594” sebutnya.

Ia menyatakan, Kemendikbud telah mengaktivasi POS Pendidikan dan melakukan upaya tanggap darurat bidang pendidikan, yaitu penilaian dampak kerusakan, kerugian, gangguan akses dan gangguan fungsi layanan pendidikan. Pengkajian dan pemenuhan kebutuhan sekolah darurat, 22 tenda sudah terpasang di Lombok Utara dan Lombok Timur 36 tenda sudah di NTB tinggal dipasang dan 8 sedang didistribusi dari Jakarta. Dengan demikian total sudah ada 61 tenda diturunkan ke lapangan untuk sekolah darurat.

Namun terpenting lagi, adalah penanganan psikologis anak dan kampanye kembali belajar di sekolah (darurat) dan pendistribusian bantuan belajar siswa. Selanjunya untuk kebutuhan mendesak adalah dukungan psikososial, pendirian tenda kelas darurat, perlengkapan belajar siswa dan bantuan-bantuan layanan.

Ia menambahkan, Pemprov NTB sudah mengeluarkan surat edaran untuk masuk sekolah tertanggal 10 Agustus. Akan tetapi, mengingat kondisi psikososial siswa dan guru masih terganggu, jadi tidak bisa terlaksana. Akhirnya, Pemprov NTB kembali mengeluarkan kebijakan siswa masuk sekolah mulai hari ini, (Senin (13/8).

Ia pun mengungkapkan, Kemendikbud akan menggulirkan bantuan untuk penanganan pasca bencana gempa di Lombok, sebesar Rp 226 miliar lebih. Bantuan ini diharapkan dapat segera digunakan untuk rehabilitasi fasilitas pendidikan dan situs cagar budaya yang terdampak gempa.

Selain itu, Kemendikbud akan menyiapkan beasiswa berupa bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) khusus bencana, beasiswa perguruan tinggi bagi siswa yang orang tuanya menjadi korban meninggal dunia. Kemendikbud juga memberikan perhatian bagi guru menjadi korban. Kemendikbud akan memberikan tunjangan khusus dan bantuan konseling bagi guru korban gempa. Dengan adanya beasiwa ini, Kemendikbud ingin pastikan pendidikan mereka tetap berlanjut, meski orangtua meninggal akibat gempa.

BACA JUGA: Masyarakat Keluhkan Kenaikan Harga Terpal dan Air Mineral

Menurutnya, saat ini pos pendidikan tengah fokus pada penanganan psikososial anak, tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan, pendirian ruang kelas tenda sementara, serta kampanye kembali belajar di sekolah. Saat ini Pos Pendidikan telah menyalurkan 63 paket sekolah, 60 paket rekreasi, 10 paket alat permainan edukatif (APE) untuk PAUD, paket buku cerita dan Al Quran, serta 1.000 paket seragam sekolah.

Kemendikbud bekerja sama dengan berbagai pihak dalam upaya penanganan pascabencana, khususnya psikososial. Di antaranya Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Wahana Visi Indonesia, Plan International, Dompet Dhuafa, dan Kompak. Tim juga didukung Guru Garis Depan (GGD) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hamzanwadi. “Program trauma healing bagi siswa korban pun sudah mulai kita lakukan” lugasnya.

Ketua PGRI NTB, Ali Rahim, memberikan apresiasi terhadap Kemendikbud dalam memberikan perhatian bagi guru jadi korban gempa. Dengan ada bantuan itu, diharapkan beban pendidik bisa terkurangi sebagai dampak gempa dialaminya. PGRI NTB pun koordinasi PGRI pusat dan daerah lainnya untuk menggalang bantuan bagi guru jadi korban gempa. “Tentunya kita juga terus beri dukungan baik materi dan moril kepada rekan sesama guru jadi korban” tutupnya.(yan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut